<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051</id><updated>2011-12-28T21:15:05.792+07:00</updated><category term='Community Development'/><category term='Metode Analysis'/><category term='Islam'/><category term='Pendidikan'/><category term='Motivasi'/><category term='Bebas'/><category term='manajemen'/><category term='Keluarga'/><category term='Sistem Informasi'/><title type='text'>Science for Humanity</title><subtitle type='html'>An Effort to Humanize Human</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-2552723599170099805</id><published>2009-07-18T22:26:00.000+07:00</published><updated>2009-07-14T18:25:58.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Artikel Pilihan DickyRahardi.Com</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(35, 142, 35); font-family: Comic Sans Ms; font-size: 180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RfiyR4BoyBI/AAAAAAAAAH4/mBsomJ0ZtK0/s1600-h/kasihsayang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RfiyR4BoyBI/AAAAAAAAAH4/mBsomJ0ZtK0/s400/kasihsayang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041975803008043026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Mendidik Anak Dengan Sistem Barter,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; Pendidikan anak adalah hal yang tidak boleh terlewati dalam agenda keluarga. Di dunia komputer, pendidikan dapat diibaratkan seperti software di dalam hardware. Tanpa dilengkapi software yang handal, sebuah komputer keluaran paling baru dengan perangkat yang canggih hanya akan menjadi hiasan tanpa fungsi. Ketika Anda membeli seperangkat Laptop baru, apakah yang akan Anda kerjakan jika Laptop tersebut tidak dielngkapi software ? Pendidikan adalah hal yang sangat vital, bahkan pendidikan ini adalah bagian dari proses memanusiakan manusia. Pendidikan anak bukan hanya disekolah saja, tetapi dirumah d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;an di masyarakat sekitar kita. Sebagai orangtua hanya berusaha membangun fondasi yang kuat untuk mereka termasuk mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita. Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/03/mendidik-anak-dengan-sistem-barter.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/03/mendidik-anak-dengan-sistem-barter.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SEa3xSCRnoI/AAAAAAAAAhE/5mGndPaiwxU/s1600-h/distributed.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 53px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SEa3xSCRnoI/AAAAAAAAAhE/5mGndPaiwxU/s320/distributed.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208052076383411842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Implementasi Sistem Database Terdistribusi Pada MySQL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Secara definisi replikasi memiliki pengertian sebagai suatu proses mencopy atau mentransfer data dari suatu database ke database lain yang tersimpan pada komputer berbeda. Bila menilik artikel yang saya tulis sebelumnya tentang Pengenalan Arsitektur Database, replikasi dapat difahami sebagai proses pengkopian dan pengelolaan objek-objek dari database yang membentuk suatu sistem database terdistribusi (Distributed Database). Pada umumnya MySQL dipergunakan secara massal sebagai Database yang cukup handal dalam menangani sistem database terpusat, seperti kebanyakan sistem database yang digunakan untuk web site, content management system, dan lain-lain. Bahkan banyak penyedia layanan hosting hampir seluruhnya menyertakan produk MySQL di dalam....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/implementasi-database-terdistribusi.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RfiyR4BoyBI/AAAAAAAAAH4/mBsomJ0ZtK0/s1600-h/kasihsayang.jpg"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;   &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwr9fMYI/AAAAAAAAAGI/eEWy8DmeE-I/s1600-h/rm05.JPG" target="_blank" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 99px; height: 74px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwr9fMYI/AAAAAAAAAGI/eEWy8DmeE-I/s400/rm05.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Metode Peramalan Bisnis Dan Upaya Memperoleh Akurasi Yang Lebih Baik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Metode peramalan merupakan bagian dari ilmu statistika. Salah satu metode peramalan adalah deret waktu. Metode ini disebut sebagai metode peramalan deret waktu karena memiliki karakteristik bahwa data yang dianalisis bersifat deret waktu. Periode waktu dari data deret waktu dapat berupa tahunan, mingguan, bulanan, semester, kuartal dan lain-lain. Pola dasar dari data deret waktu dapat berupa pola horisontal, tren, musiman, siklis ataupun kombinasi dari beberapa pola tersebut. Jenis pola data sangat penting untuk diketahui karena akan berpengaruh terhadap hasil ramalan….&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/01/metode-peramalan-bisnis-dan-upaya_17.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHcnCZwo1I/AAAAAAAAALY/-WRVotYLhI8/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 97px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHcnCZwo1I/AAAAAAAAALY/-WRVotYLhI8/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098598816378037074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Mengevaluasi Produk dengan Conjoint Analysis (CA),&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; dalam berbagai penelitian bisnis analisis conjoint ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;lah analisis yang paling umum untuk diterapkan terhadap market riset dan studi pengembangan produk. Sebagai contoh, ketika konsumen hendak membeli komputer mungkin akan memeriksa himpunan atribut untuk memilih produk mana yang paling cocok dengan kebutuhannya. Konsumen mungkin akan mempertimbangkan unsur kecepatan, merek motherboard, daya tampung memori, jenis VGA card atau kapasitasnya dalam mengerjakan tugas. Atribut-atribut te&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;rsebut beserta ciri-cirinya diperlukan konsumen untuk membuat pertimbangan dalam membuat keputusan akhir. Ciri khas analisis Conjoint adalah mempergunakan input dari variabel independen bukan angka (bersifat kualitatif). Secara umum data yang sedemikian itu dipecahkan dengan Crosstabulation, akan tetapi jika dimensi yang ditangani sangat banyak maka akan kewalahan. Jika terdapat tiga kategori harga, tiga merek motherboard, dua jenis VGA card, 2 jenis memori, dan tiga jenis harddisk, maka akan terdapat 108 profil (3 x 3 x 2 x 2 x 3) yang dapat dievaluasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Analisis conjoint akan memecahkan masalah ini dengan berbagai pendekatan berskala optimal. Berdasarkan preferensi setiap profil produk yang disajikan, analisis conjoint akan dapat membuat kesimpulan tentang atr&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;ibut dan kombinasi profil produk yang lebih disukai oleh masyarakat....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2006/12/mengevaluasi-produk-dengan-conjoint.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHVTCZwoyI/AAAAAAAAALA/epjZIayw7H4/s1600-h/2338144815.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 96px; height: 71px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHVTCZwoyI/AAAAAAAAALA/epjZIayw7H4/s320/2338144815.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098590776199258914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Antara Linux, Liga Inggris dan Keterpurukan Bangsa Kita,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; LINUX adalah sebuah operating system yang merupakan program open source gratis di bawah lisensi GNU. Untuk memperoleh Linux dan mengistalnya pada PC kesayangan kita, kita tidak perlu repot-repot membeli Linux dengan harga bandrol yang mahal sebagaimana produk Microsoft, karena GNU telah menggratiskan program dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; bahkan sampai source code-nya. Tidak hanya itu, anda bahkan diberi keleluasaan untuk mengkopi, menggandakan dan bahkan sampai mengubah-ubah source code-nya....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/antara-linux-liga-inggris-dan-resiko.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwb9fMVI/AAAAAAAAAFw/QvmRo5h4NHc/s1600-h/rm02.JPG" target="_blank" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwb9fMVI/AAAAAAAAAFw/QvmRo5h4NHc/s400/rm02.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Trend Sistem Informasi Industri Perbankan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Seperti ungkapan futurolog teknologi &lt;i&gt;Nicholas Negroponte&lt;/i&gt;; bahwa dunia makin lama makin digital. Hal ini ditengarai oleh pesatnya perkemb&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;angan transaksi bisnis dan kegiatan non-bisnis yang makin beralih ke pemanfaatan komputer &lt;i&gt;on-line. &lt;/i&gt;Dipi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;cu oleh perkembangan Internet, makin meningkatnya kemampuan &lt;i&gt;hardware&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;software&lt;/i&gt; dengan kecepatan tinggi dan penyebaran komputer, makin menyadarkan nasabah bank akan berbagai kemudahan yang didapatkan dengan ketersediaan layanan &lt;i&gt;On-line banking. &lt;/i&gt;Saat ini standar layanan ritel banking kelas du&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;nia seperti &lt;i&gt;Chase Manhattan Bank, Bank Of America (BOA)&lt;/i&gt; bagi nasabahnya bukan saja menyediakan transakasi &lt;i&gt;real-time&lt;/i&gt;, namun banyak lagi produk layanan berbasis on-line....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/trend-sistem-informasi-industri.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;           &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwb9fMWI/AAAAAAAAAF4/bEnQwxRzZyU/s1600-h/rm03.JPG" target="_blank" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 105px; height: 78px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwb9fMWI/AAAAAAAAAF4/bEnQwxRzZyU/s400/rm03.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Pengenalan Arsitektur Data Base,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Guna menangani proses pemutakhiran data yang harus dapat dilakukan oleh semua tingkatan terkait maka arsitektur replikasi yang dirancang mer&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;upakan simetric replication. Replikasi merupakan proses pengkopian dan pengelolaan objek-objek dari da&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;tabase yang membentuk suatu sistem database terdistribusi (Distributed Database). Dengan arsitektur replikasi database menjamin ketersediaan database, yaitu tersedianya alternatif lain jika suatu database jatuh (down) atau untuk mempercepat akses ke database terdekat. ….&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/pengenalan-arsitektur-data-base.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwr9fMXI/AAAAAAAAAGA/Pr51CPeClcI/s1600-h/rm04.JPG" target="_blank" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwr9fMXI/AAAAAAAAAGA/Pr51CPeClcI/s400/rm04.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Internet dan Produktivitas Kerja,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Survey yang dilakukan Forrester Research, April 2000 dari seluruh komunikasi para perusahaan yang masuk dalam Fortune 500, sebesar 73% menggunakan media Internet. Maknanya bagi industri di tanah air, tidak dapat menghindari dan harus bergabung dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; komunitas pengguna Internet, mengingat hampir 93% kegiatan bisnis besar kita terkait dengan perusahaan tersebut- sebagai pemasok, pemegang lisensi, penyalur, mitra usaha maupun hanya sebatas konsumen….&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/internet-dan-produktivitas-kerja.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbUq6umUcI/AAAAAAAAAJY/z7dB31K00fk/s1600-h/logo-23.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 95px; height: 76px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbUq6umUcI/AAAAAAAAAJY/z7dB31K00fk/s200/logo-23.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086486662945853890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Memahami Teori Normalisasi Data Melalui Studi Kasus,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; Normalisasi data sering kali dilanggar dan diabaikan dalam rancangan basis data, padahal teori ini adalah sangat penting untuk menghasilkan s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;uatu basis data yang efisien. Pada tulisan ini kami mengajak anda untuk mendalami teori basis data melalui studi kasus sederhana yang insya Allah mudah difahami. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi media untuk sharing ilmu....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/memahami-teori-normalisasi-data-melalui.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/memahami-teori-normalisasi-data-melalui.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;        &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHXpiZwo0I/AAAAAAAAALQ/g1EdasQ2R5c/s1600-h/68436962.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 73px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHXpiZwo0I/AAAAAAAAALQ/g1EdasQ2R5c/s320/68436962.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098593361769571138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;     &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;SKALA PENGUKURAN,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; Ketika seorang peneliti meneliti tentang tinggi tanaman jagung pada 5, 10, 15, 20 dan 25 hari setelah tanam, maka dibutuhkan suatu alat ukur yang memiliki kehandalan / sta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;ndard tertentu guna mendukung penelitian tersebut. Misalnya, untuk mengukur pertambahan tinggi tanaman jagung tersebut dipilih sebuah penggarisan dengan satuan ukur (skala ukur) centimeter (cm). Contoh di atas memberikan gambaran tentang dibutuhkannya skala pengukuran yang sah / standard yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur tinggi tanaman. Demikian pula halnya ketika kita membutuhkan informasi tetang berat badan angota keluarga, tentunya dibutuhkan skala ukur tertentu yang dapat mendukung keperluan tersebut misalnya dipilih skala ukur dengan satuan ukur kilogram (kg). Pada kenyataannya skala ukur standar t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;idak hanya dibutuhkan untuk keperluan-keperluan yang bersifat exact saja (seperti : mengukur tinggi, jarak, berat, tekanan, intensitas dll), akan tetapi dalam penelitian-penelitian yang bersifat non-exact (seperti : pengukuran psikologis, sikap sosial, intelegensia, atribut demografi dll ) dibutuhkan pula suatu alat ukur dengan skala tertentu yang dapat dipergunakan untuk memberikan informasi secara jelas dan benar....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/skala-pengukuran.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/skala-pengukuran.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="sg"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHcxSZwo3I/AAAAAAAAALo/eQSMV-gSqDk/s1600-h/images9.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHcxSZwo3I/AAAAAAAAALo/eQSMV-gSqDk/s320/images9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098598992471696242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Principal Component Analysis (PCA) sebagai Metode Jitu Untuk Mengatasi Masalah M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;ultikolinearitas,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; Ada beberapa prosedur yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah multikolinearitas, seperti : penggunaan informasi apriori dari hubungan beberapa variabel yang berkolinear, menghubungkan data cross-sectional dan data time series, mengeluarkan suatu variabel atau beberapa variabel bebas yang terlibat hubungan kolinear, melakukan transformasi variabel dengan prosedur first difference dan penambahan data baru. Akan tetapi pada prakteknya prosedur penanggulangan yang telah disebutkan di atas sangat tergantung sekali pada kondisi penelitian, misalnya : prosedur penggunaan informasi apriori sangat tergantung dari ada atau tidaknya dasar teori (literatur) yang sangat kuat untuk mendukung hubungan matematis antara variabel bebas yang saling berkolinear, prosedur mengeluarkan variabel bebas yang berkolinear seringkali membuat banyak peneliti keberatan karena prosedur ini akan mengurangi obyek penelitian yang diangkat, sedangkan prosedur lainya seperti menghubungkan data cross secti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;onal dan time series, prosedur first difference dan penambahan data baru seringkali hanya memberikan efek penanggulangan yang kecil pada masalah multikolinearitas....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2006/12/principal-component-analysis-pca.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2006/12/principal-component-analysis-pca.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwL9fMUI/AAAAAAAAAFo/K_-AwMzhSAk/s1600-h/rm01.JPG" target="_blank" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/ReWPwL9fMUI/AAAAAAAAAFo/K_-AwMzhSAk/s400/rm01.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Sekuritas Share Folder dengan NTFS, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Menanggapi beberapa pertanyaan yang sering muncul tentang optimalisasi penggunaan Win-XP dan Win NT dalam hal sekuritas, maka pada tulisan ini saya ingin menjelaskan tentang teknik men-setting system sekuritas “Share Folder” pada jaringan Local Area Network (LAN) agar sebuah share folder hanya memiliki 1 fungsi yaitu “menerima&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; data saja” at&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;au “memberi data saja”. Hal tersebut perlu dijabarkan karena kebanyakan pengguna jaringan Komputer menginginkan tambahan keamanan atas data yang ia kirim ke salah satu client atau user lain….&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/sekuritas-share-folder-dengan-ntfs.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwqEX5Q6-I/AAAAAAAAAbk/ewAsrhzlehI/s1600-h/icon01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 74px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwqEX5Q6-I/AAAAAAAAAbk/ewAsrhzlehI/s320/icon01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205081523955493858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Shortest Path Problems,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; Jaringan (Network) adalah suatu susunan garis edar (path) yang menghubungkan berbagai titik, di mana satu barang atau lebih bergerak dari satu titik ke titik lain atau setiap orang ak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;rab dengan berbegai jaringan seperti system jalan tol, jaringan telepon, jaringan rel kereta api, dan jaringan televisi. Network model sangatlah aplikatif untuk diterapkan ke banyak permasalahan pengambilan keputusan yang dapat dimodelkan sebagai model optimasi jaringan dan penyelesaian problem yang efisien dan efektif. Pada prinsipnya, tujuan dari pemodelan jaringan adalah untuk memperoleh solusi jarak terpendek, waktu tersingkat dan biaya terendah di antara titik-titik dalam jaringan....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/shorthes-path-problems.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1ao35Q7hI/AAAAAAAAAgc/bvt5q5x1XFU/s1600-h/SWOT_IMG.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 107px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1ao35Q7hI/AAAAAAAAAgc/bvt5q5x1XFU/s400/SWOT_IMG.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205416402555563538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Analisis S.W.O.T,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; SWOT adalah singkatan dari bahasa Inggris STRENGTHS (Kekuatan), WEAKNESSES (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Kelemahan), OPPORTUNITIES (Peluang) dan THREATS (Ancaman). Analisa SWOT berguna untuk menganalisa faktor-faktor di dalam organisasi yang memberikan andil terhadap kualitas pelayanan atau salah satu komponennya sambil mempertimbangkan faktor-faktor eksternal....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/analisis-swot.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1b4H5Q7iI/AAAAAAAAAgk/A4PHH_po1gw/s1600-h/fishbone_analysis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 51px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1b4H5Q7iI/AAAAAAAAAgk/A4PHH_po1gw/s200/fishbone_analysis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205417764060196386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Fishbone Analysis,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt; Analisa tulang ikan dipakai jika ada perlu untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial dari satu masalah atau pokok persoalan dengan cara yang mudah dimengerti d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IT"&gt;an rapi. Juga alat ini membantu kita dalam menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses. Yaitu dengan cara memecah proses menjadi sejumlah kategori yang berkaitan dengan proses, mencakup manusia, material, mesin, prosedur, kebijakan dan sebagainya....&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/fishbone-analysis.html"&gt;read more&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-2552723599170099805?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/2552723599170099805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/artikel-pilihan-dickyrahardicom_27.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2552723599170099805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2552723599170099805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/artikel-pilihan-dickyrahardicom_27.html' title='Artikel Pilihan DickyRahardi.Com'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RfiyR4BoyBI/AAAAAAAAAH4/mBsomJ0ZtK0/s72-c/kasihsayang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-2779340392796889181</id><published>2009-04-17T18:39:00.003+07:00</published><updated>2009-04-17T18:46:23.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Menuju Jalan Istiqamah</title><content type='html'>Istiqamah adalah tantangan manusia setelah ia mendapatkan hidayah.&lt;br /&gt;Betapa beratnya hidup ini, betapa sulitnya Istiqamah di zaman ini.&lt;br /&gt;Zaman yang mana sudah banyak muncul tanda2 kiamat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ceramah berikut ini dapat menjadi bahan renungan penguat hati setelah kelelahan, penyegar iman setelah berjumpa segala bentuk peluntur iman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;object type="application/x-shockwave-flash" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="200" height="340"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.babulous.com/common/player/babulous_embed_05.swf"&gt;&lt;param name="flashvars" value="s=true&amp;amp;bgcolor=0x333333&amp;amp;u=MyA-MTIy&amp;amp;uId=1150895"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://www.babulous.com/common/player/babulous_embed_05.swf" wmode="transparent" allowscriptaccess="never" flashvars="s=true&amp;amp;bgcolor=0x333333&amp;amp;u=MyA-MTIy&amp;amp;uId=1150895" name="babulous_embed" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" width="200" height="340"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-2779340392796889181?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/2779340392796889181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2009/04/menuju-jalan-istiqamah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2779340392796889181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2779340392796889181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2009/04/menuju-jalan-istiqamah.html' title='Menuju Jalan Istiqamah'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-5956019172538384321</id><published>2008-09-12T08:20:00.007+07:00</published><updated>2009-02-11T22:15:53.633+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Keutamaan Tauhid dalam masa-masa sulit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SMnLPUJjYlI/AAAAAAAAAmw/VLey6bQ0QMU/s1600-h/thIslamPeace2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SMnLPUJjYlI/AAAAAAAAAmw/VLey6bQ0QMU/s400/thIslamPeace2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244946705016906322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kita hidup didunia tiada lain utk tujuan yg besar, tujuan utk merealisasikan ibadah hanya kepada Allah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.&lt;br /&gt;(Adz Dzariaat ayat 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan ini begitu agung, maka Allah utus para rasul, Allah turunkan kitab-kitab suci untuk menjelaskan hakikat beribadah kepada Allah Ta’ala&lt;br /&gt;semua ini utk kebaikan manusia, tidak ada sedikitpun untuk mencelakakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Berfirman :&lt;br /&gt;…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…&lt;br /&gt;(Al Baqarah ayat 185)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka syariat yang mulia ini datang utk menghilangkan penyembahan terhadap mahluk menuju penyembahan kepada Allah, utk menyelamatkan manusia dari api neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;Permisalanku dan umatku seperti seorang laki-laki yg menyalakan api ,lalu laron-laron itu jatuh kedalam api, dan aku berusaha memegang ikat pinggang kalian jangan sampe kalian jatuh kedalam api, akan tetapi kalian malah lepas dariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk selengkapnya silahkan dengar Mp3 kajian berikut, semoga bermanfaat bagi kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema : Keutamaan Tauhid dalam masa-masa sulit&lt;br /&gt;Pembicara : Ustadz Badrusalam&lt;br /&gt;Tempat : masjid Al Kautsar POLDA&lt;br /&gt;Tanggal : 30 juli 2008&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://radiorodja.com/"&gt;Radiorodja.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div style="display: block;" id="podPressPlayerSpace_1"&gt;&lt;object type="application/x-shockwave-flash" data="http://www.radiorodja.com/wp-content/plugins/podpress/players/1pixelout_player.swf" id="audioplayer1" height="24" width="290"&gt; &lt;param name="movie" value="http://www.radiorodja.com/wp-content/plugins/podpress/players/1pixelout_player.swf"&gt; &lt;param name="FlashVars" value="playerID=1&amp;amp;bg=0xF8F8F8&amp;amp;leftbg=0xEEEEEE&amp;amp;rightbg=0xCCCCCC&amp;amp;rightbghover=0x999999&amp;amp;lefticon=0x666666&amp;amp;righticon=0x666666&amp;amp;righticonhover=0xFFFFFF&amp;amp;text=0x666666&amp;amp;slider=0x666666&amp;amp;track=0xFFFFFF&amp;amp;loader=0x9FFFB8&amp;amp;border=0x666666&amp;amp;soundFile=http://radiorodja.com/wp-content/uploads/KajianLive/Ustadz%2520Badrusalam/Keutamaan%2520Tauhid%2520dlm%2520masa2%2520sulit_ust%2520Badrusalam%2520LC_masjid%2520Al%2520Kautsar%2520POLDA.mp3"&gt; &lt;param name="quality" value="high"&gt; &lt;param name="menu" value="false"&gt; &lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt; &lt;a href="http://radiorodja.com/wp-content/uploads/KajianLive/Ustadz%20Badrusalam/Keutamaan%20Tauhid%20dlm%20masa2%20sulit_ust%20Badrusalam%20LC_masjid%20Al%20Kautsar%20POLDA.mp3" target="new"&gt;&lt;img src="http://www.radiorodja.com/wp-content/plugins/podpress/images/audio_mp3_button.png" class="podPress_imgicon" alt="icon for podpress" align="top" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keutamaan Tauhid dalam masa-masa sulit: &lt;a href="http://www.radiorodja.com/?s=Keutamaan+Tauhid&amp;amp;x=14&amp;amp;y=6#" onclick="javascript: podPressShowHidePlayer('1','http://radiorodja.com/wp-content/uploads/KajianLive/Ustadz%20Badrusalam/Keutamaan%20Tauhid%20dlm%20masa2%20sulit_ust%20Badrusalam%20LC_masjid%20Al%20Kautsar%20POLDA.mp3',300,30,'true'); return false;"&gt;&lt;span id="podPressPlayerSpace_1_PlayLink"&gt;Hide Player&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.radiorodja.com/?s=Keutamaan+Tauhid&amp;amp;x=14&amp;amp;y=6#" onclick="javascript: podPressPopupPlayer('1', 'http://radiorodja.com/wp-content/uploads/KajianLive/Ustadz%20Badrusalam/Keutamaan%20Tauhid%20dlm%20masa2%20sulit_ust%20Badrusalam%20LC_masjid%20Al%20Kautsar%20POLDA.mp3',300,30); return false;"&gt;Play in Popup&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.4shared.com/file/63249539/3707f0a2/Keutamaan_Tauhid_dlm_masa2_sulit_masjid_Al_Kautsar_POLDA.html" target="new"&gt;Download&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.4shared.com/file/63249539/3707f0a2/Keutamaan_Tauhid_dlm_masa2_sulit_masjid_Al_Kautsar_POLDA.html" target="new"&gt;Download ZIP&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; |&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-5956019172538384321?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/5956019172538384321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/keutamaan-tauhid-dalam-masa-masa-sulit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5956019172538384321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5956019172538384321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/keutamaan-tauhid-dalam-masa-masa-sulit.html' title='Keutamaan Tauhid dalam masa-masa sulit'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SMnLPUJjYlI/AAAAAAAAAmw/VLey6bQ0QMU/s72-c/thIslamPeace2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-8427695798856227717</id><published>2008-09-12T06:29:00.007+07:00</published><updated>2009-05-08T08:06:41.536+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Ceramah Ramadhan 1428H</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SMnJOowydOI/AAAAAAAAAmg/Zy5L2T6qbA4/s1600-h/images2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SMnJOowydOI/AAAAAAAAAmg/Zy5L2T6qbA4/s400/images2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244944494347056354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tema : Nasihat bagi Muslim Setelah Romadhon&lt;br /&gt;Pembicara : Ustadz Badrusalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romadhan telah berlalu, masih terbayang indahnya romdahon. Selanjutnya bagaimana kita setelah meninggalkan romadhan. tentu kita tidak mau menjadi orang2 yg merugi. kita ingin setelah ramadhan menjadi lebih baik lagi. Ternyata amal ibadah di bulan ramadhan bukan hanya disaat ramadhan saja, tapi bagaiman kita bisa istiqomah setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tujuan berpuasa untuk bertaqwa, karena Allah telah berfirman dalam Al Baqarah ayat 183 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutanya silahkan dengar kajian selengkapnya dari mp3 di bawah ini. semoga bermanfaat bagi kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe marginheight="0" marginwidth="0" style="border: 1px solid rgb(221, 229, 233); margin: 3px; padding: 0pt; width: 240px; height: 66px; background-color: rgb(255, 255, 255);" src="http://cid-eb0c1d35eaa3d772.skydrive.live.com/embedrowdetail.aspx/Ustadz/Badrusalam/Lain2/Nasihat%20bagi%20Muslim%20selepas%20Romadhon%7C_ust%20Badrusalam.mp3" scrolling="no" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.archive.org/download/Ustadz_Badrusalam_Kajian_Lain2_01/Nasihat_bagi_Muslim_selepas_Romadhon_ust_Badrusalam.mp3"&gt;Download Kajian&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-8427695798856227717?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/8427695798856227717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/daurah-ramadhan-1428h.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/8427695798856227717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/8427695798856227717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/daurah-ramadhan-1428h.html' title='Ceramah Ramadhan 1428H'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SMnJOowydOI/AAAAAAAAAmg/Zy5L2T6qbA4/s72-c/images2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-1809236186620119469</id><published>2008-07-16T13:55:00.010+07:00</published><updated>2008-09-02T06:34:50.611+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metode Analysis'/><title type='text'>Algoritma Pemisahan Pengaruh Musiman dengan Metode Dekomposisi Census II</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SH2tIt5mS6I/AAAAAAAAAjE/RUmCAfHACdY/s1600-h/algorithm1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SH2tIt5mS6I/AAAAAAAAAjE/RUmCAfHACdY/s200/algorithm1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223521508091382690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul kepada saya tentang langkah2 penerapan metode Dekomposisi Census II, dengan ini saya sampaikan coding yang dibuat dengan bahasa pemrograman Turbo Pascal versi 7.0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa program tersebut adalah “salah satu contoh dan bukan satu-satunya contoh” dari sistem perhitungan metode Dekomposisi Census II yang dapat dijadikan rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program yang saya buat ini masih sangat sederhana dan belum disertai dengan GUI yang interaktif, bahkan masih menggunakan Turbo Pascal dengan alasan :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, goal yang ingin dicapai adalah "pemahaman alur penerapan metode" dan "bukan pembuatan aplikasi"&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, Turbo Pascal adalah bahasa pemrograman terstruktur yang lebih mudah difahami bagian per bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga artikel sederhana ini dapat bermanfaat untuk menyudahi segala confius yang sering terjadi saat mempelajari metode dekomposisi Census II. Bagi yang ingin mengetahui ringkasan teorinya dapat mempelajari terlebih dahulu &lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-dekomposisi-census-ii.html"&gt;di link ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menganalisa data dalam jumlah besar dan bervariasi hendaknya menggunakan aplikasi yang lebih baik atau menggunakan software-software baku dipasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, karena pendekatan pada artikel ini masih sederhana maka sistem penyimpanan data yang saya gunakan juga masih sederhana yaitu dengan cara menyimpan data time series pada array sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="alert"&gt;&lt;br /&gt;Const&lt;br /&gt;L = 12;&lt;br /&gt;n = 72;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NamaFile = 'SKontKLS.txt';&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;data : array [1..n] of real =&lt;br /&gt;(1.6,1.6,2.3,3,3.1,3.1,3.1,2.8,3,3.2,2.4,2.2,2.2,2.5,3.6,&lt;br /&gt;4,4,4.2,4.1,4.1,3.8,4.1,3.7,3.2,3,3.5,5.3,5.5,5.8,6,5.7,&lt;br /&gt;6.2,5.6,5.5,5.4,4.3,3.9,3.9,6.3,6.8,7.8,7.9,6.8,7.1,6.5,&lt;br /&gt;7.1,6,4.7,4.5,4.6,6.9,6,8.1,7.3,7,7.1,6.2,6.9,4.7,&lt;br /&gt;4.3,4.1,4.3,4.6,4.4,4.5,5.1,6.1,5.9,6.1,6.8,5.8,5.6);&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disajikan dalam bentuk tabel, maka rangkaian array di atas akan mewakili data time series ttg kontrak kerja karyawan seperti dibawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table style="border-collapse: collapse; width: 354px; height: 253px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td rowspan="2" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;Bulan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="6" style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 314.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="419"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;Tahun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1982&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1983&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1984&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1985&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1986&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; background: rgb(204, 204, 204) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1987&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;1.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;8.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7.9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;10&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;7.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.9&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;11&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2.4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.8&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 1.5pt; width: 44.05pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="59"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;12&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 58.35pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;2.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;3.2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;4.3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 1.5pt; width: 51.2pt; height: 12.8pt;" valign="top" width="68"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  &gt;5.6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melanjutkan ke bagian program / algoritma dekomposisi, maka dipersilakan kepada pembaca yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kebelet pipis&lt;/span&gt; untuk pergi ke toilet terlebih dahulu, karena nahan-nahan pipis itu tidak baik untuk kesehatan para ilmuwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekedar saran aja loh ya...hehehe... :D&lt;br /&gt;biar suasana bisa lebih cair ... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kalo sudah lega, silakan tarik nafas dan mulailah membuka buku Makridakis, Wheelwright and McGee dan kemudian berusaha memahami alur pemrograman di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat belajar....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan bagi mereka yang belum begitu mengenal turbo pascal, bila ada suatu statemen atau code yang ditulis diantara tanda kurung seperti ini {}, maka statemen atau kode tersebut tidak ikut dikompilasi dan hanya dianggap sebagai catatan pengingat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="alert"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;uses crt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Const&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;L = 12;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;n = 72;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;NamaFile = 'SKontKLS.txt';&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;data : array [1..n] of real =&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;(1.6,1.6,2.3,3,3.1,3.1,3.1,2.8,3,3.2,2.4,2.2,2.2,2.5,3.6,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;4,4,4.2,4.1,4.1,3.8,4.1,3.7,3.2,3,3.5,5.3,5.5,5.8,6,5.7,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;6.2,5.6,5.5,5.4,4.3,3.9,3.9,6.3,6.8,7.8,7.9,6.8,7.1,6.5,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;7.1,6,4.7,4.5,4.6,6.9,6,8.1,7.3,7,7.1,6.2,6.9,4.7,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;4.3,4.1,4.3,4.6,4.4,4.5,5.1,6.1,5.9,6.1,6.8,5.8,5.6);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;type&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;savedat = array [1..n] of real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;savetab = array [1..25,1..L] of real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;per2 : integer;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;procedure RasioAwal(Var output : savedat);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;i,j : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sum,save : real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;per2:=Round(L/2);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=(per2+1) to n-(per2-1) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sum:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=i-per2 to i+(per2-1) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sum:=sum+data[j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if i&gt;(per2+1) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;output[i-1]:=200*L*data[i-1]/(save+sum);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;save:=sum;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Inisialisasi 6 data awal dan akhir yang hilang}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to per2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;output[i]:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;output[n+i-per2]:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;procedure Transpose(input : savedat;var Output : Savetab);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;i,j,k : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;k:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;output[i,j]:=input[j+k];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;k:=k+L;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;procedure DummyTab(Input : savetab; var Dummy : savetab);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;i,j,Baris : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;baris:=Round(n/L);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to 2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Dummy[i,j]:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Dummy[baris+i+2,j]:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=3 to baris+2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  Dummy[i,j]:=input[i-2,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;procedure MA3x3(input : savetab; var output : savetab);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;i,j,baris : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;init : real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Baris := Round(n/L)+4;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Mengganti nilai nol}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;init:=input[3,1];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to per2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Atas}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if (input [3,j]=0) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[2,j]:=(input[4,j]+input[5,j])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[3,j]:=input[2,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end else&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[2,j]:=(input[3,j]+input[4,j])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[1,j]:=input[2,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[1,j+per2]:=(input[3,j+per2]+input[4,j+per2])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[2,j+per2]:=input[1,j+per2];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Bawah}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[Baris-1,j]:=(input[Baris-2,j]+input[Baris-3,j])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[Baris,j]:=input[Baris-1,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if (input[Baris-2,j+per2]=0) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; input[Baris-1,j+per2]:=&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;     (input[baris-3,j+per2]+input[baris-4,j+per2])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Input[Baris-2,j+per2]:=input[Baris-1,j+per2];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end else&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; input[Baris-1,j+per2]:=(input[baris-3,j+per2]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; input[baris-2,j+per2])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; input[baris,j+per2]:=input[baris-1,j+per2];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=3 to baris-2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;output[i-2,j]:=(input[i-2,j]+2*input[i-1,j]+3*input[i,j]+ 2*input[i+1,j]+input[i+2,j])/9;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if init=0 then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to per2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  output[1,j]:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  output[Round(n/L),per2+j]:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;procedure MA5x5(input : Savetab; Var output : Savetab);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;k,h,Baris : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dum : array [1..20,1..12] of real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Baris := Round(n/L);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for k:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dum[4,k]:=(input[1,k]+input[2,k]+input[3,k])/3;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dum[5+Baris,k]:=(input[BAris,k]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;input[BAris-1,k]+input[Baris-2,k])/3;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for h:=1 to 3 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for k:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dum[h,k]:=Dum[4,k];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dum[5+BAris+h,k]:=Dum[5+Baris,k];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for h:=1 to BAris do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for k:=1 to L do Dum[4+h,k]:=input[h,k];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for k:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for h:=1 to BAris do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Output[h,k]:=(Dum[h,k]+2*Dum[h+1,k]+3*Dum[h+2,k]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;4*Dum[h+3,k]+5*Dum[h+4,k]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;4*Dum[h+5,k]+3*Dum[h+6,k]+2*Dum[h+7,k]+Dum[h+8,k])/25;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Procedure Musim(Rasio,RMA3x3 : Savetab; var FMusim : savetab);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;i,j : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dummy,HAsil : Savetab;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SD,sum : real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SD:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to Round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if not(Rasio[i,j]=0) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;   SD:=SD+sqr(Rasio[i,j]-RMA3x3[i,j]);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if (Rasio[1,2]=0) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;   SD:=sqrt(SD/(Round(n/L)-1)) else SD:=sqrt(SD/Round(n/L));&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to Round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if not(Rasio[i,j]=0) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if ((Rasio[i,j]&lt;(RMA3x3[i,j]- 2*SD))or(Rasio[i,j]&gt;(RMA3x3[i,j]+2*SD))) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;     if ((Rasio[i-1,j]=0)or(Rasio[i+1,j]=0)) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;     begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;        if Rasio[i-1,j]=0 then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;             Hasil[i,j]:=(Rasio[i+1,j]+Rasio[i+2,j])/2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;        else Hasil[i,j]:=(Rasio[i-1,j]+Rasio[i-2,j])/2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;     end else&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;         HAsil[i,j]:=(Rasio[i-1,j]+Rasio[i+1,j])/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;     end else&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;         Hasil[i,j]:=Rasio[i,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;   end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Mengganti nilai yang hilang}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if (Rasio[1,1]=0) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to Round(L/2) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Hasil[1,j]:=HAsil[2,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Hasil[Round(n/L),j+per2]:=Hasil[Round(n/L)-1,j+per2];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Penyesuaian 1200}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to Round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sd:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sd:=sd+Hasil[i,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;FMusim[i,j]:=Hasil[i,j]*L*100/sd;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;End;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Tubuh Program Utama}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;var&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Rasio,TCI,Spencer : savedat;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;DS : array [1..n+14] of real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Trasio,Dummy,HasilMA,Fmusim : savetab;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;i,j,k,h,pil : byte;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Awal, akhir : real;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;simpan : text;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;label 10;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;clrscr;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;RasioAwal(Rasio);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for h:=1 to 2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Transpose(RAsio,TRasio);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;DummyTab(TRasio,Dummy);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;MA3x3(Dummy,HasilMA);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Musim(TRasio,HasilMA,FMusim);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Menggunakan MA 3x3 untuk menghilangkan Random}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;DummyTab(FMusim,Dummy);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;MA3x3(Dummy,FMusim);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Menggunakan MA 5x5 untuk menghilangkan Random}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{ MA5x5(FMusim,HAsilMA);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;FMusim[i,j]:=HasilMA[i,j];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;k:=0;i:=1;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  TCI[j+k]:=Data[j+k]/FMusim[i,j]*100;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;k:=k+L;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Awal:=0;Akhir:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;If L=4 then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;For I:=1 to 2 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Awal:=awal+TCI[I];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Akhir:=akhir+TCI[n-2+I];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;End;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;For I:=1 to 3 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; DS[I]:=awal/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; DS[n+3+I]:=akhir/2;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;End;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;For I:=4 to n+3 do DS[I]:=TCI[I-3];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;For I:=1 to n do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Spencer[I]:=0.06*DS[I]+0.133*DS[I+1]+0.2*DS[I+2]+0.2*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;             DS[I+3]+0.2*DS[I+4]+0.133*DS[I+5]+0.067*DS[I+6];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Rasio[I]:=data[I]/spencer[I];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;End;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end else&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to 4 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  Awal:=Awal+TCI[i];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  Akhir:=Akhir+TCI[n-4+i];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to 7 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  DS[i]:=Awal/4;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  DS[n+7+i]:=Akhir/4;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=8 to n+7 do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  DS[i]:=TCI[i-7];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to n do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  spencer[i]:= (-0.009*DS[i]-0.019*DS[i+1]-0.016*DS[i+2]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;                0.009*DS[i+3]+0.066*DS[i+4]+0.144*DS[i+5]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;                0.209*DS[i+6]+0.231*DS[i+7]+0.209*DS[i+8]+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;                0.144*DS[i+9]+0.066*DS[i+10]+0.009*DS[i+11]-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;                0.016*DS[i+12]-0.019*DS[i+13]-0.009*DS[i+14]);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  RAsio[i]:=data[i]/spencer[i];&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;{Simpan hasil dalam file text, perlu disipakan dulu folder C:\simpanan\}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;assign(simpan,'C:\simpanan\'+NAmaFile);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;rewrite(simpan);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;writeln;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;writeln('Versi data : [1] Lengkap or [2] untuk dimuluskan');&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;readln(pil);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;if not(pil=2) then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;writeln(simpan,'bln St TCI TC');&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;k:=0;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;for i:=1 to round(n/L) do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;begin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  for j:=1 to L do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  if pil=2 then&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;      writeln(simpan,data[j+k]:20,(FMusim[i,j]/100):20, TCI[j+k]:20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;  else&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;      writeln(simpan,j:5,(FMusim[i,j]/100):15:3,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;      TCI[j+k]:15:3,Spencer[j+k]:15:3);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;      k:=k+L;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;close(simpan);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;writeln('Silahkan lihat hasilnya pada file : '+NamaFile);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;readln;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;end.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-1809236186620119469?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/1809236186620119469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/07/algoritma-pemisahan-pengaruh-musiman_16.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/1809236186620119469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/1809236186620119469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/07/algoritma-pemisahan-pengaruh-musiman_16.html' title='Algoritma Pemisahan Pengaruh Musiman dengan Metode Dekomposisi Census II'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SH2tIt5mS6I/AAAAAAAAAjE/RUmCAfHACdY/s72-c/algorithm1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-3788934485554721522</id><published>2008-05-27T21:35:00.005+07:00</published><updated>2008-05-27T22:53:50.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>MAXIMUM FLOW</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dalam masalah rute terpendek (shortest route) dapat dipecahkan masalah rute perjalanan terpendek untuk memindahkan barang-barang dari kantor lama ke kantor baru. Dalam masalah pohon rentang minimum (minimal spanning tree) telah dipecahkan contoh permasalahan panjang kabel listrik terpendek yang dapat mensuplai kebutuhan listrik tiap ruangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada masalah-masalah tersebut tidak dijumpai adanya perhitungan tentang kapasitas suatu cabang yang terbatas pada jumlah tertentu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal terdapat masalah-masalah jaringan dimana cabang-cabang suatu jaringan tersebut memiliki kapasitas arus yang terbatas. Sebagai contoh, debit arus air antar saluran air, masing-masing cabang dalam jaringan saluran air tentunya memiliki debit maksimum, bilamana debit maksimum tersebut dilanggar akan menyebabkan terjadinya luapan air di salah satu atau beberapa cabang. Contoh lain, arus lalu lintas pada beberapa badan jalan, arus lalu lintas maksimum perlu dihitung untuk menghindari kemacetan jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Untuk lebih memahami masalah arus maksimum, kembali kita ambil contoh dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istec Corporation&lt;/span&gt;. Kali ini masalah yang diangkat adalah masalah maximum flow of cars (arus kendaraan maksimum) yang melewati jalan penghubung antara Mess karyawan dengan kantor baru. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jalan penghubung tersebut dapat digambarkan dalam gambar jaringan di bawah ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweFX5Q62I/AAAAAAAAAak/EBDWYnQTyeo/s1600-h/f01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweFX5Q62I/AAAAAAAAAak/EBDWYnQTyeo/s400/f01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205068346995829602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sebelum menjelaskan ke pemecahan masalah, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu arti dari angka-angka yang terdapat pada tiap cabang. Cabang yang menghubungkan antara node-1 dengan node-2 memuat angka 2 dan 0, maksudnya adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;arus maksimal kendaraan yang dapat melintasi jalan dari node-1 ke node-2 adalah 200 mobil per jam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;arus dari node-2 ke node-1 adalah 0 mobil per jam, artinya tidak ada arus dari node-2 ke node-1 (arus hanya searah dari node-1 ke node-2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Interpretasi di atas juga dapat diterapkan pada cabang-cabang lain yang menghubungkan antar node. Permasalahannya adalah berapakah arus maksimum dari jalan yang menghubungkan mess karyawan dengan kantor?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Untuk menjawab permasalahan ini, maka diambil langkah-langkah penyelesaian yang dibuat oleh L.R. Ford Jr dan D.R. Fulkerson sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pilihlah secara arbitrer      garis edar dalam jaringan tersebut dari titik awal ke tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sesuaikan kapasitas pada setiap node dengan mengurangkan arus maksimal untuk garis edar yang dipilih pada langkah pertama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tambahkan arus maksimal      sepanjang garis edar ke arus berlawanan arah pada setiap node&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Ulangi langkah 1,2 dan 3      sampai tidak ada lagi garis edar dengan kapasitas arus yang tersedia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah penerapan langkah-langkah penyelesaian arus maksimal untuk menjawab permasalahan arus maksimal dari mess karyawan Istec Corporation ke kantor barunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Secara arbitrer diambil garis edar 1-2-5-7-8&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweF35Q63I/AAAAAAAAAas/V9enU-6mSfs/s1600-h/f02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweF35Q63I/AAAAAAAAAas/V9enU-6mSfs/s400/f02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205068355585764210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Arus maksimal dari node-1 ke node-8 yang melewati garis edar 1-2-5-7-8 adalah sebesar 2 atau 200 mobil per jam. Tiap arus menuju ke node-8 dikurangi 2 dan arus yang berlawanan ditambah 2, sehingga menghasilkan hasil sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweGH5Q64I/AAAAAAAAAa0/_Tq63X-cmIM/s1600-h/f03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweGH5Q64I/AAAAAAAAAa0/_Tq63X-cmIM/s400/f03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205068359880731522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Hasil di atas memperlihatkan bahwa tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh melalui node-1 ke node-2, karena arus maksimumnya adalah nol (0). Secara arbitrer diambil garis edar 1-3-6-8. Arus maksimum pada garis edar ini adalah 2 atau 200 mobil per jam, sehingga total arus maksimum yang dapat masuk adalah sebesar 4 atau 400 mobil per jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena arus maksimum pada garis edar 1-3-6-8 adalah 2, maka tiap arus menuju node-8 dikurangi 2 dan tiap arus berlawanan ditambah 2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweGX5Q65I/AAAAAAAAAa8/RaUZwM12J78/s1600-h/f04.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweGX5Q65I/AAAAAAAAAa8/RaUZwM12J78/s400/f04.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205068364175698834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jalur lain atau garis edar lain yang masih memungkinkan untuk dilewati adalah jalur 1-4-6-8 dan 1-4-8 dengan arus maksimum masing-masing jalur adalah 1 atau 100 mobil per jam, sehingga meningkatkan total arus maksimum yang dapat masuk sebesar 5 atau 500 mobil per jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Secara arbitrer diambil garis edar 1-4-8. Tiap arus menuju node-8 dikurangi 1 dan tiap arus berlawanan ditambah 1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweGn5Q66I/AAAAAAAAAbE/B3OIjBnvwQA/s1600-h/f05.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweGn5Q66I/AAAAAAAAAbE/B3OIjBnvwQA/s400/f05.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205068368470666146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada langkah ini tidak ada lagi jalur atau garis edar yang dapat menghubungkan arus dari node-1 ke node-8. Agar lebih jelasnya diagram jaringan disajikan dengan tanda-tanda panah berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwd6H5Q61I/AAAAAAAAAac/auZKOgqmqUM/s1600-h/f06.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwd6H5Q61I/AAAAAAAAAac/auZKOgqmqUM/s400/f06.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205068153722301266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena tidak ada lagi arus yang dapat mengalir dari node-1 ke node-8, maka proses iterasi telah mencapai penyelesaian optimun. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa arus maksimum yang menghubungkan antara lokasi mess karyawan dengan kantor baru adalah sebesar 5 atau 500 mobil per jam dengan rincian sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 100%; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jalur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Maksimum Arus Mobil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;1 – 2 – 5 – 7 – 8 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;200&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;1 – 3 – 6 – 8 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;200&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;1 – 4 – 8 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;100&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Total&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 50%;" valign="top" width="50%"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;500&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span class="post-author"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="email-post.g?blogID=21974051&amp;amp;postID=3788934485554721522" title="Email Post"&gt; &lt;span class="email-post-icon"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-3788934485554721522?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/3788934485554721522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/maximum-flow.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3788934485554721522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3788934485554721522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/maximum-flow.html' title='MAXIMUM FLOW'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDweFX5Q62I/AAAAAAAAAak/EBDWYnQTyeo/s72-c/f01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-7956892767130757194</id><published>2008-05-27T21:24:00.005+07:00</published><updated>2008-05-27T22:52:35.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>MINIMAL SPANNING TREE</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pohon rentang minimum (minimal spanning tree) adalah teknik mencari jalan penghubung yang dapat menghubungkan semua titik dalam jaringan secara bersamaan sampai diperoleh jarak minimum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Masalah pohon rentang minimum serupa dengan masalah rute terpendek (shortest route), kecuali bahwa tujuannya adalah untuk menghubungkan seluruh simpul dalam jaringan sehingga total panjang cabang tersebut diminimisasi. Jaringan yang dihasilkan merentangkan (menghubungkan) semua titikdalam jaringan tersebut pada total jarak (panjang) minimum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Langkah-langkah dari pohon rentang minimum adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;pilih secara arbitrer sebuah      node dalam jaringan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;hubungkan node tersebut      dengan node terdekat yang dapat meminimalkan total jarak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;perhatikan semua node apakah terdapat node yang belum terhubung, temukan dan hubungkan node terdekat yang belum terhubung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;ulangi langkah ketiga sampai      seluruh node dapat terhubung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sebagai contoh, gedung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istec Corporation&lt;/span&gt; yang baru memiliki beberapa ruangan dan tiap ruangan membutuhkan 1 lubang aliran listrik (atau biasa disebut sebagai steker). Teknisi listrik akan menyalurkan listrik dari ruang bagian depan sampai keseluruh ruangan dengan total panjang kabel yang seefisien mungkin. Adapun jarak antar ruangan dapat digambarkan dalam gambar jaringan berikut ini, sedangkan ruang bagian depan digambarkan sebagai node-1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbL35Q6vI/AAAAAAAAAZs/FwEKmkTE0P8/s1600-h/m01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbL35Q6vI/AAAAAAAAAZs/FwEKmkTE0P8/s400/m01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205065160130095858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena node-1 adalah ruangan terdepan yang menjadi sumber aliran listrik utama, maka node-1 akan dijadikan sebagai patokan dalam jaringan. Node yang paling dekat dengan node-1 adalah node dengan jarak 2 meter, sehingga kita hubungkan node 1 dengan node-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbMH5Q6wI/AAAAAAAAAZ0/YqeX0a_oJkM/s1600-h/m02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbMH5Q6wI/AAAAAAAAAZ0/YqeX0a_oJkM/s400/m02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205065164425063170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Kemudian kita lihat node-node terdekat yang belum terhubung dengan node 1 dan 3, yaitu node 7, 6 dan 2. Yang terdekat dengan node 3 adalah node 7 dengan jarak 3 meter. Kemudian node 3 dan node 7 dapat dihubungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbMX5Q6xI/AAAAAAAAAZ8/6E2Qlb7S83A/s1600-h/m03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbMX5Q6xI/AAAAAAAAAZ8/6E2Qlb7S83A/s400/m03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205065168720030482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Node yang belum terhubung terdekat dengan node 1, 3 dan 7 adalah node 6 dengan panjang 2 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbMX5Q6yI/AAAAAAAAAaE/RWVD29kM5Z8/s1600-h/m04.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbMX5Q6yI/AAAAAAAAAaE/RWVD29kM5Z8/s400/m04.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205065168720030498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Node yang belum terhubung dan dekat dengan node 1,3,7 dan 6 adalah 5 dan 2. Node 5 dapat terhubung dengan node 6 dengan jarak 3 meter, sedangkan node 3 dapat dihubungkan dengan node-1 dengan jarak 3 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbM35Q6zI/AAAAAAAAAaM/Bjkmk8X3KZ8/s1600-h/m05.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbM35Q6zI/AAAAAAAAAaM/Bjkmk8X3KZ8/s400/m05.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205065177309965106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sisa node yang belum terhubung adalah node 8, 4 dan 9. Node 4 dapat dihubungkan dengan node 5 dengan jarak 3 meter, dan untuk mencapai node 9 total jarak terdekat lebih pendek jika ditempuh dari node 8 ke 9 dari pada melalui node 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbXX5Q60I/AAAAAAAAAaU/WT_TP4yPtTg/s1600-h/m06.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbXX5Q60I/AAAAAAAAAaU/WT_TP4yPtTg/s400/m06.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205065357698591554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena seluruh node telah terhubung atau telah terkait dalam satu jaringan, maka solusi di atas telah optimum. Jadi teknisi listrik dapat memulai merentangkan kabelnya dengan menghubungkan node 1 – 2, 1 – 3, 3 – 7, 6 – 7, 5 – 6, 4 – 5,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;6 – 8, 8 – 9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Panjang kabel yang dibutuhkan adalah : 21 meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-7956892767130757194?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/7956892767130757194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/minimal-spanning-tree.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/7956892767130757194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/7956892767130757194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/minimal-spanning-tree.html' title='MINIMAL SPANNING TREE'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwbL35Q6vI/AAAAAAAAAZs/FwEKmkTE0P8/s72-c/m01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-3284419599122218933</id><published>2008-05-27T21:06:00.005+07:00</published><updated>2008-05-27T22:50:31.971+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Shortest Path Problems</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Jaringan (Network) adalah suatu susunan garis edar (path) yang menghubungkan berbagai titik, di mana satu barang atau lebih bergerak dari satu titik ke titik lain atau setiap orang akrab dengan berbegai jaringan seperti system jalan tol, jaringan telepon, jaringan rel kereta api, dan jaringan televisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Network model sangatlah aplikatif untuk diterapkan ke banyak permasalahan pengambilan keputusan yang dapat dimodelkan sebagai model optimasi jaringan dan penyelesaian problem yang efisien dan efektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jaringan diilustrasikan sebagai diagram yang terdiri dari dua komponen penting : simpul (nodes) dan cabang (branches). Simpul melambangkan titik-titik persimpangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Cabang menghubungkan simpul-simpul tersebut dan mencerminkan arus satu titik ke titik lain dalam jaringan tersebut. Simpul-simpul dalam diagram jaringan dilambangkan dengan lingkaran dan cabang dilambangkan dengan garis yang menghubungkan simpul-simpul tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jaringan yang ditunjukkan pada gambar di atas memiiki empat simpul dan empat cabang. Simpul yang melambangkan Atlanta disebut sebagai titik awal (origin) dan tiga simpul sisanya dapat merupakan tujuan, tergantung dariapa yang ingin kita tentukan dari jaringan tersebut. Nilai-nilai yang tertera pada tiap cabang dapat menunjukkan tentang informasi jarak, lamanya waktu, atau biaya yang diberikan pada masing-masing cabang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada prinsipnya, tujuan dari pemodelan jaringan adalah untuk memperoleh solusi jarak terpendek, waktu tersingkat dan biaya terendah di antara titik-titik dalam jaringan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;MASALAH RUTE TERPENDEK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Masalah rute terpendek (Shortest Path Problems) berguna untuk menentukan jarak tersingkat antara titik awal dan beberapa titik tujuan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan jasa pengangkutan barang disewa untuk memindahkan furnitur dan perlengkapan kantor milik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istec Corporation&lt;/span&gt; ke markas besarnya yang baru. Untuk memindahkan barang-barang tersebut, perusahaan jasa yang disewa dapat melalui beberapa jalur antar kota sebagaimana yang digambarkan pada diagram jaringan berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMX5Q6qI/AAAAAAAAAZE/i5CA7m0ni8g/s1600-h/s01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMX5Q6qI/AAAAAAAAAZE/i5CA7m0ni8g/s400/s01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205061870185147042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Agar perjalanan lebih efisien, maka jalur manakah yang jarak tempuhnya lebih pendek ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Shorthes Route Algorithm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Langkah-1,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; berilah node-1 label permanen [0,S]. Angka pertama pada permanen label tersebut menunjukkan jarak antar node, sedangkan angka kedua menunjukkan nomer node sebelumnya. Node-1 tidak memiliki node pendahulu (node sebelumnya) sehingga label S menunjukkan bahwa ia adalah node awal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Langkah-2,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; hitunglah tentatif label (d,n) terhadap semua node yang dapat dicapai langsung dari node 1. Label d menunjukkan jarak suatu node dengan node sebelumnya dan n adalah node sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Langkah-3,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; identifikasi seluruh node dengan tentatif label yang menunjukkan jarak paling kecil dengan node sebelumnya. Katakanlah node tersebut sebagai node-k, maka ubahlah tentatif label pada node-k tersebut menjadi permanen label dengan menggunakan simbol [ , ]. Jika semua node telah memiliki permanen label maka beralihlah ke langkah ke-5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Langkah-4,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; berilah tentatif label (t,k) pada node yang dapat dicapai langsung dari node-k. Label t menunjukkan jarak kumulatif sedangkan k adalah node sebelumnya yang telah memiliki permanen label. Bila suatu node telah memiliki tentatif label maka gunakan tentatif label yang memiliki jarak terpendek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Langkah-5,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; lakukan langkah-langkah di atas sampai seluruh tetatif label pada tiap node memiliki jarak paling pendek dengan node sebelumnya, sehingga tentatif label tersebut menjadi permanen label&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Penerapan Shortest Route Algorithm pada proses pemindahan barang-barang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istec Corporation&lt;/span&gt; ke kantor barunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Label [0,S] diberikan pada node-1. Node 2, 3 dan 4 adalah node yang dapat dicapai langsung dari node-1. Masing-masing diberi tetatif label (100,1) , (50,1) dan (40,1).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena node-4 memiliki jarak paling pendek dari node-1 maka tentatif label node-4 berubah menjadi permanen label [40,1].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMX5Q6rI/AAAAAAAAAZM/ny49nM6GlLY/s1600-h/s02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMX5Q6rI/AAAAAAAAAZM/ny49nM6GlLY/s400/s02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205061870185147058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Node 3 dan 6 adalah node yang dapat dicapai langsung dari node-4 yang telah memiliki permanen label. Total jarak node 4 ke node 3 adalah sebesar 60 dan total jarak node 4 ke node 6 adalah 140, sehingga node 6 diberi tentatif label (140,4) dan node 3 diberi tambahan 1 tentatif label (60,4).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Node 3 memiliki 2 tentatif label, yaitu : (50,1) dan (60,4), padahal tiap node hanya boleh memiliki 1 tentatif label. Sehingga tentatif label yang dipilih untuk node-3 adalah (50,1).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena tidak ada lagi jalur yang dapat ditempuh menuju node-3 selain dari node-1 dan node-4, maka tentatif label (50,1) sudah menunjukkan jarak terpendek, sehinga tentatif label tersebut dapat diubah menjadi permanen label [50,1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMn5Q6sI/AAAAAAAAAZU/ib6Qy_NNOxM/s1600-h/s03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMn5Q6sI/AAAAAAAAAZU/ib6Qy_NNOxM/s400/s03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205061874480114370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Untuk mencapai node-2 hanya terdapat satu jalur yaitu melalui node 1 sehingga tentatif label pada node-2 dapat diubah menjadi permanen label [100,1].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Node-5 dapat dicapai oleh node-2 dan node-3, sehingga node-5 dapat memiliki tentatif label (200,2) dan (150,3). Tentatif label yang dipilih untuk node-5 adalah (150,3). Karena tidak terdapat lagi suatu node yang dapat mencapai node-5 dengan jarak yang lebih pendek dari 150 maka tentatif label berubah menjadi permanen label [150,3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYM35Q6tI/AAAAAAAAAZc/jREgiEyU7U0/s1600-h/s04.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYM35Q6tI/AAAAAAAAAZc/jREgiEyU7U0/s400/s04.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205061878775081682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Lakukan proses tersebut sampai seluruh node memiliki tentatif label dan seluruh tentatif label dapat berubah menjadi permanen label. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada iterasi akhir diperoleh hasil sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYNH5Q6uI/AAAAAAAAAZk/3GMpmZwrjd8/s1600-h/s05.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYNH5Q6uI/AAAAAAAAAZk/3GMpmZwrjd8/s400/s05.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205061883070048994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Hasil tersebut menunjukkan bahwa untuk mencapai node-13 jarak terpendeknya adalah melalui node-10, 7, 5, 3, 1. Artinya perjalanan dari node-1 (kantor lama) ke node-13 (kantor baru) hendaknya dapat melalui rute 1 – 3 – 5 – 7 – 10 – 13 dengan jarak total sebesar 430 miles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-3284419599122218933?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/3284419599122218933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/shorthes-path-problems.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3284419599122218933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3284419599122218933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/05/shorthes-path-problems.html' title='Shortest Path Problems'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDwYMX5Q6qI/AAAAAAAAAZE/i5CA7m0ni8g/s72-c/s01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4877720069812354147</id><published>2008-05-01T07:32:00.000+07:00</published><updated>2008-09-12T07:40:30.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Informasi'/><title type='text'>test code</title><content type='html'>&lt;div class="podPress_content"&gt;&lt;div style="display: block;" id="podPressPlayerSpace_9"&gt;&lt;object type="application/x-shockwave-flash" data="http://www.radiorodja.com/wp-content/plugins/podpress/players/1pixelout_player.swf" id="audioplayer9" height="24" width="290"&gt; &lt;param name="movie" value="http://www.radiorodja.com/wp-content/plugins/podpress/players/1pixelout_player.swf"&gt; &lt;param name="FlashVars" value="playerID=9&amp;amp;bg=0xF8F8F8&amp;amp;leftbg=0xEEEEEE&amp;amp;rightbg=0xCCCCCC&amp;amp;rightbghover=0x999999&amp;amp;lefticon=0x666666&amp;amp;righticon=0x666666&amp;amp;righticonhover=0xFFFFFF&amp;amp;text=0x666666&amp;amp;slider=0x666666&amp;amp;track=0xFFFFFF&amp;amp;loader=0x9FFFB8&amp;amp;border=0x666666&amp;amp;soundFile=http://av.stai-ali.ac.id/wp-content/uploads/dauroh-1428-sulhan1.mp3"&gt; &lt;param name="quality" value="high"&gt; &lt;param name="menu" value="false"&gt; &lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4877720069812354147?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4877720069812354147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/test.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4877720069812354147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4877720069812354147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/test.html' title='test code'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-5521718510873425135</id><published>2008-03-22T05:31:00.007+07:00</published><updated>2008-07-31T20:11:19.959+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Antara Reputasi dan Dosa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SIURqm4JffI/AAAAAAAAAjM/vvdqE2LFEAg/s1600-h/Water+Rippling.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 177px; height: 129px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SIURqm4JffI/AAAAAAAAAjM/vvdqE2LFEAg/s200/Water+Rippling.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225602366321556978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perbuatan dosa seringkali bersama kenikmatan-kenikmatan sesaat, ia laksana nila yang menetes dan masuk ke bejana, kemudian merusak manfaat dari isi bejana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana perkataan pepatah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga"&lt;/span&gt;. Pepatah tersebut mengisyaratkan tentang bahayanya perbuatan dosa terhadap reputasi yang telah susah payah kita bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah reputasi amat sangat rentan, karena bisa jadi ia hancur atas sebab kesalahan kecil saja. Padahal untuk membangun sebuah reputasi dibutuhkan waktu yang cukup lama bahkan tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis hampir setiap manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah mengingat kesalahan orang lain dari pada kesalahan dirinya sendiri. Mudah ingat terhadap kesalahan orang, tetapi menjadi pelupa terhadap kesalahan diri sendiri, itulah sifat umum dari makhluk yang bernama manusia. Hal ini lah yang menjadi katalisator untuk mempercepat reaksi perusakkan dari nila setitik terhadap susu sebelanga, karena orang yang ingat biasanya juga akan membicarakannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebuah reputasi telah kita nodai sendiri dengan kesalahan atau dosa tertentu dan kesalahan tersebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tidaklah merugikan orang lain&lt;/span&gt;, maka saya teringat dengan kata-kata yang sering kali diucapkan dalam mimbar2 khutbah dan majelis ta'lim yaitu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Kullu Banni Adam Khoththo, wa Khoiru Khoththoina At-Tawabun"&lt;/span&gt;. Kata-kata tersebut bersumber dari Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam yang artinya : Seluruh anak adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia pastilah pernah berbuat salah, dan bagi yang pernah berbuat salah terdapat sikap yang perlu ditempuh, antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAUBAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Asma bin Al-Hakam Al-Fazari, dia bercerita, aku pernah mendengar Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya aku adalah seseorang yang jika mendengar sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah memberiku manfaat dari hadits tersebut sesuai dengan kehendak-Nya untuk memberi manfaat kepadaku. Dan jika ada seseorang dari Sahabatnya menyampaikan hadits maka aku memintanya bersumpah. Jika dia mau bersumpah kepadaku, maka aku akan membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dan Abu Bakar adalah seorang yang jujur, dia bercerita, aku pernah mendengar &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Ali-Imran : 135]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERHENTI MENGURUS DOSA MILIK ORANG LAIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pedihnya dosa ataupun kebodohan, dan betapa besarnya resiko yang perlu ditanggung khususnya dalam hal reputasi, hal ini adalah sangat memalukan dan ketika kita mengingatnya maka rasanya kita ingin berteriak keras dan berharap teriakan tersebut dapat melepaskan kesesakkan dada kita akibat perbuatan masa silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita termasuk orang yang pernah berbuat kesalahan, dosa ataupun kebodohan, maka ketika kita melihat kesalahan / dosa orang lain; sudah sepantasnyalah kita mengatakan kepada diri sendiri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Wahai diri, sesungguhnya padamu juga terdapat dosa dan kebodohan; maka berhentilah untuk mengurus dan mengingat-ingat kesalahan dan dosa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan pedihnya akibat dosa untuk bertaubat&lt;br /&gt;Jadikan rasa sakitnya omongan orang lain atas diri kita sebagai pengalaman, sehingga kita tidak tega menjatuhkan reputasi orang lain atas ke-khilafannya. Bila kita memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup maka nasihatilah orang yang berbuat salah tersebut agar kembali ke jalan yang lurus, tapi jika kita tidak kuasa maka minimal kita kendalikan diri kita sehingga aibnya tidak tersebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain masalah, tentu lain sikap dan lain pula solusinya. Jika ada orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan maka tentunya ada cara tersendiri untuk menghadapinya, yaitu : &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2447/slash/0"&gt;[Klik Disini]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan sikap TAUBAT dan MUDAH MELUPAKAN KESALAHAN ORANG LAIN, Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan Allah memberikan jalan kemudahan kepada kita untuk memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Sebuah Renungan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-5521718510873425135?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/5521718510873425135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/07/antara-reputasi-dan-dosa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5521718510873425135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5521718510873425135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/07/antara-reputasi-dan-dosa.html' title='Antara Reputasi dan Dosa'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SIURqm4JffI/AAAAAAAAAjM/vvdqE2LFEAg/s72-c/Water+Rippling.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4855124870801999222</id><published>2008-02-12T06:46:00.004+07:00</published><updated>2009-05-08T07:00:39.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Keutamaan Ilmu Syar’i</title><content type='html'>[Part-1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/rUwdr3jZmZI&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/rUwdr3jZmZI&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Part-2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/G_XFS5gR2mI&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/G_XFS5gR2mI&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Part-3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/T9Wk0toduPA&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/T9Wk0toduPA&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendowload video disarankan untuk mendownload dan menginstall real player:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://uk.real.com/realplayer/"&gt;http://uk.real.com/realplayer/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendownload dan menginstallnya, cukup mengarahkan mouse ke video yang ikhwah sekalian sedang putar dan klik tombol download yang muncul dibagian kanan atas video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.lytebyte.com/2007/10/14/how-to-download-youtube-and-other-online-videos-using-real-player/"&gt;http://www.lytebyte.com/2007/10/14/how-to-download-youtube-and-other-online-videos-using-real-player/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau sebagai alternatif, bisa mendownload orbit youtube downloader:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.orbitdownloader.com/Use-as-YouTube-Downloader.htm"&gt;http://www.orbitdownloader.com/Use-as-YouTube-Downloader.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4855124870801999222?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4855124870801999222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/tema-keutamaan-ilmu-syari-pemateri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4855124870801999222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4855124870801999222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2008/09/tema-keutamaan-ilmu-syari-pemateri.html' title='Keutamaan Ilmu Syar’i'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4604490427220585125</id><published>2007-08-29T06:47:00.011+07:00</published><updated>2008-08-05T06:55:39.935+07:00</updated><title type='text'>Listen to my radio</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Radio Rodja&lt;/span&gt; merupakan sarana multimedia yang sangat positif dan bermanfaat bagi ummat, yang memiliki visi untuk menjadi media dakwah Islam yang Istiqomah menyampaikan Tasfiyyah dan Tarbiyyah dengan senantiasa merujuk kepada pemahaman generasi pertama dan utama ummat ini.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;         &lt;object id="fmp256" type="application/x-shockwave-flash" data="http://radio.hang106.or.id/radio/minicaster.swf" width="180" height="70"&gt;           &lt;param name="movie" value="http://hang106.or.id/minicaster.swf"&gt;           &lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;           &lt;param name="flashvars" value="config=http%3A//radio.hang106.or.id/radio/minicasterrodja.xml"&gt;           &lt;div class="stirfry"&gt;              &lt;h4&gt;Minicaster Radio Playhead&lt;/h4&gt;             &lt;p&gt;To listen you must &lt;a linkindex="10" href="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer/" title="Click here to install the Flash browser plugin from Macromedia"&gt;install                Flash Player&lt;/a&gt;. Visit &lt;a linkindex="11" href="http://www.draftlight.net/dnex/mp3player/minicaster/" title="Draftlight Networks"&gt;Draftlight                Networks&lt;/a&gt; for more info.&lt;/p&gt;           &lt;/div&gt;         &lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Radio Radja Live Streaming&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya radio ini bisa dinikmati di frekuensi 756 AM, tetapi jika anda berada di luar Jakarta dan bahkan luar negeri maka mendengarkan radio ini melalui Audio Live Streaming adalah pilihan yang sangat tepat. Nyalakan komputer, sambung internet dan buka web radio sesuai URL yang diberikan adalah solusinya. Lagi-lagi internet menjadi teknologi pilihan untuk mengatasi keterbatasan jangkauan gelombang radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bang Rohman, teman saya spesialis MIS dari bandung. Radio rodja juga dapat diputar di Winamp dengan cara [1] buka winamp [2] pilih add URL [3] masukan URL &lt;a href="http://rodja.sytes.net:8000/listen.pls"&gt;http://rodja.sytes.net:8000/listen.pls&lt;/a&gt; [4] kemudian play dan selamat mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian acara Radio Rodja dapat &lt;a href="http://radiorodja.com/wp-content/uploads/Info/POLA%20ACARA%20RODJA.pdf%20" target="_blank"&gt;di download disini&lt;/a&gt; atau dapat &lt;a href="http://www.radiorodja.com/jadwal-siaran/" target="_blank"&gt;dilihat disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.radiorodja.com/" target="_blank"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px;" src="http://www.radiorodja.com/wp-content/themes/blackgray-10/images/logo-rodja.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Radio Rodja, terdapat pula radio Da'wah Ahlussunnah lainnya yang dapat kami rekomendasikan untuk disimak, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Untuk mengunjunginya, klik pada gambar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://blog.hang106.or.id/?page_id=7" target="_blank"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px;" src="http://radio.hang106.or.id/radio/hang.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://blog.hang106.or.id/?page_id=33" target="_blank"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px;" src="http://radio.hang106.or.id/radio/assunahfm.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ada informasi lagi nih.&lt;br /&gt;Untuk teman2 yang tinggal di daerah Solo dan sekitarnya, dapat menyimak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Radio Suara Qur'an pada gelombang 94,4 FM&lt;/span&gt;. Sayangnya radio ini belum ada live streamingnya, mudah2an dalam waktu dekat live streamingnya sudah beres, sehingga ilmu-ilmu yang disampaikan dapat merebak ke seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah demikian dulu berbagi info dari saya, semoga Allah memberikan jalan petunjuk kepada kita dan semoga Allah memudahkan kita semua untuk bersabar dalam menetapi kebenaran. Amiiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4604490427220585125?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4604490427220585125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/listen-to-my-radio.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4604490427220585125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4604490427220585125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/listen-to-my-radio.html' title='Listen to my radio'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-12647577856833793</id><published>2007-08-28T19:23:00.028+07:00</published><updated>2008-05-28T20:03:35.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Analisis S.W.O.T</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1XoX5Q7fI/AAAAAAAAAgM/RSLEpOFRK90/s1600-h/180px-SWOT_en.svg.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1XoX5Q7fI/AAAAAAAAAgM/RSLEpOFRK90/s400/180px-SWOT_en.svg.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205413095430745586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dan Tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;SWOT adalah singkatan dari                    bahasa Inggris &lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;TRENGTHS&lt;/i&gt;                    (Kekuatan), &lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;W&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;EAKNESSES&lt;/i&gt;                    (Kelemahan), &lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;O&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;PPORTUNITIES&lt;/i&gt;                    (Peluang) dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;T&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;HREATS&lt;/i&gt;                    (Ancaman). Analisa SWOT berguna untuk menganalisa                    faktor-faktor di dalam organisasi yang memberikan andil                    terhadap kualitas pelayanan atau salah satu komponennya sambil                    mempertimbangkan faktor-faktor eksternal.&lt;/p&gt;                      &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Analsis SWOT dapat dibagikan dalam lima langkah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.                    Menyiapkan sesi SWOT.&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi kekuatan dan                    kelemahan.&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi kesempatan dan                    ancaman.&lt;br /&gt;4. Melakukan ranking terhadap kekuatan dan                    kelemahan.&lt;br /&gt;5. Menganalisis kekuatan dan kelemahan.&lt;/p&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manfaat Analisa SWOT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan pengetahuan dan                    pemahaman organisasi&lt;/p&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Langkah-Langkah Penerapan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 1: Menyiapkan sesi SWOT&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;SWOT kemungkinan akan menghabiskan waktu 50 - 60 menit.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peserta dibagi dalam kelompok dengan maksimum 6 orang                      per kelompok.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan menggunakan alat curah pendapat memilih pelayanan                      atau komponen pelayanan yang akan dianalisa.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap kelompok membuat sebuah matriks SWOT sesuai                      dengan contoh.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siapkan kartu dan kertas flipchart untuk setiap                      kelompok.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan seorang Pencatat. Tugas Pencatat adalah mengisi                      matriks SWOT. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 2: Mengidentifikasi kekuatan dan                    kelemahan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dengan menggunakan curah pendapat, tulis pada kartu                      semua kekuatan di dalam organisasi (internal). Kekuatan bisa                      berupa, tenaga trampil, gaji, sarana. Setelah kartu diisi                      tempelkan pada kertas flipchart.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah selesai menyusun kekuatan internal, dengan                      menggunakan curah pendapat, daftarkan kelemahan di dalam                      organisasi (internal) pada kartu lalu ditempelkan pada                      flipchart . &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 3: Mengidentifikasi kesempatan dan                    ancaman&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dengan menggunakan curah pendapat, daftarkan semua                      kesempatan di luar organisasi (kesempatan ekstern) yang                      dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan atau atasi                      sebuah masalah. Ini bisa berupa latihan, tenaga baru,                      peraturan baru dan seterusnya.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan menggunakan curah pendapat, buatlah daftar                      ancaman di luar organisasi (ancaman ekstern) yang dapat                      menghalangi pemecahan masalah. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 4: Melakukan ranking terhadap kekuatan,                    kelemahan, ancaman dan peluang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Daftarkan dalam kolom masing-masing: kekuatan,                      kelemahan, ancaman dan peluang.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah ranking setiap kolom. Yang perlu dipikirkan                      adalah pentingnya kesempatan / ancaman dan berapa besar                      kemungkinan kesempatan / ancaman tersebut memang akan ada.                      Begitu juga dengan ancaman dan peluang. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 5: Menganalisis kekuatan dan                    kelemahan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Masukan kekuatan dan kelemahan masuk matriks SWOT.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kekuatan diisi sesuai ranking yang telah dikerjakan,                      kekuatan yang paling besar di atas, yang kurang besar di                      bawah.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah kekuatan diisi, disusul dengan kelemahan.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masukan kesempatan dan ancaman di dalam kolom.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hubungkan kekuatan dan kelemahan dengan kesempatan dan                      ancaman.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kombinasi di mana kekuatan bertemu dengan kesempatan                      adalah keadaan yang paling positif. Keadaan ini harus                      dipelihara dengan baik supaya tetap ada.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kombinasi kelemahan dan ancaman adalah keadaan yang                      paling negatif dan harus dihindari.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap kombinasi diperiksa ulang kalau memang merupakan                      jalan keluar untuk mengurangi kelemahan atau ancaman.                    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                      &lt;p&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Analisis SWOT bukanlah akhir dari                    proses. Untuk memanfaatkan sepenuhnya alat ini, anda perlu                    menentukan rencana tindak lanjut. Juga alat ini cenderung                    berdasarkan pada "pendapat" dan indikator-indikator kualitatif                    dan belum tentu pada "kenyataan".&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1Xdn5Q7eI/AAAAAAAAAgE/6avmUMDlP2g/s1600-h/swot-dian-24jun07.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1Xdn5Q7eI/AAAAAAAAAgE/6avmUMDlP2g/s400/swot-dian-24jun07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205412910747151842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1YCH5Q7gI/AAAAAAAAAgU/8-Xk1AM3W8E/s1600-h/swot.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1YCH5Q7gI/AAAAAAAAAgU/8-Xk1AM3W8E/s400/swot.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205413537812377090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-12647577856833793?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/12647577856833793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/analisis-swot.html#comment-form' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/12647577856833793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/12647577856833793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/analisis-swot.html' title='Analisis S.W.O.T'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1XoX5Q7fI/AAAAAAAAAgM/RSLEpOFRK90/s72-c/180px-SWOT_en.svg.png' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4728172544776000565</id><published>2007-08-28T19:23:00.024+07:00</published><updated>2008-05-28T19:51:39.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Fishbone Analysis</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Pengertian dan Tujuan&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Analisa tulang ikan dipakai                    jika ada perlu untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial                    dari satu masalah atau pokok persoalan dengan cara yang mudah                    dimengerti dan rapi. Juga alat ini membantu kita dalam                    menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses. Yaitu                    dengan cara memecah proses menjadi sejumlah kategori yang                    berkaitan dengan proses, mencakup manusia, material, mesin,                    prosedur, kebijakan dan sebagainya.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Langkah-Langkah:&lt;/p&gt;                   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menyiapkan sesi sebab-akibat                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi akibat                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi berbagai kategori.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang                      saran.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling                      mungkin &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manfaat Analisa Tulang Ikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memperjelas                    sebab-sebab suatu masalah atau persoalan&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Langkah-Langkah Penerapan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 1: Menyiapkan sesi Analisa Tulang                    Ikan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Analisa Tulang Ikan kemungkinan akan menghabiskan waktu                      50 - 60 menit.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peserta dibagi dalam kelompok, maksimum 6 orang per                      kelompok.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan menggunakan alat curah pendapat memilih pelayanan                      atau komponen pelayanan yang akan dianalisa.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siapkan kartu dan kertas flipchart untuk setiap                      kelompok.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah gambar pada flipchart berdasarkan contoh dibawah                      ini.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan seorang Pencatat. Tugas Pencatat adalah mengisi                      diagram tulang ikan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 2: Mengidentifikasi akibat atau                    masalah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Akibat atau masalah yang akan ditangani tulislah pada                      kotak sebelah paling kanan diagram tulang ikan. Misalnya                      Laporan Anggaran Akhir bulan terlambat. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 3: Mengidentifikasi berbagai kategori sebab                    utama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dari garis horizontal utama, ada empat garis diagonal                      yang menjadi "cabang". Setiap cabang mewakili "sebab utama"                      dari masalah yang ditulis.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian                      rupa sehingga masuk akal dengan situasi. Kategori-kategori                      ini bisa diringkas seperti :                      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Mesin, Materi,                        Pengukuran                        &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode, Mesin, Material, Manusia - (4M)                        &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tempat (&lt;i&gt;Place&lt;/i&gt;), Prosedur (&lt;i&gt;Procedure&lt;/i&gt;),                        Manusia (&lt;i&gt;People&lt;/i&gt;), Kebijakan (&lt;i&gt;Policy&lt;/i&gt;) - (4P)                        &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lingkungan (&lt;i&gt;Surrounding&lt;/i&gt;), Pemasok                        (&lt;i&gt;Supplier&lt;/i&gt;), Sistem (&lt;i&gt;System&lt;/i&gt;), Keterampilan                        (&lt;i&gt;Skill&lt;/i&gt;) - (4S) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kategori tersebut hanya sebagai saran; bisa menggunakan                      kategori lain yang dapat membantu mengatur gagasan-gagasan.                      Sebaiknya tidak ada lebih dari 6 kotak. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 4: Menemukan sebab-sebab potensial dengan                    cara sumbang saran&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu                      diuraikan dengan menggunakan curah pendapat.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama                      dimana sebab tersebut harus ditempatkan dalam Diagram tulang                      ikan. (&lt;i&gt;yaitu, tentukan di bawah kategori yang mana                      gagasan tersebut harus ditempatkan. Misalnya di kategori                      mesin.&lt;/i&gt;)                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebab-sebab ditulis pada garis horizontal sehingga                      banyak "tulang" kecil keluar dari garis horizontal utama.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suatu sebab bisa ditulis dibawah lebih dari satu                      kategori sebab utama (&lt;i&gt;misalnya, menerima data yang                      terlambat bisa diletakkan dibawah manusia dan sistem&lt;/i&gt;).                      &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 5: Mengkaji kembali setiap kategori sebab                    utama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setelah setiap kategori diisi carilah sebab-sebab yang                      muncul pada lebih dari satu kategori. Sebab - sebab inilah                      yang merupakan petunjuk "sebab yang tampaknya paling mungkin                      " lingkarilah sebab yang tampaknya paling memungkin pada                      diagram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catat jawabannya pada kertas flipchart                      terpisah. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                   &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Langkah 6: Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang                    paling mungkin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Diantara semua sebab-sebab, harus dicari sebab yang                      paling mungkin.&lt;/i&gt;                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan                      (&lt;i&gt;sebab yang tampaknya paling memungkinkan&lt;/i&gt;) dan                      tanyakan , "Mengapa ini sebabnya ?"                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertanyaan "&lt;i&gt;Mengapa ?" akan membantu Anda sampai pada                      sebab pokok dari permasalahan teridentifikasi&lt;/i&gt;.                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanyakan "Mengapa ?" sampai saat pertanyaan itu tidak                      bisa dijawab lagi. Kalau sudah sampai kesitu sebab pokok                      telah terindentifikasi. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                   &lt;p&gt;Contoh:&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U535Q7bI/AAAAAAAAAfs/gvJMWGJORq4/s1600-h/fishbone.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U535Q7bI/AAAAAAAAAfs/gvJMWGJORq4/s400/fishbone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205410097543572914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U6X5Q7cI/AAAAAAAAAf0/MXynd5-pxIY/s1600-h/fivewhys.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U6X5Q7cI/AAAAAAAAAf0/MXynd5-pxIY/s400/fivewhys.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205410106133507522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U635Q7dI/AAAAAAAAAf8/XyFe_y26zCU/s1600-h/hm_4tulangikan.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U635Q7dI/AAAAAAAAAf8/XyFe_y26zCU/s400/hm_4tulangikan.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205410114723442130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4728172544776000565?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4728172544776000565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/fishbone-analysis.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4728172544776000565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4728172544776000565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/fishbone-analysis.html' title='Fishbone Analysis'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SD1U535Q7bI/AAAAAAAAAfs/gvJMWGJORq4/s72-c/fishbone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4821313807782335079</id><published>2007-08-28T19:23:00.023+07:00</published><updated>2008-05-28T12:12:08.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metode Analysis'/><title type='text'>Statistik Uji yang Berguna untuk Pemilihan Metode</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pemilihan Metode Peramalan Terbaik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Metode peramalan yang paling sesuai umumnya adalah metode yang memiliki kesalahan rata-rata (MSE) dan kesalahan persentase absolut (MAPE) yang paling kecil. Agar setiap pendekatan peramalan dapat realistis dan secara praktis relevan, maka ada dua masalah utama yang harus dihindari dalam memilih sebuah metode, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;pemilihan didasari oleh sampai sejauh mana sebuah metode sesuai dengan data yang tersedia untuk ramalan satu periode ke muka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; pola data atau hubungannya selalu diasumsikan bersifat konstan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karakteristik yang diinginkan dalam sebuah pendekatan baru mungkin tampak sebagai suatu kontradiksi. Misalnya, setiap metode deret waktu harus didasari oleh data masa lalu, sedangkan dalam saat yang bersamaan kondisi data di masa mendatang belum tentu sama dengan masa lalu. Oleh karena itu akurasi peramalan tidak hanya diukur sampai sejauh mana metode yang digunakan sesuai dengan data historis, tetapi juga diukur dari sampai sejauh mana metode yang digunakan tersebut mampu untuk memprediksi kondisi 1,2,3, ..........,m periode ke depan (Makridakis dan Wheelwright, 1994).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut Hibon dan Makridakis (1979) langkah awal dalam membuat ramalan masa mendatang adalah menentukan apakah akan digunakan metode peramalan formal atau prosedur informal. Fakta yang diperoleh dari literatur yang menjiwai menyatakan dengan tegas bahwa pada kondisi data yang senantiasa berulang, metode kuantitatif atau metode peramalan formal lebih baik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daripada prosedur informal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pengujian akurasi beberapa metode peramalan formal untuk beberapa horison waktu dilakukan dengan menggunakan simulasi luncur yang oleh Makridakis dan Wheelwright (1994) dijelaskan dalam tahapan-tahapan sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Data historis sebanyak n periode dikumpulkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sejumlah n-12 data pertama dianalisis dan kemudian ramalan 12 periode ke depan dibuat untuk setiap metode yang telah dipilih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Guna membandingkan tingkat akurasi pada masing-masing metode maka hasil ramalan dari masing-masing metode tersebut diuji dengan beberapa uji ketepatan metode dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memanfaatkan 12 data aktual yang masih tersisa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jumlah data yang dianalisis kemudian ditambah satu persatu sampai tidak ada data yang tersisa. Bersamaan dengan itu ramalan untuk 12 periode terakhir juga tetap dilakukan, sehingga diperoleh nilai ramalan untuk 11, 10, 9, 8 sampai dengan 1 periode mendatang. Hasil-hasil ramalan pada masing-masing horison waktu tersebut kemudian diuji dengan beberapa uji ketepatan metode dan uji-uji lainnya sebagaimana yang dilakukan pada langkah 3.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Kesalahan rata-rata untuk setiap horison waktu dan ukuran ketepatan untuk setiap metode dihitung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Metode peramalan formal yang dianggap paling sesuai dipilih berdasarkan beberapa ukuran ketepatan ramalan pada setiap horison waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Statistik Uji yang Berguna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Dalam banyak situasi peramalan, ketepatan dipandang sebagai kriteria penolakan untuk memilih suatu metode peramalan. Guna mengukur ketepatan ramalan, maka dibutuhkan uji-uji ketepatan ramalan. Beberapa uji ketepatan ramalan yang sering digunakan antara lain adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Kesalahan kuadrat rata-rata (MSE)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjH5Q7WI/AAAAAAAAAes/0VotHweNWmw/s1600-h/su01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjH5Q7WI/AAAAAAAAAes/0VotHweNWmw/s400/su01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205276665794588002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;dengan e&lt;sub&gt;t&lt;/sub&gt; adalah nilai sisa atau selisih antara data aktual dengan nilai ramalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;(b) Kesalahan persentase absolut rata-rata (MAPE)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjX5Q7XI/AAAAAAAAAe0/tc7nJpbQG8o/s1600-h/su02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjX5Q7XI/AAAAAAAAAe0/tc7nJpbQG8o/s400/su02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205276670089555314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;dengan, X&lt;sub&gt;t&lt;/sub&gt; adalah data aktual dan F&lt;sub&gt;t&lt;/sub&gt; adalah nilai ramalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kegunaan dari kedua ukuran ketepatan peramalan tersebut adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Untuk membandingkan ketepatan peramalan yang dilakukan dengan dua metode yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Untuk mencari teknik yang optimal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;A&lt;/span&gt;kan sangat bermanfaat jika terdapat suatu ukuran yang dapat mempertimbangkan ketidakseimbangan biaya dari komponen kesalahan yang besar dan memberikan dasar perbandingan relatif terhadap metode naif. Salah satu ukuran yang memiliki karakteristik ini adalah statistik U yang dikembangkan oleh Theil. Secara matematis statistik U-Theil didefinisikan sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjX5Q7YI/AAAAAAAAAe8/asSlVCCN1hA/s1600-h/su03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjX5Q7YI/AAAAAAAAAe8/asSlVCCN1hA/s400/su03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205276670089555330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Kisaran nilai statistik U-Theil dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Webdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jika U = 1, maka metode naif sama baiknya dengan teknik atau metode yang dievaluasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Webdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jika U &lt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Webdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jika U &gt; 1 maka tidak ada gunanya menggunakan teknik peramalan formal, karena hasilnya tidak lebih baik daripada metode naif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu diperlukan pula suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menunjukkan apakah masih terdapat sisa pola di dalam nilai kesalahan setelah suatu metode peramalan diterapkan. Statistik uji yang dapat digunakan untuk keperluan ini adalah statistik Durbin-Watson (statistik D-W), yang secara matematis didefinisikan sebagai :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjX5Q7ZI/AAAAAAAAAfE/Av5jEp3Ysvc/s1600-h/su04.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjX5Q7ZI/AAAAAAAAAfE/Av5jEp3Ysvc/s400/su04.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205276670089555346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Statistik D-W menguji hipotesa bahwa tidak terdapat autokorelasi pada nilai sisa. Statistik D-W nilainya berkisar antara 0 sampai 4 dengan pusat bernilai 2. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Selang kepercayaan dapat dibentuk dengan melibatkan 5 wilayah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;D-W &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;£&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; D-W&lt;sub&gt;L&lt;/sub&gt; = terdapat autokorelasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;D-W&lt;sub&gt;L&lt;/sub&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;D-W&lt;sub&gt;L &lt;/sub&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;£&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; D-W&lt;sub&gt;U&lt;/sub&gt; = pengujian mengenai ada atau tidaknya autokorelasi tidak dapat ditentukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;D-W&lt;sub&gt;L&lt;/sub&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;D-W&lt;sub&gt;L &lt;/sub&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;£&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; 4-D-W&lt;sub&gt;U&lt;/sub&gt; = tidak terdapat autokorelasi pada nilai sisa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;4-D-W&lt;sub&gt;L&lt;/sub&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;D-W&lt;sub&gt;L &lt;/sub&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;£&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; 4-D-W&lt;sub&gt;U&lt;/sub&gt; = pengujian tidak dapat disimpulkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;D-W &gt; 4-D-W&lt;sub&gt;L&lt;/sub&gt; = terdapat autokorelasi pada nilai sisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4821313807782335079?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4821313807782335079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/statistik-uji-yang-berguna-untuk.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4821313807782335079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4821313807782335079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/statistik-uji-yang-berguna-untuk.html' title='Statistik Uji yang Berguna untuk Pemilihan Metode'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzbjH5Q7WI/AAAAAAAAAes/0VotHweNWmw/s72-c/su01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4527840399433610644</id><published>2007-08-28T19:23:00.022+07:00</published><updated>2008-05-28T11:25:04.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metode Analysis'/><title type='text'>Metode Dekomposisi Census II</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Metode dekomposisi Census II pada prinsipnya adalah hasil pengembangan dari metode dekomposisi klasik dengan mempertajam sistem pemisahan komponen musiman dengan komponen-komponen lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Artikel ini akan membahas tentang metode dekomposisi Census II hanya pada cara pemisahan komponen musiman saja, karena metode untuk memisahkan komponen tren dan siklus dapat dilakukan seperti penerapa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;n metode dekomposisi klasik (baca artikel : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/01/metode-peramalan-bisnis-dan-upaya_17.html"&gt;Metode Peramalan Bisnis dan Upaya Memperoleh Akurasi yang Lebih Baik)&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pemisahan komponen musiman dengan metode Census II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Metode dekomposisi Census II sebagaimana yang dijelaskan oleh Reitsch dan Hanke (1981) memiliki pendekatan yang terdiri dari 4 fase. Pada fase pertama dilakukan penyesuaian data menurut hari perdagangan. Penyesuaian data terhadap hari perdagangan sangatlah penting karena banyaknya jam kerja atau perdagangan, variasi hari dari tahun ke tahun memberi sumbangan tertentu atau pengaruh tertentu dalam tingkat penjualan. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Makridakis, Wheelwright dan McGee (1992), bahwa dalam beberapa industri seperti penjualan eceran dan bank, faktor ini menjadi sangat penting, karena faktor tersebut akan dapat berpengaruh nyata pada tingkat penjualan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Fase kedua dari metode ini adalah meliputi estimasi awal dari faktor musiman dan penyesuaian deret data aktual dengan faktor musimannya. Dalam fase ini dibuat pemisahan awal faktor musiman dari komponen tren, siklus dan kemudian dilakukan pengisolasian komponen random. Pada fase ketiga, penyesuaian yang telah dilakukan pada fase kedua kembali dilakukan guna memperbaiki proses penyesuaian musiman dan untuk memperoleh faktor musiman yang lebih akurat. Fase terakhir dari metode Census II adalah dengan melakukan uji yang sangat berguna untuk menerangkan bagaimana metode ini berhasil mengisolasi faktor musiman dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk pengembangan peramalan lebih lanjut dari tren-siklus (Reitsch dan Hanke, 1981).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tahapan-tahapan metode Census II dalam mengidentifikasi komponen musiman dari deret waktu secara lebih terinci dijelaskan oleh Makridakis, Wheelwright dan McGee (1992), sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Data hari perdagangan perbulan dikumpulkan. Data tersebut kemudian dirata-rata, sehingga diperoleh nilai rata-rata hari perdagangan perbulan. Koefisien hari perdagangan per bulan diperoleh dengan membagi data hari perdagangan pada bulan tertentu dengan nilai rata-rata hari perdagangan pada bulan yang berkesesuaian. Kemudian data asli dibagi dengan koefisien hari perdagangan yang berkesesuaian sehingga akhirnya diperolehlah deretan data yang telah disesuaikan menurut hari perdagangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Rata-rata bergerak 12 x 2 atau 4 x 2 dihitung sebagaimana yang dilakukan pada metode klasik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sebelum komponen musiman diestimasi, maka nilai-nilai ekstrim yang ada haruslah terlebih dahulu dikeluarkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Hal tersebut dapat dilakukan yaitu dengan melalui tahapan berikut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;MA 3x3 diterapkan pada deret data rasio terpusat (Rt) guna menghilangkan komponen random sebanyak mungkin. Kehilangan 2 buah data pada setiap ujung-ujung deret dapat diatasi dengan membuat nilai taksiran sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Deviasi standar per bulan kemudian dihitung dengan menghitung jumlah kuadrat dari selisih antara nilai rasio terpusat, Rt, dengan hasil MA 3x3. Deviasi standar tersebut kemudian digunakan untuk membuat batas kontrol sebesar MA 3x3 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; 2.(Deviasi Standar). Nilai-nilai Rt yang lebih kecil atau lebih besar dari batas kontrol tersebut kemudian diganti dengan nilai yang berkesesuaian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Enam data yang hilang pada setiap ujung deret di saat rata-rata bergerak terpusat 12 bulanan diterapkan diganti dengan nilai-nilai ditahun sebelum dan sesudahnya. Agar angka rata-rata perbulan adalah 100 maka, rasio tiap tahun disesuaikan sehingga jumlahnya menjadi 1200. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Rata-rata bergerak 3 x 3 kemudian diterapkan pada deret data yang telah diperoleh pada langkah 3. Hal ini dimaksudkan agar komponen musiman dapat terbebas dari gerakan acak yang disebabkan oleh adanya komponen random, sehingga diperolehlah faktor penyesuaian musiman awal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Deret data asli atau deret data yang telah disesuaikan menurut hari perdagangan kemudian dibagi dengan faktor penyesuaian musiman awal, sehingga diperolehlah deret data yang disesuaikan menurut musim awal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Rata-rata bergerak berbobot 15 bulanan dari Spencer kemudian diterapkan guna mengeliminasi pengaruh komponen random dari hasil penyesuaian musiman awal. Estimasi komponen tren dan siklus yang lebih halus diperoleh dari rata-rata bergerak ini. Adapun bentuk persamaan dari rata-rata bergerak tersebut adalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7KI/AAAAAAAAAdM/c-sqmPAkYcw/s1600-h/cen01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 395px; height: 79px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7KI/AAAAAAAAAdM/c-sqmPAkYcw/s320/cen01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205267818161958050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tahapan penyesuaian musiman akhir dilakukan pertama-tama dengan membagi data asli dengan hasil estimasi komponen tren-siklus yang diperoleh dari hasil penerapan rata-rata bergerak Spencer. Faktor penyesuaian musiman akhir diperoleh dengan mengulangi langkah ke-3 sampai dengan langkah ke-6.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;  Setelah faktor penyesuaian musiman akhir diperoleh maka faktor musiman untuk 12 periode mendatang diramalkan dengan persamaan berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7LI/AAAAAAAAAdU/lHQwrsMLayw/s1600-h/cen02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7LI/AAAAAAAAAdU/lHQwrsMLayw/s320/cen02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205267818161958066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;  Setelah komponen dasar dari deret waktu selesai diestimasi, maka dalam fase terakhir dari metode ini dilakukan pengujian deret data guna menentukan apakah dekomposisi tersebut sukses atau tidak. Uji yang dilakukan untuk menentukan keberhasilan dari pemisahan komponen musiman adalah uji bulan / periode yang berdekatan, AMT&lt;sub&gt;t&lt;/sub&gt; , dengan persamaan sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7MI/AAAAAAAAAdc/BEFINs3nJzk/s1600-h/cen03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7MI/AAAAAAAAAdc/BEFINs3nJzk/s320/cen03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205267818161958082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 14.2pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Penyesuaian komponen musiman dikatakan berhasil jika nilai AMT&lt;sub&gt;t&lt;/sub&gt; berada disekitar 100 atau terdapat dalam batas kontrol 100 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; 5.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;span class="post-author"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="email-post.g?blogID=21974051&amp;amp;postID=4527840399433610644" title="Email Post"&gt; &lt;span class="email-post-icon"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artikel terkait :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/01/metode-peramalan-bisnis-dan-upaya_17.html"&gt;Metode Peramalan Bisnis dan Upaya Memperoleh Akurasi yang Lebih Baik&lt;/a&gt;&lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-dekomposisi-census-ii.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-pemulusan-eksponensial.html"&gt;Metode Pemulusan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/statistik-uji-yang-berguna-untuk.html"&gt;Statistik Uji Yang Berguna Untuk Pemilihan Metode&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4527840399433610644?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4527840399433610644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-dekomposisi-census-ii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4527840399433610644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4527840399433610644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-dekomposisi-census-ii.html' title='Metode Dekomposisi Census II'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzTgH5Q7KI/AAAAAAAAAdM/c-sqmPAkYcw/s72-c/cen01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-604516840384783528</id><published>2007-08-28T19:23:00.018+07:00</published><updated>2008-05-28T11:08:14.277+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metode Analysis'/><title type='text'>Metode Pemulusan Eksponensial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Metode pemulusan eksponensial tunggal dikembangkan dengan sebuah persamaan awal yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZo35Q7RI/AAAAAAAAAeE/b9AQTrTBOic/s1600-h/pe01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 471px; height: 128px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZo35Q7RI/AAAAAAAAAeE/b9AQTrTBOic/s400/pe01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274565555580178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Bila nilai X&lt;sub&gt;t-n&lt;/sub&gt; tidak tersedia maka harus dilakukan penggantian dengan suatu pendekatan (aproksimasi). Salah satu pengganti yang mungkin adalah F&lt;sub&gt;t&lt;/sub&gt;, sehingga persamaan (2.1) menjadi :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="position: relative; top: 5pt;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:9pt;" ole="" fillcolor="window"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\DICKYR~1.COM\LOCALS~1\Temp\msohtml1\06\clip_image001.wmz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:oleobject type="Embed" progid="Equation.3" shapeid="_x0000_i1025" drawaspect="Content" objectid="_1273477884"&gt;  &lt;/o:OLEObject&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZo35Q7SI/AAAAAAAAAeM/A3DflUftdMg/s1600-h/pe02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZo35Q7SI/AAAAAAAAAeM/A3DflUftdMg/s400/pe02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274565555580194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena n merupakan bilangan positif maka nilai 1/n akan menjadi suatu konstanta yang nilainya berkisar antara 0 dan 1. Jika nilai 1/n diganti dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial; position: relative; top: 3pt;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:11.25pt;" fillcolor="window"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\DICKYR~1.COM\LOCALS~1\Temp\msohtml1\07\clip_image001.wmz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; alpha, &lt;/span&gt;maka persamaan (2.3) menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZpH5Q7TI/AAAAAAAAAeU/AEGOKmsGGyE/s1600-h/pe03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZpH5Q7TI/AAAAAAAAAeU/AEGOKmsGGyE/s400/pe03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274569850547506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Metode pemulusan eksponensial tunggal tidak cukup baik diterapkan jika datanya bersifat tidak stasioner, karena persamaan yang digunakan dalam metode eksponensial tunggal tidak terdapat prosedur pemulusan pengaruh tren yang mengakibatkan data tidak stasioner menjadi tetap tidak stasioner, tetapi metode ini merupakan dasar bagi metode-metode pemulusan eksponensial lainnya (Makridakis, Wheelwright dan McGee,1992).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Menurut Assauri (1984), dasar pemikiran dari metode pemulusan eksponensial tunggal maupun ganda adalah bahwa nilai pemulusan akan terdapat pada waktu sebelum data sebenarnya apabila pada data tersebut terdapat komponen tren. Oleh karena itu untuk nilai-nilai pemulusan tunggal perlu ditambahkan nilai pemulusan ganda guna menyesuaikan tren. Metode yang sedemikian itu dikenal dengan nama metode Brown. Adapun formula yang dipergunakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZpH5Q7UI/AAAAAAAAAec/iqMQZ25c7o0/s1600-h/pe04.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 459px; height: 352px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZpH5Q7UI/AAAAAAAAAec/iqMQZ25c7o0/s400/pe04.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274569850547522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Menurut Reitsch dan Hanke (1989), metode pemulusan eksponensial ganda lain yang dapat digunakan untuk menangani tren yang linier adalah metode 2 parameter dari Holt. Pada metode Holt nilai tren tidak dimuluskan dengan pemulusan ganda secara langsung, tetapi proses pemulusan tren dilakukan dengan menggunakan parameter yang berbeda dengan parameter yang digunakan pada pemulusan data asli. Pada metode Brown hanya terdapat satu parameter saja dan estimasi nilai tren masih sangat sensitif sekali terhadap fluktuasi random. Metode Holt memberikan banyak kefleksibelan dalam menseleksi komponen tren. Metode Holt secara matematis ditulis pada tiga persamaan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZpX5Q7VI/AAAAAAAAAek/VvBbGuMT1fg/s1600-h/pe05.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZpX5Q7VI/AAAAAAAAAek/VvBbGuMT1fg/s400/pe05.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274574145514834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Pemulusan eksponensial ganda pada metode Brown dan metode Holt hanya bisa dipergunakan untuk data yang tidak mengandung faktor musiman. Jika data yang akan dianalisis merupakan data musiman maka diperlukan sebuah metode pemulusan yang dapat menangani faktor musiman secara langsung. Metode tersebut adalah metode Winters. Metode ini serupa dengan metode Holt dengan ditambah sebuah persamaan untuk mengatasi variasi musim sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZT35Q7PI/AAAAAAAAAd0/qOs6KPhPb0Y/s1600-h/pe06.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 465px; height: 340px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZT35Q7PI/AAAAAAAAAd0/qOs6KPhPb0Y/s400/pe06.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274204778327282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Menurut Makridakis, Wheelwright dan McGee (1992), jika indeks musiman yang dipergunakan untuk inisialisasi nilai-nilai awal komponen musiman tidak tersedia maka nilai-nilai tersebut dapat ditaksir atau didekati dengan nilai-nilai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZT35Q7QI/AAAAAAAAAd8/d47epbq6-Xk/s1600-h/pe07.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 436px; height: 161px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZT35Q7QI/AAAAAAAAAd8/d47epbq6-Xk/s400/pe07.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205274204778327298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-604516840384783528?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/604516840384783528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-pemulusan-eksponensial.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/604516840384783528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/604516840384783528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/metode-pemulusan-eksponensial.html' title='Metode Pemulusan Eksponensial'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SDzZo35Q7RI/AAAAAAAAAeE/b9AQTrTBOic/s72-c/pe01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-2271951041386942419</id><published>2007-08-28T19:22:00.030+07:00</published><updated>2008-06-04T22:53:53.096+07:00</updated><title type='text'>Implementasi Sistem Database Terdistribusi Pada MySQL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Secara definisi replikasi memiliki pengertian sebagai suatu proses mencopy atau mentransfer data dari suatu database ke database lain yang tersimpan pada komputer berbeda. Bila menilik artikel yang saya tulis sebelumnya tentang &lt;a href="http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/02/pengenalan-arsitektur-data-base.html"&gt;Pengenalan Arsitektur Database&lt;/a&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;,&lt;/span&gt; replikasi dapat difahami sebagai proses pengkopian dan pengelolaan objek-objek dari database yang membentuk suatu sistem database terdistribusi (Distributed Database).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya MySQL dipergunakan secara massal sebagai Database yang cukup handal dalam menangani sistem database terpusat, seperti kebanyakan sistem database yang digunakan untuk web site, content management system, dan lain-lain. Bahkan hampir seluruh penyedia layanan hosting menyertakan dukungan produk MySQL untuk kelengkapan service-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan MySQL untuk mendukung proses replikasi database pada saat artikel ini ditulis masih sangat jarang ditemui. Implementasi sistem database terdistribusi kebanyakan masih berkiblat pada software-software dengan bandrol yang tinggi seperti Oracle, SQL Server, IBM DB2 dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MySQL dalam hal ini tentunya tidak mau ketinggalan. Mulai versi 5.0 MySQL sudah mendukung sistem replikasi yang mana sebuah database server yang berfungsi sebagai master dapat tereplikasi datanya ke dalam satu atau lebih database server yang difungsikan sebagai slave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model replikasi pada MySQL adalah Asynchronous, sehingga server dengan type slave tidak selalu harus terkoneksi secara permanen untuk menerima berbagai update pada database server master. Replikasi dapat diberlakukan pada sebagian table atau pada keseluruhan database, tergantung pada kebutuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan proses replikasi dibutuhkan :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;dua atau lebih komputer yang berfungsi sebagai server, satu server berperan sebagai master dan yang lainnya sebagai slave&lt;/li&gt;&lt;li&gt;adanya koneksi jaringan baik melalui LAN, WAN ataupun Wireless (setting IP Address tidak akan dibahas pada artikel ini, pembaca dianggap sudah mengerti)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setting Pada Komputer Master&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Buka file my.ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Jika anda menggunakan paket Wampserver, maka tambahkan opsi berikut ini pada bagian bawah tag [wampmysqld]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;server-id = 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;log-bin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;(3) Setelah itu restrart MySQL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Kemudian masuk ke MySQL console dengan perintah : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;mysql -u root -p {password yang sesuai};&lt;/span&gt;&lt;masukkan&gt;&lt;br /&gt;Keterangan : tidak ada spasi antara -p dengan password&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Jalankan perintah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GRANT REPLICATION SLAVE ON *.* TO 'slave_user'@'%' IDENTIFIED BY '&lt;some_password&gt;some_password'; &lt;/some_password&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;keterangan : ganti &lt;some_password&gt; dengan password yang sesuai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6)  Jalankan perintah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FLUSH PRIVILEGES;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;USE mydatabase;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FLUSH TABLES WITH READ LOCK;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SHOW MASTER STATUS;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keterangan : ganti mydatabase sesuai dengan nama database yang akan direplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) perintah di atas akan menghasilkan contoh keluaran sebagai berikut : (Lain komputer akan lain keluaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;+---------------+----------+--------------+------------------+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;| File                   | Position | Binlog_do_db | Binlog_ignore_db |&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;+---------------+----------+--------------+------------------+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;| mysql-bin.009 | 130      | mydatabase   |                                   |&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;+---------------+----------+--------------+------------------+&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;1 row in set (0.00 sec)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Kemudian jalankan perintah unlock sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UNLOCK TABLES;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) Langkah terakhir adalah keluar dari console dengan perintah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;quit;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setting Pada Komputer Slave (bisa lebih dari 1 server)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Buat database yang sama dengan milik master, misal : mydatabase&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mysql -u root -p&lt;/span&gt;&lt;masukkan&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;/some_password&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; {password yang sesuai}&lt;/span&gt;&lt;masukkan&gt;&lt;some_password&gt;&lt;masukkan&gt;;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Create database mydatabase;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;quit;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Buka file my.ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Jika anda menggunakan paket Wampserver, maka tambahkan opsi berikut ini pada bagian bawah tag [wampmysqld]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;server-id = 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;master-host=192.168.1.1&lt;br /&gt;master-user=slave_user&lt;br /&gt;master-password='some_password'&lt;/span&gt;&lt;some_password&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;master-connect-retry=60&lt;br /&gt;replicate-do-db=mydatabase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal : &lt;/span&gt;komputer master memiliki IP 192.168.1.1&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;(3) Setelah itu restart MySQL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Kemudian masuk lagi ke console dengan perintah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mysql -u root -p&lt;/span&gt;&lt;masukkan&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;/some_password&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;/some_password&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; {password yang sesuai}&lt;/span&gt;&lt;masukkan&gt;&lt;some_password&gt;&lt;masukkan&gt;&lt;some_password&gt;&lt;masukkan&gt;;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STOP &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SLAVE;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Jalankan perintah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CHANGE MASTER TO MASTER_HOST='192.168.1.1'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-&gt; MASTER_USER='slave_user'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-&gt; MASTER_PASSWORD='&lt;some_password&gt;'&lt;/some_password&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-&gt; MASTER_LOG_FILE='mysql-bin.009'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-&gt; MASTER_LOG_POS=130; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;START SLAVE;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6)  Langkah terakhir adalah keluar dari console dengan perintah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;quit;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jika perintah di atas dijalankan dengan benar, maka segala perubahan data yang terjadi pada database server master akan selalu diikuti oleh server lain yang berfungsi sebagai slave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;/some_password&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;/some_password&gt;&lt;/masukkan&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;--- Selamat Mencoba ---&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perhatian : &lt;/span&gt;Seluruh artikel di &lt;a href="http://dickyrahardi.com/"&gt;DickyRahardi.Com&lt;/a&gt; bebas disajikan kepada publik, bilamana hendak mengkutip sebagian atau keseluruhan artikel wajib menyertakan sumbernya secara jelas yaitu : dickyrahardi.com, dickyrahardi.blogspot.com, dickyrahardi.wordpress.com, atau sesuai dengan link per artikel secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(c) 2008, dickyrahardi.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-2271951041386942419?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/2271951041386942419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/implementasi-database-terdistribusi.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2271951041386942419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2271951041386942419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/implementasi-database-terdistribusi.html' title='Implementasi Sistem Database Terdistribusi Pada MySQL'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-3847146869278336544</id><published>2007-08-28T19:20:00.031+07:00</published><updated>2008-10-07T07:43:07.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Ilmu sebelum segala sesuatu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SOqwg1HHpEI/AAAAAAAAAnI/hBCDezV8gkc/s1600-h/little-boy-praying.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SOqwg1HHpEI/AAAAAAAAAnI/hBCDezV8gkc/s400/little-boy-praying.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254205993340347458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengetahuan tidak hanya dicukupi dengan pemenuhan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, karena sesungguhnya terdapat ilmu yang utama, ilmu yang hukumnya wajib diketahui oleh kaum muslimin. Barangsiapa lalai untuk menimba ilmu ini padahal padanya terdapat kekuatan untuk menggapainya, maka dosa adalah hal yang layak diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu apakah itu? Ia adalah ilmu yang mulia, ilmu yang dapat menghindarkan manusia dari kesesatan dan ketertolakkan amal ibadah, yang mana Rasulullah telah menekankan pada sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”&lt;/span&gt; (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ilmu apakah yang diwajibkan tersebut?&lt;br /&gt;Ia adalah&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Ilmu Agama"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul class="menulist"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/" title="ke halaman awal"&gt;Home&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/71/page/1" title="Kategori Adab Dan Perilaku"&gt;Adab Dan Perilaku&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/7/page/1" title="Kategori Ahkam"&gt;Ahkam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/17/page/1" title="Kategori Akhlak"&gt;Akhlak&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/10/page/1" title="Kategori Aktual"&gt;Aktual&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/87/page/1" title="Kategori Al-Ilmu"&gt;Al-Ilmu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/63/page/1" title="Kategori Al-Irhab = Terorisme"&gt;Al-Irhab = Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/30/page/1" title="Kategori Al-Manhaj As-Salafy"&gt;Al-Manhaj As-Salafy&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/48/page/1" title="Kategori Al-Masaa'il"&gt;Al-Masaa'il&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/24/page/1" title="Kategori Al-Qur'an"&gt;Al-Qur'an&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/64/page/1" title="Kategori Al-Qur'an : Ilmu"&gt;Al-Qur'an : Ilmu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/74/page/1" title="Kategori Al-Qur'an : Tafsir"&gt;Al-Qur'an : Tafsir&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/49/page/1" title="Kategori Al-Wala' Dan Al-Bara'"&gt;Al-Wala' Dan Al-Bara'&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/58/page/1" title="Kategori Al-Wasailu Al-Mufidah"&gt;Al-Wasailu Al-Mufidah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/53/page/1" title="Kategori Amalan Sunnah"&gt;Amalan Sunnah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/69/page/1" title="Kategori Anak-Anak Muslim"&gt;Anak-Anak Muslim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/2/page/1" title="Kategori Aqidah Ahlus Sunnah"&gt;Aqidah Ahlus Sunnah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/54/page/1" title="Kategori Aqidah Al-Wasithiyah"&gt;Aqidah Al-Wasithiyah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/51/page/1" title="Kategori Aqidah Empat Imam"&gt;Aqidah Empat Imam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/68/page/1" title="Kategori Ar-Rasaa-il Hukum"&gt;Ar-Rasaa-il Hukum&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/60/page/1" title="Kategori As-Saa'ah : Ad-Dajjal"&gt;As-Saa'ah : Ad-Dajjal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/59/page/1" title="Kategori As-Saa'ah : Al-Mahdi"&gt;As-Saa'ah : Al-Mahdi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/61/page/1" title="Kategori As-Saa'ah : Nabi Isa"&gt;As-Saa'ah : Nabi Isa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/31/page/1" title="Kategori As-Sunnah"&gt;As-Sunnah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/80/page/1" title="Kategori As-Sunnah Dalam Islam"&gt;As-Sunnah Dalam Islam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/21/page/1" title="Kategori Bai'at"&gt;Bai'at&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/34/page/1" title="Kategori Bid'ah Dan Bahayanya"&gt;Bid'ah Dan Bahayanya&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/27/page/1" title="Kategori Birrul Walidain"&gt;Birrul Walidain&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/89/page/1" title="Kategori Dakwah "&gt;Dakwah &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/76/page/1" title="Kategori Demokrasi Dan Politik"&gt;Demokrasi Dan Politik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/26/page/1" title="Kategori Do'a, Dzikir, Taubat"&gt;Do'a, Dzikir, Taubat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/15/page/1" title="Kategori Fatawa 'Arkanil Islam"&gt;Fatawa 'Arkanil Islam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/4/page/1" title="Kategori Fiqih Ibadah"&gt;Fiqih Ibadah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/18/page/1" title="Kategori Firaq"&gt;Firaq&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/75/page/1" title="Kategori Fokus Utama"&gt;Fokus Utama&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/70/page/1" title="Kategori Gambar, Lagu, Mainan"&gt;Gambar, Lagu, Mainan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/35/page/1" title="Kategori Hadits"&gt;Hadits&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/23/page/1" title="Kategori Hajji Dan Umrah"&gt;Hajji Dan Umrah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/13/page/1" title="Kategori Hari Raya = Ied"&gt;Hari Raya = Ied&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/72/page/1" title="Kategori Hizbiyyah Dan Harokah"&gt;Hizbiyyah Dan Harokah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/33/page/1" title="Kategori Jenazah : Mayit"&gt;Jenazah : Mayit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/81/page/1" title="Kategori Jihad Fii Sabilillah"&gt;Jihad Fii Sabilillah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/42/page/1" title="Kategori Jual Beli"&gt;Jual Beli&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/37/page/1" title="Kategori Keluarga &amp;amp; Masalahnya"&gt;Keluarga &amp;amp; Masalahnya&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/57/page/1" title="Kategori Kesempurnaan Islam"&gt;Kesempurnaan Islam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/82/page/1" title="Kategori Kurban Dan Aqiqah"&gt;Kurban Dan Aqiqah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/67/page/1" title="Kategori Ma'ruf Nahi Mungkar"&gt;Ma'ruf Nahi Mungkar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/6/page/1" title="Kategori Mabhats"&gt;Mabhats&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/83/page/1" title="Kategori Makanan, Sembelihan"&gt;Makanan, Sembelihan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/5/page/1" title="Kategori Manhaj"&gt;Manhaj&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/73/page/1" title="Kategori Media Dan Sarana"&gt;Media Dan Sarana&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/39/page/1" title="Kategori Mu'amalat Dan Riba"&gt;Mu'amalat Dan Riba&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/55/page/1" title="Kategori Mujmal Ahlissunnah"&gt;Mujmal Ahlissunnah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/11/page/1" title="Kategori Nasehat"&gt;Nasehat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/32/page/1" title="Kategori Nikah"&gt;Nikah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/91/page/1" title="Kategori Nikah : Talak - Rujuk"&gt;Nikah : Talak - Rujuk&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/84/page/1" title="Kategori Pakaian Dan Perhiasan"&gt;Pakaian Dan Perhiasan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/85/page/1" title="Kategori Pengobatan Penyakit"&gt;Pengobatan Penyakit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/36/page/1" title="Kategori Perpecahan Umat !"&gt;Perpecahan Umat !&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/88/page/1" title="Kategori Prinsip Dasar Islam"&gt;Prinsip Dasar Islam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/46/page/1" title="Kategori Propaganda Sesat"&gt;Propaganda Sesat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/62/page/1" title="Kategori Puasa"&gt;Puasa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/12/page/1" title="Kategori Puasa : Fiqih Puasa"&gt;Puasa : Fiqih Puasa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/78/page/1" title="Kategori Puasa : I'tikaaf"&gt;Puasa : I'tikaaf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/20/page/1" title="Kategori Qadha Dan Qadar"&gt;Qadha Dan Qadar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/43/page/1" title="Kategori Rifqon Ahlassunnah"&gt;Rifqon Ahlassunnah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/52/page/1" title="Kategori Rizqi, Harta, Nafkah"&gt;Rizqi, Harta, Nafkah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/19/page/1" title="Kategori Shalat"&gt;Shalat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/47/page/1" title="Kategori Sihir, Jin, Perdukunan"&gt;Sihir, Jin, Perdukunan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/38/page/1" title="Kategori Sikap Kepada Kafir"&gt;Sikap Kepada Kafir&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/40/page/1" title="Kategori Siyasi Wal Fikri"&gt;Siyasi Wal Fikri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/77/page/1" title="Kategori Sumpah Dan Nadzar"&gt;Sumpah Dan Nadzar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/45/page/1" title="Kategori Syarhu Ushulil Iman"&gt;Syarhu Ushulil Iman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/65/page/1" title="Kategori Syubhat Dan Jawaban"&gt;Syubhat Dan Jawaban&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/1/page/1" title="Kategori Tauhid"&gt;Tauhid&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/44/page/1" title="Kategori Tauhid Prioritas Utama"&gt;Tauhid Prioritas Utama&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/90/page/1" title="Kategori Tazkiyatun Nufus"&gt;Tazkiyatun Nufus&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/41/page/1" title="Kategori Toleransi"&gt;Toleransi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/56/page/1" title="Kategori Ushul Ahlissunnah"&gt;Ushul Ahlissunnah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/66/page/1" title="Kategori Wanita : Darah Wanita"&gt;Wanita : Darah Wanita&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/79/page/1" title="Kategori Wanita : Fiqih Shalat"&gt;Wanita : Fiqih Shalat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/16/page/1" title="Kategori Wanita : Muslimah"&gt;Wanita : Muslimah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/50/page/1" title="Kategori Wanita : Thaharah"&gt;Wanita : Thaharah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/86/page/1" title="Kategori Wanita : Wasiat"&gt;Wanita : Wasiat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/29/page/1" title="Kategori Waris, Hibah, Hadiah"&gt;Waris, Hibah, Hadiah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/category/view/25/page/1" title="Kategori Zakat"&gt;Zakat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs ngaji Islam favorite saya http://almanhaj.or.id/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- SpringWidgets | RSS Reader (#23) | Blogger | Generated on 08/01/2008 --&gt;&lt;object type="application/x-shockwave-flash" allownetworking="all" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" id="springwidgets_23" data="http://downloads.thespringbox.com/web/wrapper.php?file=RSS Reader.sbw" codebase="http://fpdownload.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=8,0,0,0" align="middle" height="318" width="400"&gt;&lt;param name="allowNetworking" value="all"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="movie" value="http://downloads.thespringbox.com/web/wrapper.php?file=RSS Reader.sbw"&gt;&lt;param name="flashvars" value="param_param=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FAlmanhajorid|http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FKumpulanSitusSunnah&amp;amp;param_style_borderColor=0x0000CC&amp;amp;param_style_brandUrl=&amp;amp;param_compactView=-1&amp;amp;param_blurbLength=512"&gt;&lt;param name="quality" value="high"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;param name="bgColor" value="0x000000"&gt;&lt;/object&gt;&lt;div style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: 12px; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; width: 400px;"&gt;&lt;a href="http://www.springwidgets.com/widgets/view/23/?param_param=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FAlmanhajorid%7Chttp%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FKumpulanSitusSunnah&amp;amp;param_style_borderColor=0x0000CC&amp;amp;param_style_brandUrl=&amp;amp;param_compactView=-1&amp;amp;param_blurbLength=512&amp;amp;width=400&amp;amp;height=300" target="_blank"&gt;Get this widget!&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: 12px; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;Visit the &lt;a href="http://www.springwidgets.com/" target="_blank"&gt;Widget&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.springwidgets.com/widgets" target="_blank"&gt;Gallery&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-3847146869278336544?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/3847146869278336544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/al-ilmu-qabla-kulli-syai.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3847146869278336544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3847146869278336544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/al-ilmu-qabla-kulli-syai.html' title='Ilmu sebelum segala sesuatu'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SOqwg1HHpEI/AAAAAAAAAnI/hBCDezV8gkc/s72-c/little-boy-praying.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-6419852851831087039</id><published>2007-08-28T19:20:00.029+07:00</published><updated>2008-08-02T06:41:20.357+07:00</updated><title type='text'>Listen to my radio</title><content type='html'>&lt;table style="border: 2px solid rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(51, 102, 204);" align="center" cellpadding="4" cellspacing="0" width="485"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;      &lt;td align="center" valign="center"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:16;" &gt;          &lt;a href="http://www.radiorodja.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://radio.hang106.or.id/radio/rodjafm.jpg" title="Logo Rodja 10" alt="Logo rodja" border="0" width="186" height="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;div&gt;         &lt;object id="fmp256" type="application/x-shockwave-flash" data="http://radio.hang106.or.id/radio/minicaster.swf" width="180" height="70"&gt;           &lt;param name="movie" value="http://hang106.or.id/minicaster.swf"&gt;           &lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;           &lt;param name="flashvars" value="config=http%3A//radio.hang106.or.id/radio/minicasterrodja.xml"&gt;           &lt;div class="stirfry"&gt;              &lt;h4&gt;Minicaster Radio Playhead&lt;/h4&gt;             &lt;p&gt;To listen you must &lt;a href="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer/" title="Click here to install the Flash browser plugin from Macromedia"&gt;install                Flash Player&lt;/a&gt;. Visit &lt;a href="http://www.draftlight.net/dnex/mp3player/minicaster/" title="Draftlight Networks"&gt;Draftlight                Networks&lt;/a&gt; for more info.&lt;/p&gt;           &lt;/div&gt;         &lt;/object&gt;      &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;      &lt;span&gt; Radio Dakwah Islamiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      &lt;span style="font-size:12;"&gt; RADIO STREAMING at MP3 24 kbps&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;      Station website &lt;a target="_blank" href="http://radiorodja.com/"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;&lt;strong&gt;http://radiorodja.com/&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;          &lt;table  cellpadding="2" width="100%" style="font-size:12px;"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td align="center" valign="center"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:16;" &gt;                " SALURAN TILAWAH AL-QURAN DAN KAJIAN ILMIAH"&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;      &lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="Layer5" style="position: absolute; width: 500px; height: 115px; z-index: 6; left: 0px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;a href="http://www.hang106.or.id/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://radio.hang106.or.id/radio/hang.gif" alt="Logo Hang 10" title="Logo Hang 10" align="middle" border="0" width="279" height="122" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;object data="http://radio.hang106.or.id/radio/minicaster.swf" type="application/x-shockwave-flash" id="fmp256" align="middle" width="180" height="70"&gt;         &lt;param name="movie" value="http://radio.hang106.or.id/radio/minicaster.swf"&gt;         &lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;         &lt;param name="flashvars" value="config=http%3A//radio.hang106.or.id/radio/hang-luar.xml"&gt;         &lt;div class="stirfry"&gt;            &lt;h4&gt;Minicaster Radio Playhead&lt;/h4&gt;           &lt;p&gt;To listen you must &lt;a href="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer/" title="Click here to install the Flash browser plugin from Macromedia"&gt;install              Flash Player&lt;/a&gt;. Visit &lt;a href="http://www.draftlight.net/dnex/mp3player/minicaster/" title="Draftlight Networks"&gt;Draftlight              Networks&lt;/a&gt; for more info.&lt;/p&gt;         &lt;/div&gt;       &lt;/object&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;center&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 15, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;marquee scrolldelay="250" onmouseover="this.stop()" onmouseout="this.start()" bgcolor="#ffffff"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;/center&gt; &lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.radiorodja.com/"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SJIZB4YpllI/AAAAAAAAAkM/zxIVA6Nz7nA/s400/rodja4twitter.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229269637436905042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt; &lt;div&gt;   &lt;table style="border: 2px solid rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(51, 102, 204);" align="center" cellpadding="4" cellspacing="0" width="457"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="center" bgcolor="#666666" valign="center"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-size: 16px; font-weight: bold;"&gt;        &lt;a href="http://radio.hang106.or.id/radio/www.radioassunnah.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://radio.hang106.or.id/radio/assunahfm.jpg" title="Logo Assunnah" alt="Logo Assunnah" border="0" width="247" height="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;object id="fmp256" type="application/x-shockwave-flash" data="http://radio.hang106.or.id/radio/minicaster.swf" width="180" height="70"&gt;   &lt;param name="movie" value="http://hang106.or.id/minicaster.swf"&gt;   &lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;   &lt;param name="flashvars" value="config=http%3A//radio.hang106.or.id/radio/minicasterassunnah.xml"&gt;    &lt;div class="stirfry"&gt;    &lt;h4&gt;Minicaster Radio Playhead&lt;/h4&gt;    &lt;p&gt;To listen you must &lt;a href="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer/" title="Click here to install the Flash browser plugin from Macromedia"&gt;install Flash Player&lt;/a&gt;. Visit     &lt;a href="http://www.draftlight.net/dnex/mp3player/minicaster/" title="Draftlight Networks"&gt;Draftlight Networks&lt;/a&gt;     for more info.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Radio Dakwah Islamiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12px;"&gt;  RADIO STREAMING at MP3 32 kbps&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Station website &lt;a href="http://radiorodja.com/" target="_blank" class="style1"&gt;http://www.radioassunnah.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;   &lt;table style="font-size: 12px;" cellpadding="2" width="100%"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td align="center" valign="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16px; font-weight: bold;"&gt;  " RADIO EDUKASI DAN DAKWAH "&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-6419852851831087039?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/6419852851831087039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/radio-rodja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/6419852851831087039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/6419852851831087039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/radio-rodja.html' title='Listen to my radio'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/SJIZB4YpllI/AAAAAAAAAkM/zxIVA6Nz7nA/s72-c/rodja4twitter.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-8392978655863274945</id><published>2007-08-28T19:20:00.013+07:00</published><updated>2008-06-05T05:19:54.207+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Peringatan bagi perokok</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:RED;"  &gt; Racun pada Rokok&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;li&gt;&lt;b&gt;Tar&lt;/b&gt; adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Nikotin&lt;/b&gt; adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu &lt;a href="http://rokok.komunikasi.org/kanker"&gt;kanker paru-paru&lt;/a&gt; yang mematikan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Karbon monoksida&lt;/b&gt; adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen. &lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;color:RED;"  &gt;Efek Racun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;li&gt; 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan &lt;/li&gt;&lt;li&gt; 4x menderita kanker esophagus &lt;/li&gt;&lt;li&gt; 2x kanker kandung kemih &lt;/li&gt;&lt;li&gt; 2x serangan jantung &lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:RED;"  &gt; Batas Aman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  TIDAK ADA BATAS AMAN BAGI ORANG YANG TERPAPAR ASAP ROKOK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jenis Asap Rokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam asap rokok yang mengganggu kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asap utama (mainstream)&lt;/span&gt;, adalah asap yang dihisap oleh si perokok&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asap sampingan (sidestream)&lt;/span&gt;, adalah asap yang merupakan pembakaran dari ujung rokok, kemudian menyebar ke udara. Asap sampingan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, karena tidak melalui proses penyaringan yang cukup. Dengan demikian pengisap asap sampingan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan kesehatan akibat rokok. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Perokok Pasif.&lt;/span&gt; Perokok pasif adalah orang-orang yang tidak merokok, namun menjadi korban perokok karena turut mengisap asap sampingan (di samping asap utama yang dihembuskan balik oleh perokok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perokok pasif memiliki resiko yang cukup tinggi atas kanker paru-paru dan jantung koroner, serta gangguan pernafasan. Bagi anak-anak di bawah umur, terdapat resiko kematian mendadak akibat terpapar asap rokok. Setidaknya tercatat 4000 kematian perokok pasif per tahun di US.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Upaya Hukum.&lt;/span&gt; Mungkinkah ada upaya hukum untuk menuntut perokok ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Eksperimen Tentang Asap Rokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Eksperimen ini diambil dari video.yahoo.com yang menjelaskan tentang kontaminasi nikotin dan zat berbahaya lainnya pada asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) disediakan 2 tabung berisi air yang bagian bawahnya diberi lubang kecil berpenutup&lt;br /&gt;(2) pada bagian atas tabung dipasang pipa selang kecil yang sehingga dapat menghubungkan kedua tabung tersebut dengan rokok yang hendak dinyalakan (persis seperti jalur pernafasan yang terhubung ke paru-paru)&lt;br /&gt;(3) rokok dinyalakan dan dipasang pada pipa, kemudian lubang kecil pada bagian bawah tabung dibuka, asap rokok tersedot ke dalam tabung sesuai dengan gaya tekan ke bawah akibat keluarnya air dari dalam tabung&lt;br /&gt;(4) beberapa saat setelah itu, pipa dilepas dan sebuah kain lap bersih ditutupkan pada lubang tabung bagian atas&lt;br /&gt;(5) hasilnya, kain lap tersebut berwarna coklat kotor, ini adalah wujud dari nikotin dan zat tidak bermanfaat lainnya yang terkandung pada asap rokok. untuk lebih jelasnya saksikan video berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://us.i1.yimg.com/cosmos.bcst.yahoo.com/player/media/swf/FLVVideoSolo.swf" flashvars="id=4928176&amp;amp;emailUrl=http%3A%2F%2Fvideo.yahoo.com%2Futil%2Fmail%3Fei%3DUTF-8%26vid%3D1433875&amp;amp;imUrl=http%253A%252F%252Fvideo.yahoo.com%252Fvideo%252Fplay%253Fei%253DUTF-8%2526vid%253D1433875&amp;amp;imTitle=Attention%2BSmokers&amp;amp;searchUrl=http://video.yahoo.com/search/video?p=&amp;amp;profileUrl=http://video.yahoo.com/video/profile?yid=&amp;amp;creatorValue=c2FuanVfZW1hdHJpeA%3D%3D&amp;amp;vid=1433875" type="application/x-shockwave-flash" height="350" width="425"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div style="padding-left: 0px; display: none;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;[1] http://www.pintunet.com/lihat_opini.php?pg=2008/04/14042008/77214&amp;amp;xref=/daftar_opini.php?vpid=161613&lt;br /&gt;[2] http://www.komunikasi.org&lt;br /&gt;[3] http://video.yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-8392978655863274945?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/8392978655863274945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/peringatan-bagi-perokok.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/8392978655863274945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/8392978655863274945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/peringatan-bagi-perokok.html' title='Peringatan bagi perokok'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4695033934676298458</id><published>2007-08-28T19:18:00.000+07:00</published><updated>2007-09-13T10:33:32.921+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Prayer Times, Jakarta &amp; Central Java</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;script src="http://www.clocklink.com/embed.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;script language="JavaScript" type="text/javascript"&gt;obj = new Object;obj.clockfile = "5012-orange.swf";obj.TimeZone = "GMT0700";obj.width = 227;obj.height = 75;obj.wmode = "transparent";showClock(obj);&lt;/script&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.islamicfinder.org/prayer_service.php?country=indonesia&amp;city=jakarta&amp;amp;state=&amp;zipcode=&amp;amp;latitude=-6.1744&amp;longitude=106.8294&amp;amp;timezone=7&amp;HanfiShafi=1&amp;amp;pmethod=1&amp;fajrTwilight1=10&amp;amp;fajrTwilight2=10&amp;ishaTwilight=10&amp;amp;ishaInterval=30&amp;dhuhrInterval=1&amp;amp;maghribInterval=1&amp;dayLight=0&amp;amp;page_background=&amp;table_background=&amp;amp;table_lines=&amp;text_color=&amp;amp;link_color=&amp;prayerFajr=&amp;amp;prayerSunrise=&amp;prayerDhuhr=&amp;amp;prayerAsr=&amp;prayerMaghrib=&amp;amp;prayerIsha=&amp;lang=" marginheight="0" marginwidth="0" frameborder="0" height="280" scrolling="no" width="175"&gt; &amp;amp;amp;amp;amp;lt;br&amp;amp;amp;amp;gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.islamicfinder.org/prayer_service.php?country=indonesia&amp;city=solo&amp;amp;state=07&amp;zipcode=&amp;amp;latitude=-7.5833&amp;longitude=110.8333&amp;amp;timezone=7&amp;HanfiShafi=1&amp;amp;pmethod=1&amp;fajrTwilight1=10&amp;amp;fajrTwilight2=10&amp;ishaTwilight=10&amp;amp;ishaInterval=30&amp;dhuhrInterval=1&amp;amp;maghribInterval=1&amp;dayLight=0&amp;amp;page_background=&amp;table_background=&amp;amp;table_lines=&amp;text_color=&amp;amp;link_color=&amp;prayerFajr=&amp;amp;prayerSunrise=&amp;prayerDhuhr=&amp;amp;prayerAsr=&amp;prayerMaghrib=&amp;amp;prayerIsha=&amp;lang=" marginheight="0" marginwidth="0" frameborder="0" height="280" scrolling="no" width="175"&gt; &lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a style="font-size: 3mm;" href="http://dickyrahardi.cjb.net/"&gt;Personal Web Site&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a style="font-size: 3mm;" href="http://dickyrahardi.wordpress.com/"&gt;dickyrahardi.wordpress.com &lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4695033934676298458?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4695033934676298458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/prayer-times-jakarta-central-java.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4695033934676298458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4695033934676298458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/prayer-times-jakarta-central-java.html' title='Prayer Times, Jakarta &amp; Central Java'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-2615547602863262175</id><published>2007-08-05T09:42:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:27:58.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Antara Linux, Liga Inggris dan Keterpurukan Bangsa Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dicky Rahardiantoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://mud.mm-a2.yimg.com/image/2474381795"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 177px; height: 74px;" src="http://mud.mm-a2.yimg.com/image/2474381795" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;LINUX adalah sebuah operating system yang merupakan program open source gratis di bawah lisensi GNU. Untuk memperoleh Linux dan mengistalnya pada PC kesayangan kita, kita tidak perlu repot-repot membeli Linux dengan harga bandrol yang mahal sebagaimana produk Microsoft, karena GNU telah menggratiskan program dan bahkan sampai source code-nya.  Tidak hanya itu, anda bahkan diberi keleluasaan untuk mengkopi, menggandakan dan bahkan sampai mengubah-ubah source code-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan kantor/bisnis, Linux juga dapat digunakan sebagai server dan dapat juga sebagai client, tergantung skala kebutuhannya. Dan sekali lagi, itu semua dapat diperoleh dengan bisaya sangat rendah dan bahkan bisa sampai gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, Linux dibangun oleh berbagai macam komunitas dan jangan heran apabila banyak sekali distro-distro Linux yang beredar. Mulai dari yang berbayar sampai yang gratis, dari untuk pemula sampai tingkat lanjut, dan biasanya dengan banyaknya distro Linux yang beredar akan membuat orang awam bingung untuk memilih distro. Bayangkan, ada beratus-ratus distro yang tercipta atau bahkan beribu-ribu. Namun perlahan tapi pasti, diantara distro-distro Linux ini ada yang menyamai (atau bahkan) melebihi kemampuan dari Sistem Operasi keluarga raksasa (Microsoft) dan dengan semakin mudahnya dan semakin lengkapnya dukungan Linux pada hardware, besar kemungkinan Linux akan menjadi alternatif (atau bahkan sistem operasi utama di dunia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah jika suatu saat nanti, terdapat distro Linux yang mampu melumpuhkan pasaran Microsoft Windows maka apakah Linux masih konsisten untuk tetap gratis....?&lt;br /&gt;Hmmm...hal ini mungkin perlu kita fikirkan dengan matang dan renungkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sedikit kita tengok dunia persepakbolaan sebagai bahan perbandingan,&lt;br /&gt;Diantara liga-liga besar yang ada di Eropa sana seperti : Liga Inggris dengan Premier League-nya, Liga Italia dengan Serie-A-nya, Liga Spanyol, Liga Belanda, Liga Jerman dan lain sebagainya; Liga inggris adalah liga eropa yang paling ramai dan paling banyak penggemarnya di seluruh dunia,&lt;br /&gt;Ratusan juta orang yang tersebar di berbagai belahan dunia, sangat gandrung dengan liga inggris ini, bahkan liga inggris bisa melampaui liga Italy yang sempat berada di atas angin beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHBoiZwoxI/AAAAAAAAAK4/vRHCRci-6pc/s1600-h/essien.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHBoiZwoxI/AAAAAAAAAK4/vRHCRci-6pc/s400/essien.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098569155333890834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pamor liga inggris yang sedang melangit dan mengangkangi liga Italy dan Spanyol pada beberapa tahun silam, nampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh para pebisnis sepakbola dunia khususnya inggris, sehingga saat ini liga inggris tidak bisa ditonton secara gratisan lagi dilayar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengeluarkan uang Rp 50.000 sampai Rp 200.000 tiap bulannya untuk menikmati laga liga Inggris tersebut ke Astro. Menurut hitung-hitungan yang dilakukan oleh Tabloid BOLA, Astro diperkirakan menggelontorkan uang sebanyak US$50juta untuk mendapatkan hak siar selama tiga musim kompetisi. Kalau dirupiahkan dengan asumsi bahwa satu dollar adalah Rp.10.000,- maka Astro membayar Rp.500milyar untuk masa tiga musim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentunya membuat shock kalangan publik pencinta sepak bola inggris. Di tengah harga BBM yang kian melonjak, harga beras yang tidak bersahabat, hilangnya minyak tanah dari bumi Indonesia, adanya konversi minyak tanah ke gas yang bernada licik dan mengancam masyarakat untuk membeli gas elpiji yang kian mahal, pendidikan yang semakin mahal dan semakin kapitalis.... eehhh tiba-tiba hiburan pelipur lara pun harus enyah dari layar kaca. Kasihan memang masyarakat kita ini....semuanya serba harus bayar dan bayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan LINUX...?!&lt;br /&gt;Jika suatu saat distro Linux sudah semakin canggih dan mampu memukul kecanggihan Microsoft...&lt;br /&gt;Jika suatu saat linux semakin user friendly dan gampang banget digunakan oleh para pemula...&lt;br /&gt;Jika sudah banyak perusahaan software yang mengembangkan softwarenya kearah Linux....&lt;br /&gt;Jika suatu saat penggemar linux sudah semakin mendunia dan akhirnya Microsoft jadi kalah pamor...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah LINUX masih GRATIS....?&lt;br /&gt;Jangan-jangan LINUX ikut-ikutan seperti Liga Inggris yang harga hak siarnya gak ketulungan mahalnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ini semua adalah resiko yang harus ditanggung oleh negara konsumtif/konsumerisme tinggi seperti Indonesia. Negara kita lebih suka membeli barang siap pakai daripada memikirkan tentang cara memproduksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia yang pada tahun 1970-an masih "belajar" dan mendatangkan banyak guru dari Indonesia. Kini negara tersebut sudah melesat meninggalkan "sang guru" yang justru masih asyik bermimpi tentang kejayaan masa silamnya. Dulu Malaysia banyak belajar dan berguru kepada Indonesia tentang Komputer, sekarang coba lihat di pasaran....betapa banyak merek VGA card, LAN card, dan lain sebagainya yang bertuliskan "Made in Malaysia". Bahkan Malaysia saat ini telah mampu memproduksi PDA dengan merek Dallab DX8i. Bagaimanakah dengan Indonesia...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia masih berkutat pada upaya pemerataan pendidikan lewat pembangunan SD-SD Inpres, Malaysia sudah berbicara pada tataran peningkatan kualitas pendidikan. Ketika Indonesia masih disibukkan perdebatan soal "ganti menteri ganti kurikulum", Malaysia sudah menggagas apa yang mereka sebut pendemokrasian pendidikan. Lalu, ketika tokoh dan birokrat pendidikan di Indonesia sibuk berdebat tentang apa dan bagaimana sesungguhnya sistem pendidikan nasional-belakangan tentang wacana seputar pendanaan pendidikan minimal 20 persen dari APBN/APBD-Malaysia sudah bicara tentang bagaimana strategi mewujudkan suatu sistem pendidikan bertaraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOLEH jadi akan muncul pertanyaan menggelitik: Mengapa Malaysia yang pada era 1970-an masih "berguru" kepada Indonesia dalam hal pendidikan justru kini lebih maju, yang antara lain tampak pada peringkat indeks pembangunan manusia (human development index/HDI) Malaysia yang sudah melampaui Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hariankompas menyebutkan bahwa, Tilai Balla Udan, yaitu penolong Kanan Khal Ehwal (di Indonesia setingkat wakil kepala sekolah bidang kesiswaan) Murid SMK St Thomas, Kuching, Sarawak, dengan rendah hati mengatakan, hal itu mungkin karena perhatian pihak kerajaan pada dunia pendidikan di negerinya amat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja para pemimpin negara Indonesia ini bersungguh-sungguh memperhatikan dunia pendidikan dan pembangunan manusia, maka seharusnya kita gak perlu khawatir dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia. Entah itu berupa perubahan sosial, perubahan bisnis, politik dan lain-lain. Para peneliti dan orang pandai Indonesia mungkin gak perlu lagi jual-jual hasil penelitiannya ke luar negeri jika pemerintah Indonesia mau menghargai dan men-support kreativitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sudah teruji kelemahannya menghadapi badai besar krisis moneter dan malaysia bisa tampil dengan mengesankan. Nah akankah Indonesia mampu tampil mengesankan pada perubahan-perubahan akbar yang mungkin terjadi pada masa mendatang....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban cueknya adalah "Yah kita lihat saja nanti...!"&lt;br /&gt;Yang jelas Allah SWT telah berfirman bahwa "Allah tidak akan merubah nasib dari suatu kaum sampai mereka berusaha merubahnya sendiri"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, sesungguhnya banyak para programmer dan jago software di Indonesia yang mampu menciptakan software kelas dunia seperti produk-produk orang barat. Saya yakin SDM Indonesia mampu membuat operating sistem secanggih Linux atau bahkan Microsoft, tetapi sayangnya itu semua belum pernah dimulai dan mungkin belum terfikirkan untuk dikoordinir oleh pemerintah kita. Mungkin para pejabat negara sedang sibuk gonta-ganti kurikulum SD, konsep ujian negara, kepada siapa biaya pendidikan dibebankan, dan hal-hal klasik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda para pemilik HATI dan OTAK CERDAS keluaran Bangsa Indonesia, saya mengajak Anda sekalian untuk BANGKIT dan BERGERAK.&lt;br /&gt;Bangkit dan bergerak bukan untuk berdemonstrasi atau turun ke jalan atau melakukan tindakan anarkis, tapi bagaimana kita bangkit dan bergerak untuk menemukan SOLUSI dan mencari jalan keluar untuk bebas dari segala keterpurukan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-2615547602863262175?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/2615547602863262175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/antara-linux-liga-inggris-dan-resiko.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2615547602863262175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2615547602863262175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/08/antara-linux-liga-inggris-dan-resiko.html' title='Antara Linux, Liga Inggris dan Keterpurukan Bangsa Kita'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsHBoiZwoxI/AAAAAAAAAK4/vRHCRci-6pc/s72-c/essien.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-9201925293198871014</id><published>2007-07-31T08:40:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:28:59.055+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pajak Sosial Pendidikan, Mengapa Tidak?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;TÖGIZITA adalah sebuah desa berpenduduk 2.000 jiwa di pedalaman Nias (Sumatera Utara). Jaraknya dari Gunung Sitoli hanya 59 km, tetapi dibutuhkan lima jam dengan kendaraan untuk mencapainya. Desa yang diapit Sungai Oyo dan Siwalawa (masing-masing lebarnya 50-80 meter dan tanpa jembatan) mempunyai tiga sekolah dasar dengan 700 murid, satu SMP, dan satu SMA persiapan yang baru dibuka tahun ini. Selain dari Tögizita, siswa datang dari desa-desa kecil di seberang kedua sungai yang mengapit Tögizita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;MESKI jumlah murid tercatat hanya sekitar 700 orang, yang hadir di sekolah setiap hari bisa hanya setengahnya. Penyebabnya bervariasi: hujan, hari mbale (pekan), atau pesta kawin. Jika hujan turun-dan itu bisa seminggu-penduduk tidak bisa mengambil havea (getah karet) dengan konsekuensi uang tidak ada sehingga anak-anak tak bisa pergi ke sekolah. Di musim hujan, Sungai Oyo dan Siwalawa akan meluap dua kali seminggu dan semua anak sekolah yang berasal dari luar Tögizita tidak bisa ke sekolah karena tak ada jembatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kebanyakan anak-anak sekolah dasar (SD) mengalami drop-out karena orangtua lebih suka anak-anak mereka bekerja mengumpulkan getah karet. Akses ke sekolah menengah pertama amat kecil, terutama bagi perempuan karena tuntutan adat: anak perempuan yang sudah remaja (usia masuk SD rata-rata 8-10 tahun!) dilarang berjalan bersama dengan anak lelaki sebaya sepulang sekolah karena harus melewati hutan dan hari sudah gelap. Sebagian anak-anak yang tak bisa sekolah akan merantau ke daratan Sumatera, seperti Sibolga, Padang, dan Pekanbaru, dan menjadi "pekerja anak" di perkebunan kelapa sawit atau pencuci piring di warung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ini adalah potret buram kondisi pendidikan dasar kita sekaligus mengungkapkan, Wajib Belajar Sembilan Tahun yang dideklarasikan tahun 1994 sepertinya hanya terjadi di atas kertas. Potret Tögizita adalah secuil kenyataan yang membenarkan temuan Laporan Pembangunan Manusia Indonesia (LPMI) 2004 bahwa mutu manusia Indonesia tergolong rendah. Meski masih lebih bersifat "data dan angka" sehingga kurang mencerminkan realitas yang lebih mendalam, LPMI 2004 mendesak pemerintah dan masyarakat memberikan prioritas investasi lebih tinggi pada upaya pembangunan manusia, terutama lewat pendidikan dan kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;STRATEGI pembangunan Indonesia bergerak sejalan minat politik rezim sezaman. Bagi Soekarno, politics is the king dan ia rajin mengubrak-abrik kabinet. Soeharto percaya, economic is the king (ekonomi adalah panglima) dan di kota-kota besar Indonesia muncul gedung-gedung bertingkat, perumahan eksklusif, mal-mal keren, jalan tol dan jalan layang, serta berbagai fasilitas trendi yang memanjakan pemilik modal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Semula, rezim Orde Baru amat yakin akan terjadi mukjizat trickle down effects yang akan meneteskan hasil pembangunan kepada rakyat miskin. Kejayaan politik dan ekonomi ternyata tak langgeng karena modal utama pembangunan, yaitu manusia, terabaikan. Kondisi itu berlanjut hingga kini karena bangsa kita kurang memiliki modal manusiawi berkualitas yang diperlukan guna menopang pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Sepertinya pemerintah selama ini tetap tak sadar akan fungsi ekonomis pendidikan sehingga, seperti dikatakan M Chatib Basri, akses terhadap pendidikan dan kesehatan amat buruk dan ini membuat sepertiga atau separuh penduduk Indonesia masih rentan terhadap masalah kemiskinan (Kompas, 24/7/2004).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Teori pembangunan di masa lampau menganut prinsip, kemiskinan terjadi karena kurangnya kesanggupan untuk menabung dan membangun modal fisik. Theodore W Schultz lalu mengembangkan prinsip modal manusiawi yang dalam penelitiannya bisa membuktikan bahwa "mutu" penduduk, yaitu kemampuan fisik maupun psikis-intelektual, lebih penting bagi proses pembangunan daripada modal fisik. Bertolak dari pandangan ini, negara-negara maju berinisiatif mendahulukan penanaman modal pada manusia di bidang kesehatan dan pendidikan. Pandangan ini dipertegas Amartya Sen (pemenang Nobel Ekonomi tahun 1998) dalam buku Inequality Reexamined (1992) yang menekankan pentingnya kesempatan (entitlement) karena penyediaan lembaga pendidikan dan sekolah saja tidak cukup jika tidak sekaligus diciptakan kerangka institusional, yang mendukung orang yang paling miskin bisa masuk ke lembaga itu dan memanfaatkannya untuk memerangi kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sejak tahun 1990, Bank Dunia lewat Annual World Development Report-nya menekankan urgensi "pembangunan manusia". Hal yang sama ditekankan lagi dalam Human Development Report yang tiap tahun diterbitkan UNDP dan memuat Human Development Index yang menggarisbawahi perkembangan dan penggunaan kemampuan-kemampuan manusiawi sebagai saka guru pembangunan. Maka, perlu penanaman modal pada manusia dalam bidang pendidikan sebagai prasyarat untuk memberdayakan orang agar berjaya memerangi kemiskinan. Hal yang sama ditegaskan lagi dalam "Inisiatif 20:20" di Kopenhagen tahun 1995, yang mewajibkan semua negara kaya dan berkembang memakai 20 persen dari bantuan pembangunan atau anggaran belanja negara bagi kebutuhan pendidikan dan kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Di awal tahun 1972, ketika program lifelong education sedang disosialisasikan UNESCO, kesadaran akan pembangunan manusia ini sudah disuarakan Edgar Faure, Ketua The International Commission for Education Development, yang menekankan bahwa pendidikan adalah tugas negara yang paling penting!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;SUDAH 10 tahun Wajib Belajar Sembilan Tahun dilaksanakan di Indonesia. Salah satu alasan dari pelaksanaan wajib belajar adalah karena lebih dari 80 persen tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan SD, tidak tamat SD, dan sebagian buta huruf sehingga jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, pendidikan tenaga kerja di Indonesia jauh lebih rendah. Namun, melihat rendahnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan, ada kesan pemerintah sepertinya belum terpikat menjadikan proyek pembangunan manusia sebagai proyek prioritas. Sesuai dengan rekomendasi LPMI 2004, anggaran yang harus disediakan pemerintah untuk memenuhi hak dasar (pangan, kesehatan, pendidikan dasar, dan keamanan) rakyat setiap tahunnya minimal 6 persen dari produk domestik bruto, sedangkan di Indonesia hanya 3 persen. Untuk tahun 2004, pengeluaran tahunan untuk pendidikan di Indonesia sebesar Rp 33,0 triliun, sedangkan yang dibutuhkan Rp 58,0 triliun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kurangnya uang untuk pendidikan berakibat langsung pada kecilnya akses ke pendidikan dasar. Selain itu, sarana pendidikan, seperti gedung dan peralatan pembelajaran, tak dapat dirawat dan diperbaharui, pengadaan tenaga pengajar yang profesional seret, dan penghargaan terhadap guru tetap rendah. Di pedesaan dan daerah terpencil ada banyak SD dengan hanya satu guru, dan bukan rahasia lagi sejumlah guru negeri di pedalaman jarang muncul di sekolah karena nyambi bekerja di kota atau menjadi pedagang di tempat lain. Dengan kondisi ini, sebagian besar anak bangsa di desa tetap bodoh dan akan tetap miskin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Apa yang harus kita buat? Kita yakin, pemerintah tidak akan sanggup mengatasi masalah pendidikan yang kronis dan tidak adil jika masyarakat membiarkan pemerintah berjuang sendiri. Konsep pendidikan untuk semua (education for all) menekankan, pendidikan adalah tanggung jawab semua: pemerintah, masyarakat, orangtua, dan kalangan bisnis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Selama ini lembaga-lembaga sosial-keagamaan sudah cukup terlibat dalam membantu pemerintah menyelenggarakan pendidikan. Yang masih kurang dioptimalkan adalah peran kalangan bisnis dan orang-orang kaya yang amat potensial membantu pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan dana pendidikan lewat semacam pajak sosial. Pemerintah (pusat maupun daerah) perlu mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan sejenis program community development (pengembangan masyarakat), di mana perusahaan memberi hibah sekian persen dari keuntungannya untuk dipakai masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kalangan bisnis dan orang- orang kaya perlu lebih didorong dan disadarkan melaksanakan tanggung jawab sosial mereka dengan cara melakukan investasi kemanusiaan lewat pendidikan. Jika pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi tidur perusahaan-perusahaan menengah dan besar, kita yakin di sekitar pabrik dan perusahaan besar akan berdiri sekolah-sekolah yang representatif dengan gedung yang elok, peralatan pembelajaran yang memadai, dan guru-guru yang bersemangat mengajar karena dibayar dengan pantas. Janganlah seperti sekarang, persis di dekat pabrik besar yang menghasilkan keuntungan ratusan miliar rupiah berdiri sekolah anak bangsa yang reyot dan berdinding tepas!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"The wealth of a nation lies in its people," tulis David Warwick dalam buku The Wealth of a Nation. Indonesia, yang mempunyai penduduk lebih dari 250 juta jiwa ditambah kelimpahan sumber daya alam yang tak terukur, adalah sebuah kekayaan yang sedang terabaikan dan kita menjadi miskin karena kebodohan. Kemiskinan membuat anak-anak kita tidak cerdas sebagai akibat kurangnya sekolah yang baik. Kita mempunyai pemerintah yang cuek bebek pada pembangunan manusia dan sibuk memikirkan kontinuitas kekuasaan. Kita amat membutuhkan sebuah pemerintah yang bermoral, yang antikemiskinan dan KKN, yang berempati kepada rakyat yang didera kemiskinan karena kurang pendidikan. Kita memerlukan orang-orang kaya yang tidak hanya cekatan membangun plaza yang mewah di kota-kota besar, tetapi juga cekatan membangun sekolah yang baik di desa-desa. Kita membutuhkan perusahaan-perusahaan yang selain rela menyetor pajak ke kas negara, juga terpanggil menyisihkan sedikit keuntungannya untuk membangun sekolah dan memberi beasiswa bukan saja bagi mahasiswa di perguruan tinggi, tetapi juga bagi anak-anak desa yang miskin agar dapat menikmati hak mereka atas pendidikan. Kita membutuhkan para pengusaha dan lembaga-lembaga keagamaan yang tidak hanya mau membangun sekolah-sekolah internasional dengan uang sekolah puluhan juta rupiah per tahun di kota-kota, tetapi juga mau membuka sekolah bermutu di desa-desa terpencil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sebenarnya, bangsa ini tidak miskin harta. Kemiskinan kita terutama kemiskinan hati: tak mau berbagi dan egois. Efeknya adalah tak cukup uang untuk pendidikan sehingga anak- anak bangsa ini menjadi bodoh dan karena bodoh menjadi miskin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Semoga presiden baru nanti mempunyai hati dan empati terhadap orang-orang desa, miskin, dan berani menerapkan pajak sosial terhadap perusahaan- perusahaan besar dan orang- orang kaya agar kita memiliki uang untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Hanya orang cerdaslah yang bisa melindas kemiskinan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Frietz R Tambunan&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Alumnus Salesian University of Rome Bidang Manajemen Pendidikan; Pengajar pada Unika St Thomas, Medan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-9201925293198871014?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/9201925293198871014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/pajak-sosial-pendidikan-mengapa-tidak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/9201925293198871014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/9201925293198871014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/pajak-sosial-pendidikan-mengapa-tidak.html' title='Pajak Sosial Pendidikan, Mengapa Tidak?'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-5102465050994103450</id><published>2007-07-31T08:38:00.001+07:00</published><updated>2007-08-15T17:29:32.628+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menuntut Tanggung Jawab Negara atas Pendidikan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;PASAL 31 Amandemen UUD 1945 Ayat (1) menyatakan, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan", dan Ayat (2) "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya". Janji pemerintah ini dikukuhkan lagi dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan DPR 11 Juni 2003, ditandatangani Presiden 8 Juli 2003.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;DALAM Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) antara lain disebutkan: Pertama, "setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu" (Pasal 5 Ayat (1)). Kedua, "setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar" (Pasal 6 Ayat (1)). Ketiga, "pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi" (Pasal 11 Ayat (1)). Keempat, "pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya anggaran guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun" (Pasal 11 Ayat (2)).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Janji pemerintah ini sudah sesuai dengan Konvensi Internasional Bidang Pendidikan yang dilaksanakan di Dakkar, Senegal, Afrika, 2000. Konvensi menyebutkan, semua negara diwajibkan memberikan pendidikan dasar yang bermutu secara gratis kepada semua warga negaranya. Selanjutnya, dalam masa kampanye legislatif dan calon presiden (capres), pendidikan menjadi komoditas yang ditonjolkan. Semua capres menjanjikan pembenahan sektor pendidikan. Yang belum jelas, komitmen menyentuh akar permasalahan dalam bidang pendidikan dan skenario mengatasi berbagai permasalahan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Permasalahan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Mengacu Pasal 31 Amandemen UUD 1945 Ayat (1) dan (2), UU SPN No 20/2003, dan kesepakatan dalam Konvensi Internasional Bidang Pendidikan di Dakkar tahun 2000, masyarakat bisa mempunyai persepsi, pendidikan dasar akan gratis (baca, misalnya, Kompas, 31/8/2003).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Padahal kenyataannya, siswa masih dikenai berbagai pungutan, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Bahkan ditengarai, Komite Sekolah yang semestinya berfungsi sebagai lembaga pengontrol sekolah malah memberikan justifikasi bagi berbagai pungutan yang diadakan sekolah (Kompas, 2/8/2004). Pemberian subsidi biaya oleh pemerintah tidak serta-merta menggratiskan pendidikan bagi warga. Di Jawa Timur, misalnya, pemerintah provinsi dan kabupaten memberi subsidi sebesar Rp 15.000 untuk SD-MI (sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah) dan Rp 20.000 untuk SLTP-MTs (madrasah tsanawiyah). Ini berarti di sekolah-sekolah yang membiayai penyelenggaraan pendidikan lebih dari Rp 15.000 dan Rp. 20.000 per siswa, ada kemungkinan besar orangtua atau wali murid harus menanggung kekurangan biaya. Padahal, ada banyak sekolah (baik negeri maupun swasta) yang menganggarkan unit cost di atas Rp. 15.000 dan Rp. 20.000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Program pemberian subsidi biaya minimal pendidikan dasar bisa menimbulkan dua macam kekecewaan. Pertama, sebagian masyarakat yang sudah terlanjur berharap pada pendidikan gratis untuk anak berusia 7 sampai dengan 15 tahun akan kecewa karena ternyata orangtua atau wali murid masih harus membayar iuran pendidikan. Sekali lagi, mereka akan beranggapan, yang dilaksanakan hanya penggantian istilah dan permainan kata-kata (SPP- Sumbangan Pembinaan Pendidikan-ditiadakan, juga iuran BP3-Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan-tidak diberlakukan. Namun, ternyata tetap masih ada biaya yang harus dikeluarkan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kedua, orangtua (terutama dari kalangan miskin) makin tercekik dengan berbagai biaya tambahan mulai dari seragam, buku pelajaran, darma wisata, dan sebagainya. Dalam lingkaran setan kemiskinan pendidikan siswa-lah yang menjadi korban pada tataran yang paling menderita. Dalam proyek pengadaan buku pelajaran, seragam, dan sebagainya, guru (dan juga kepala sekolah) mengambil keuntungan dengan dalih kesejahteraan guru yang amat memprihatinkan. Jika siswa tidak mampu membayar berbagai biaya tambahan itu, terancamlah kesinambungan pendidikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Pembiayaan pendidikan yang tanggung-tanggung oleh pemerintah akan menimbulkan (atau makin mengukuhkan) kesenjangan di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kesenjangan sekolah kaya-miskin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Minimnya tanggung jawab dan peran pemerintah dalam bidang pendidikan makin mengukuhkan segregasi siswa berdasarkan status sosio-ekonomi. Siswa-siswi dari keluarga miskin yang mendapat subsidi pemerintah tidak akan mampu menanggung kekurangan biaya sehingga mereka akan terpaksa mencari dan terkonsentrasi di sekolah-sekolah yang minimalis (baca: miskin), di mana biaya operasional per anak tidak (jauh) melebihi unit cost yang sudah ditetapkan. Sementara itu, siswa-siswi dari kelas menengah dan atas bebas memilih sekolah dengan sarana dan prasarana memadai. Selanjutnya, karena sekolah-sekolah ini mendapat iuran pendidikan memadai dari siswa, sekolah- sekolah ini akan mempunyai lebih banyak keleluasaan untuk makin membenahi diri dan meningkatkan mutu pendidikan. (catatan: Besarnya anggaran tidak menjamin peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah. Namun, kekurangan anggaran hampir pasti amat menghambat peningkatan mutu pendidikan). Dalam jangka waktu panjang, disparitas sekolah miskin dan kaya serta anak miskin dan kaya akan makin lebar. Bahkan, di beberapa daerah banyak sekolah miskin harus ditutup karena sudah tidak mampu lagi membiayai penyelenggaraan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Efek kemiskinan dalam pendidikan juga memperlebar jurang antara kota dan desa (Pendidikan dan Kemiskinan Kita, Frietz Tambunan, Kompas, 20/7/2004). Kesenjangan antara sekolah kaya dan miskin ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan, di negara sekaya Amerika Serikat pun disparitas ini muncul di permukaan sebagai fenomena neoliberalisme yang amat memprihatinkan (Jonathan Kozol, Savage Inequalities).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kesenjangan kekuasaan-kewajiban negara&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Mengacu Pasal 31 Amandemen UUD 1945, UU SPN No 20/2003, dan Konvensi Dakkar, pemerintah wajib menyediakan pendidikan bermutu secara gratis kepada setiap warga negara. Secara rinci, Pasal 49 UU SPN No 20/2003 menyatakan, "Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Bahwa ternyata anggaran pendidikan-seperti disampaikan dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI di depan sidang DPR 15 Agustus 2003-ditetapkan sebesar kurang lebih Rp 15,2 triliun (berarti hanya 4,12% dari anggaran pendapatan negara sebesar Rp 343,9 triliun dan anggaran belanja negara yang sebesar Rp 368,8 triliun), telah terjadi pelanggaran awal oleh pemerintah terhadap UU SPN. Dalam konteks negara yang sedang mengalami krisis multidimensional, keterbatasan dan ketidakmampuan pemerintah sering diajukan kepada masyarakat untuk dipahami dan diterima. Bahkan, pemahaman dan penerimaan masyarakat diikuti dukungan dan partisipasi masyarakat untuk mengisi kekosongan yang ada. Misalnya, swadaya masyarakat dalam pengelolaan sekolah-sekolah swasta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Seyogianya kewajiban dan layanan publik oleh negara berjalan seiring dengan kekuasaan dan wewenang. Namun, ketika negara tidak mampu menyediakan pendidikan bermutu secara gratis kepada setiap warganya dan masyarakat mengambil alih peran pemerintah dalam pengelolaan sekolah-sekolah secara swadaya, kekuasaan dan wewenang yang diberikan kepada masyarakat masih belum seimbang. Beberapa kasus, mulai dari pelaksanaan UAN, penetapan penerbit tertentu dan buku ajar yang harus dipakai, penjualan soal-soal ulangan (UUB, EBTADA, dan sebagainya), sampai dengan sistem penerimaan siswa baru, menunjukkan kewajiban dan layanan publik dalam dunia pendidikan masih belum seimbang dengan kekuasaan dan wewenang. Ketika pemerintah gagal memenuhi kewajibannya, masyarakat harus memahami dan menerima keterbatasan itu. Namun, ketika masyarakat tidak mampu memenuhi tuntutan pemerintah, mereka harus menghadapi berbagai macam sanksi (melalui perangkat akreditasi, perizinan, dan sebagainya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ketidakseimbangan antara kekuasaan dan kewajiban ini mendapat sorotan dalam masyarakat dan perlu mendapat perhatian serius jika negara masih beriktikad baik untuk memperbaiki kinerjanya dan meraih kembali kepercayaan publik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Otonomi Daerah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Alokasi minimal 20 persen dari APBN dan APBD yang sudah ditetapkan dalam UU SPN No 20/2003, tetapi tidak dipenuhi di tingkat nasional kemungkinan besar akan sulit terjadi di daerah-daerah. Dalam era otonomi daerah, pemerintah kabupaten/kota mempunyai wewenang untuk menentukan anggaran pendidikan dalam APBD-nya. Kondisi dan kemampuan tiap daerah tentu berbeda. Ada daerah yang mungkin sudah mampu menggratiskan pendidikan dasar (Sesaat setelah terpilih pada 28 Agustus 2003, Wali Kota Malang Drs Peni Suparto meluncurkan pendidikan gratis dari SD sampai SMU, Kompas, 29/8/2003). Sementara daerah lain belum sanggup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Variasi antardaerah yang amat tinggi akan mengarah kepada kesenjangan pendidikan dan pembangunan manusia di berbagai daerah. Kesenjangan ini selanjutnya akan berpengaruh pada kemajuan masing- masing daerah di kemudian hari. Untuk meminimalkan kesenjangan antardaerah, peran pemerintah pusat masih dibutuhkan. Perlu ada kesepakatan dan penetapan biaya maksimal yang harus dibebankan kepada siswa (terutama untuk sekolah-sekolah negeri).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kepercayaan publik terhadap aparat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Pemberian subsidi untuk siswa dari keluarga miskin perlu disertai antisipasi terhadap teknis pelaksanaan distribusi dana. Sosialisasi, pendataan, dan distribusi subsidi pendidikan ini harus dilaksanakan dengan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Berbagai kasus penyelewengan dalam program Jaring Pengaman Sosial dan yang lain, makin mengikis kepercayaan publik terhadap aparat negara (baik eksekutif maupun legislatif). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di berbagai tingkat perlu menyiapkan segala perangkat sosialisasi, pendataan, dan distribusi dengan lebih bertanggung jawab, jujur, dan transparan. Sementara itu, fungsi kontrol yang dilakukan masyarakat baik secara formal lewat Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah maupun lembaga masyarakat nonformal harus lebih digalakkan lagi. Sanksi tegas terhadap penyelewengan yang mungkin muncul harus disiapkan agar good governance tidak hanya menjadi slogan semata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Pendidikan adalah lokomotif yang akan membawa bangsa ini dalam perjalanan menuju yang lebih baik. Janji para wakil rakyat yang sudah terpilih untuk dewan mendatang dan capres untuk mengedepankan pendidikan perlu diikuti komitmen dan kejujuran untuk berpikir dan bertindak di atas kepentingan sendiri dan golongan, agar bangsa ini bisa lebih cerdas di kemudian hari. Masyarakat tentu harus menggunakan hak mereka untuk terus mengontrol pemenuhan janji tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Anita Lie&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pendidik, Tinggal di Surabaya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-5102465050994103450?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/5102465050994103450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/menuntut-tanggung-jawab-negara-atas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5102465050994103450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5102465050994103450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/menuntut-tanggung-jawab-negara-atas.html' title='Menuntut Tanggung Jawab Negara atas Pendidikan'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-8959515001704567531</id><published>2007-07-31T08:31:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:29:59.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>MBS = Masyarakat Bayar Sendiri</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Darmaningtyas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;INAWATI (13) gadis cilik dari Bogor itu menuturkan, dirinya tidak sekolah ke jenjang SLTP karena tidak punya biaya. Ayahnya seorang pengangguran, kadang menjual minuman botol. Sementara ibunya hanya pekerja rumah tangga. Karena keinginan sekolahnya tinggi, ia masuk ke sanggar belajar yang difasilitasi lembaga swadaya masyarakat. Namun, itu tidak dikatakan kepada ibunya karena pasti tidak diizinkan. Ibunya menuntut dia bekerja untuk menopang ekonomi keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;KISAH itu terungkap saat dialog dengan anak-anak miskin di Jakarta, 23 Juli 2004, yang diprakarasai Yayasan Kelopak dan kawan-kawan. Ketika ditanya, "siapa yang tidak bersekolah?", ternyata yang tunjuk jari lebih dari 10 anak atau sekitar 20 persen dari anak-anak yang hadir. Semua anak yang tidak bersekolah itu memiliki alasan sama: tidak ada biaya dan dituntut bekerja oleh orangtuanya. Di Yogyakarta, ada orangtua yang menunda anaknya masuk sekolah dasar (SD) guna menunggu kakaknya lulus dulu sehingga bebannya tidak berat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Bila kita melihat bahwa stratifikasi sosial di masyarakat "didominasi" kelas bawah, kasus anak-anak tidak bisa sekolah karena masalah biaya itu menjadi amat banyak, jumlahnya mencapai jutaan, hanya saja tidak termonitor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Atas keadaan itu, negara juga tidak peduli terhadap nasib orang miskin. Terbukti, pada acara dialog itu, tidak seorang pun pejabat negara hadir meski Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) diundang. Bahkan, wakil dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang berjanji hadir pun tidak jadi datang. Mereka memilih pergi ke Ancol yang dihadiri Presiden Megawati serta anak-anak kaya dan pintar. Anak-anak yang miskin dan terpinggirkan tidak memperoleh perhatian sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kemiskinan dan ketidakadilan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kemiskinan dan ketidakadilan merupakan akar masalah dari persoalan rendahnya angka partisipasi di SLTP sehingga Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP baru mencapai 77,40 persen meski program Wajib Belajar Sembilan Tahun sudah berlangsung sepuluh tahun. Mayoritas alasan tidak bersekolah adalah karena faktor biaya. Namun di lain pihak, pertumbuhan kendaraan pribadi di kota-kota besar maupun kecil amat tinggi. Ini menunjukkan adanya suatu ironi ketidakadilan: di antara banyak orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, banyak pula yang hidup dalam kemewahan. Masalahnya, adanya ketidakpekaan dari yang kaya terhadap yang miskin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ironisnya, ketidakadilan juga diperlihatkan negara. Di satu pihak anggaran pendidikan dikurangi dengan alasan negara sedang bangkrut, tetapi di lain pihak negara bisa membayar bunga dan cicilan utang luar negeri yang mencapai Rp 134 triliun dalam satu tahun, bisa memberi uang pesangon pegawai kontrakan BPPN ratusan miliar (padahal umumnya tidak ada pegawai kontrakan itu dapat pesangon), bisa membeli helikopter, dan membebaskan para koruptor kelas kakap yang selama ini membuat bangsa Indonesia jatuh miskin. Subsidi negara untuk pendidikan terkonsentrasi ke sekolah-sekolah favorit, sementara sekolah-sekolah swasta pinggiran yang menampung golongan miskin dan bodoh malah tidak ada subsidi sama sekali. Lalu kepada siapa anak-anak miskin dan bodoh itu mengeluhkan soal nasibnya bila negeri sendiri tidak peduli pada mereka?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Rasa pedih tidak bisa bersekolah sebetulnya tidak hanya dirasakan anak- anak, tetapi juga oleh orangtua yang berhasrat menyekolahkan anaknya, tetapi terbentur masalah biaya yang tidak terjangkau. Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi (PT) membuat orangtua miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Mengingat, masuk TK dan SDN saja sekarang ada yang memungut biaya Rp 500.000-Rp 1.000.000, bahkan banyak yang di atas Rp 1 juta. Sementara masuk ke SLTP-SLTA bisa mencapai Rp 1 juta-Rp 5 juta (tergantung sekolah). Celakanya, kini SLTP/SLTA negeri tidak otomatis lebih murah dibandingkan negara sekolah swasta. Semua amat tergantung kebijakan sekolah masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Bayar sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Di negara-negara lain seperti Selandia Baru, Australia, dan Amerika Serikat yang lebih dulu menjalankan MBS, memaknai MBS sebagai proses demokratisasi pengambilan keputusan di sekolah. Bila semula keputusan dilakukan secara tunggal oleh negara, dengan adanya MBS itu proses pengambilan keputusan dilakukan bersama pihak-pihak yang terlibat (multistakeholder), termasuk orangtua murid dan murid sendiri. MBS sama sekali tidak berkait dengan masalah biaya karena pembiayaan pendidikan tetap menjadi tanggung jawab negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Namun, di Indonesia MBS dimaknai lain, terutama untuk melakukan mobilisasi dana, bukan sebagai proses demokratisasi pengambilan keputusan pendidikan. Karena itu, pembentukan Komite Sekolah/Dewan Pendidikan-yang merupakan organ MBS-selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok "sesuai keputusan Komite Sekolah". Namun, pada tingkat implementasinya tidak transparan karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan kepala sekolah, persis seperti Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) di masa lalu. Dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap masalah pendidikan warganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Keluhan masyarakat dalam hal pendidikan, terutama golongan miskin, karena dari soal seragam sekolah, tas, sepatu, buku pelajaran, buku tulis, uang gedung, sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), tabungan, dan sejenisnya harus diusahakan dalam waktu amat singkat dan bersamaan, tidak otomatis mendapat respons dari Komite Sekolah. Sebaliknya, pihak sekolah melalui Komite Sekolah justru menegaskan, semua ini terjadi karena kini MBS, jadi semua harus diusahakan oleh sekolah. Dengan kata lain, MBS kependekan dari "Masyarakat Bayar Sendiri". Karena MBS, masyarakat bayar sendiri pendidikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kondisinya akan lebih buruk lagi bila kelak RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) disahkan menjadi UU BHP. Berubahnya status lembaga pendidikan dari milik publik ke bentuk badan hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Oleh karena itu, RUU BHP itu harus ditolak, jangan sampai disahkan menjadi undang-undang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kehadiran UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang semula diharapkan dapat melindungi warga, ternyata malah mengaburkan hak- hak warga negara untuk memperoleh akses pendidikan dari negara. Pasal 34 Ayat (2) UU No 20 Tahun 2003 menyatakan "Pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun tanpa memungut biaya". Namun, bunyi ayat ini dianulir oleh Pasal 46 Ayat (1) yang menyatakan, "Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Adanya dua pasal kontradiktif itu memperlemah posisi warga. Warga yang menuntut pelayanan pendidikan secara gratis dapat dituntut balik dengan kata- kata "bukankah pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat?" Pasal 46 UU Nomor 20 Tahun 2003 inilah yang lalu menjadi cantolan pelaksanaan MBS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Cara pemerintah melempar tanggung jawab pembiayaan pendidikan ke MBS itu lalu ditiru pengelola sekolah swasta. Meski masyarakat sudah tahu kalau sekolah-sekolah swasta itu sejak dulu mendapat subsidi kecil dari pemerintah, para pengelola sekolah swasta selalu melegitimasi pungutannya pada "MBS".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Karena MBS, sekolah harus mandiri sehingga biaya sekolah harus dinaikkan. Namun, transparansi dalam pengelolaan anggaran pendidikan tidak terjadi sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Mengakhiri stres&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Stres masyarakat yang pusing mencari sekolah dan biaya sekolah harus cepat diakhiri sebelum berkembang menjadi sakit jiwa. Ada beberapa langkah teknis dan strategis guna mengurangi stress itu. Pertama, secara teknis, Depdiknas perlu merevisi kalender pendidikan yang mengatur jadwal ujian akhir, ulangan umum semester genap, libur akhir tahun ajaran, penerimaan murid baru, dan permulaan tahun ajaran baru agar tidak berdekatan. Jadwal yang terlalu berdekatan membuat orangtua maupun murid tidak sempat bernafas. Orangtua terus diburu mencari biaya dan murid terus ditekan untuk belajar tiada henti. Kini, berilah kesempatan kepada orangtua dan murid untuk rileks sejenak melalui kecerdasan membuat kalender pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kedua, yang lebih strategis adalah mengoreksi konsep MBS dan organ (Komite Sekolah/Dewan Pendidikan) agar berfungsi sebagai proses pendemokratisasian pendidikan, bukan untuk mobilisasi dana pendidikan. Dana pendidikan tetap menjadi tanggung jawab negara, negara mampu menggratiskan biaya pendidikan bagi warganya yang miskin dari SD-PT asalkan mau. Terbukti banyak uang negara yang dikorup pejabatnya, pengusaha, bayar utang, membeli Sukhoi, operasi militer, dan inefisiensi lainnya. Jadi, jangan atas karena korupsi pejabat, masyarakat menjadi korban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ketiga, revisi UU No 20/2003 yang menjadi titik awal privatisasi pendidikan, sekaligus melempar tanggung jawab negara terhadap urusan pendidikan warganya. Pendidikan tetap menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Keempat, batalkan rencana pembahasan dan pengesahan RUU BHP menjadi UU BHP karena hal itu akan mengantarkan bangsa ini masuk ke jurang kebodohan sepanjang masa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Darmaningtyas &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Anggota Dewan Penasihat CBE di Jakarta&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-8959515001704567531?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/8959515001704567531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/mbs-masyarakat-bayar-sendiri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/8959515001704567531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/8959515001704567531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/mbs-masyarakat-bayar-sendiri.html' title='MBS = Masyarakat Bayar Sendiri'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-7132662998276503087</id><published>2007-07-31T08:30:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:30:26.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kemiskinan dan Kesempatan Memperoleh Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Djauzak Ahmad&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;BAGI bangsa yang ingin maju, pendidikan merupakan sebuah kebutuhan. Sama dengan kebutuhan perumahan, sandang, dan pangan. Bahkan, ada bangsa atau yang terkecil adalah keluarga, pendidikan merupakan kebutuhan utama. Artinya, mereka mau mengurangi kualitas perumahan, pakaian, bahkan makanan, demi melaksanakan pendidikan anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;SEHARUSNYA negara juga demikian. Apabila suatu negara ingin cepat maju dan berhasil dalam pembangunan, prioritas pembangunan negara itu adalah pendidikan. Jika perlu, sektor-sektor yang tidak penting ditunda dulu dan dana dipusatkan pada pembangunan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;NEGERI ini telah lebih dari 20 tahun melaksanakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun dan telah 10 tahun melaksanakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Maksud dan tujuan pelaksanaan wajib belajar adalah memberikan pelayanan kepada anak bangsa untuk memasuki sekolah dengan biaya murah dan terjangkau oleh kemampuan masyarakat banyak. Apabila perlu, pendidikan dasar enam tahun seharusnya dapat diberikan pelayanan secara gratis karena dalam pendidikan dasar enam tahun atau sekolah dasar kebutuhan mendasar bagi warga negara mulai diberikan. Di sekolah dasar inilah anak bangsa diberikan tiga kemampuan dasar, yaitu baca, tulis, dan hitung, serta dasar berbagai pengetahuan lain. Setiap wajib belajar pasti akan dimulai dari jenjang yang terendah, yaitu sekolah dasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Seperti diketahui, sebagian besar keadaan sosial ekonomi masyarakat kita tergolong tidak mampu. Dengan kata lain, mereka masih dililit predikat miskin. Mulai Inpres Nomor 10 Tahun 1971 tentang Pembangunan Sekolah Dasar dan inpres- inpres selanjutnya, negeri ini telah berusaha memberikan pendidikan murah untuk anak bangsanya. Puluhan ribu gedung sekolah dasar telah dibangun dan puluhan ribu guru sekolah dasar diangkat agar pemerataan kesempatan belajar untuk jenjang sekolah dasar dapat dilaksanakan dengan murah, dari kota sampai ke desa-desa. Semua warga negara, kaya atau miskin, diberi kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan dasar enam tahun yang biayanya dapat dijangkau golongan miskin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kejadian itu dapat dinikmati dalam jangka waktu cukup lama, yaitu sejak dicetuskannya Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun tahun 1984. Sayang, gema wajib belajar itu makin hari makin melemah karena komitmen bangsa ini pada wajib belajar tidak seperti saat dicanangkan. Jika selama ini kita melihat pendidikan tinggi itu mahal, sekolah menengah juga mahal, SMP juga mahal, sekarang kita saksikan memasuki sekolah dasar pun sudah mahal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kini kita melihat, hampir semua jenjang sekolah negeri sudah menjadi lembaga komersialisasi karena yang berbicara tidak lagi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh kurikuler, tetapi justru besarnya biaya masuk untuk sekolah dasar. Jika untuk masuk sekolah dasar ditentukan oleh umur, maka seorang anak yang sudah berumur tujuh tahun atau lebih wajib diterima sebagai murid sekolah dasar. Ini adalah ketentuan yang tidak boleh ditawar karena ketentuan untuk masuk sekolah dasar adalah berdasarkan umur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Agaknya pelaksanaan wajib belajar negeri ini adalah slogan yang selalu didengung-dengungkan. Padahal, dalam kenyataannya, pelaksanaan wajib belajar dihalang-halangi, karena untuk masuk sekolah dasar pun kini harus membayar mahal sehingga masyarakat miskin tidak mungkin dapat membayarnya. Maka terjadilah hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi apabila semua pihak, terutama guru dan kepala-kepala sekolah, menghayati tujuan wajib belajar itu. Bagi masyarakat dan orangtua yang kaya, anaknya akan dapat bersekolah di sekolah negeri, sedangkan yang miskin akan gagal dan tidak bersekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Untuk masuk ke sekolah swasta, masyarakat miskin tidak mungkin mampu membayarnya. Akibatnya, banyak anak bangsa yang tidak akan memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan. Sungguh satu hal yang ironis. Sebab, pada negara yang hampir 60 tahun usianya ini, banyak anak bangsanya akan menjadi buta huruf karena dililit kemiskinan dan negeri ini akan terpuruk karena kualitas sumber daya manusianya tidak mampu bersaing dengan negara –negara yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;PENULIS sengaja memfokuskan tulisan ini pada kesempatan untuk memperoleh pendidikan dasar enam tahun karena bagi warga negara sekurang-kurangnya harus memiliki kemampuan setingkat sekolah dasar, dengan harapan akan memperoleh pendidikan lanjutan. Dengan memiliki dan dibekali kemampuan dasar itu, seorang warga negara akan memiliki harga diri, dapat menambah wawasan melalui kemampuan baca, sehingga ia menjadi warga negara yang tidak picik, mampu menerima pembaruan, dan meningkatkan kemampuannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Apabila praktik-praktik pungutan yang diadakan sekolah- sekolah dibiarkan dan tidak ditertibkan, maka akan bertambah banyaklah deretan anak- anak yang tidak bersekolah karena tidak mampu. Dan hanya anak-anak orang kaya saja yang akan memperoleh pendidikan dari tingkat terbawah sampai ke tingkat yang tinggi. Akibat dari itu semua, negeri ini akan dihuni golongan kaya dan terdidik yang akan membentuk kelas tersendiri dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Di lain pihak akan terdapat keluarga miskin dan tidak terdidik yang merupakan golongan terbesar di negeri ini. Jika itu terjadi, alangkah rusaknya struktur masyarakat di negeri ini, yang berakibat terjadinya kesenjangan sosial yang tidak kita inginkan. Anehnya, kejadian-kejadian itu justru terjadi di era otonomi daerah, yang seharusnya ada perubahan menuju kebaikan dalam pelaksanaan proses pendidikan. Diharapkan pelaksanaan pembangunan pendidikan di daerah akan lebih baik karena banyak daerah menyediakan dana pendidikan yang tidak sedikit, yang seharusnya pungutan-pungutan itu tidak perlu terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Adalah suatu kekeliruan yang telah dibuat bahwa wewenang pendidikan yang begitu luas diberikan kepada kabupaten dan kota. Padahal, di daerah-daerah belum tersedia tenaga-tenaga pendidikan yang memenuhi syarat untuk melaksanakan pendidikan di daerahnya. Banyak pejabat yang menangani masalah pendidikan tidak tahu benar akan tugasnya. Lebih-lebih fungsi pengawasan yang menjadi syarat utama dalam proses pendidikan tidak berfungsi. Akibatnya, banyak kepala sekolah yang cenderung mengambil keputusan sendiri- sendiri dengan melanggar ketentuan yang ada, antara lain melaksanakan pungutan untuk masuk sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;MENURUT pengamatan penulis, alasan diadakannya pungutan yang memberatkan itu antara lain untuk kesejahteraan guru dan pembangunan lokal tambahan. Kedua alasan itu adalah alasan klasik yang sudah lama terjadi. Akan tetapi, pungutan yang dilakukan akhir-akhir ini dinilai sudah tidak wajar karena jumlahnya begitu besar dan memberatkan, terutama bagi yang miskin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Untuk mengatasi semua itu, pertama, janganlah kemiskinan dijadikan penyebab terhambatnya anak bangsa untuk memperoleh pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kedua, guru atau profesi guru adalah profesi khusus. Profesi guru tidak sama dengan pegawai negeri lain. Tugasnya terikat pada waktu dan tempat. Karena itu, penggajian pada guru harus berbeda dari pegawai negeri lainnya, agar mereka dapat bekerja dengan tenang dan tidak perlu memikirkan untuk pungutan-pungutan yang tidak sah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ketiga, apabila penghasilan guru sudah dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, diharapkan berbagai pungutan tidak terjadi. Jika melanggar berbagai ketentuan itu, mereka harus dikenai sanksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Keempat, kepada pengelola pendidikan dan komite sekolah, harus selalu ada koordinasi dengan sekolah agar ketentuan- ketentuan kurikuler, terutama dalam penerimaan murid baru, dapat berjalan menurut ketentuan yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Djauzak Ahmad&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; Mantan Direktur Pendidikan Dasar; Ketua Majelis Pendidikan Riau&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-7132662998276503087?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/7132662998276503087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/kemiskinan-dan-kesempatan-memperoleh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/7132662998276503087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/7132662998276503087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/kemiskinan-dan-kesempatan-memperoleh.html' title='Kemiskinan dan Kesempatan Memperoleh Pendidikan'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-3045529006784310456</id><published>2007-07-31T08:28:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:30:56.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Biaya Pendidikan di Indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:Blue;"  &gt;* Perbandingan pada Zaman Kolonial Belanda dan NKRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kompas, BIAYA pendidikan akademis tidak pernah murah. Yang membuat biaya pendidikan terlihat tinggi karena dibandingkan dengan penghasilan rata-rata rakyat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Di zaman kolonial Belanda, pemerintah kolonial sebenarnya tidak berniat mendirikan universitas. Mereka mendirikan hogeschool agar lulusan dapat membantu mission mereka menjajah rakyat Indonesia dengan mudah karena dapat memanfaatkan tenaga inlanders untuk diangkat sebagai pembantu utamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Meski demikian, pemerintah kolonial akhirnya membuat sekolah juga. Pada mulanya, pemerintah kolonial mendirikan sekolah Nederlands Indische Artsen School di Surabaya. Lalu, didirikan School tot Opleiding voor Indische Artsen di Batavia. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta didirikan Algemene Middelbare School (AMS), Middelbare Opleiding School voor Indlandse Amstenaren di Magelang, Middelbare Opleiding School voor Inlandse Bestuur Ambtenaren di Bandung, Middelbare Landbouw School di Bogor dan Ungaran. Juga Veeartsen School di Bogor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sekolah-sekolah itu adalah setara dengan jenjang sekolah menengah. Setelah itu, pemerintah kolonial baru mendirikan Rechts Hogeschool (RH) dan Geneeskundige Hogeschool di Jakarta. Di Bandung, pemerintah kolonial mendirikan Technische Hogeschool (TH). Kebanyakan dosen TH adalah orang Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Pada zaman kolonial (kalau tidak salah ingat), hanya ada seorang pribumi yang menjadi guru besar, yaitu Prof Husein Djajadiningrat, yang kemudian menjabat Direktur Departement Van Onderwijs en Eredienst, disusul kemudian oleh Prof Dr Mr Supomo yang mengajar di RH. Sementara universitasnya baru didirikan setelah Perang Dunia II usai dan pemerintah kolonial mau menjajah kembali Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;BAGI kaum inlanders atau pribumi, mereka agak sulit untuk masuk ke sekolah-sekolah tinggi itu. Bahkan, ketika almarhum Prof Roosseno lulus TH, jumlah lulusan yang bukan orang Belanda hanya tiga orang, yaitu Roosseno dan dua orang lagi vreemde oosterling alias keturunan Tionghoa. Bila demikian, lantas berapa orang yang lulus bersama almarhum Ir Soekarno (presiden pertama RI) dan Ir Putuhena? Di zaman pendudukan Jepang, pernah dicari 100 orang insinyur yang dibutuhkan. Padahal saat itu belum ada 90 orang insinyur lulusan TH Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Biaya kuliah untuk satu tahun di salah satu sekolah tinggi itu besarnya fl (gulden) 300. Saat itu, harga satu kilogram (kg) beras sama dengan 0,025 gulden. Maka, besar uang kuliah sama dengan 12.000 kg beras. Bila ukuran dan perbandingan itu diterapkan sebagai biaya kuliah di universitas sekarang, sedangkan harga beras sekarang rata-rata Rp 3.000 per kg, maka untuk kuliah di universitas biayanya sebesar Rp 36 juta per mahasiswa per tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Biaya di MULO, setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, adalah sebesar 5,60 gulden per siswa per bulan, setara dengan 224 kg beras. Bila dihitung dengan harga beras sekarang, akan menjadi Rp 672.000 per siswa per bulan. Maka, saat itu banyak rekan sekolah saya masuk ke Ambachtschool atau Technische School, karena biayanya agak murah sedikit. Berbekal keterampilan yang diperoleh di Ambachtschool atau Technische School, siswa bisa langsung bekerja setelah lulus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Meski biaya sekolah mahal, bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomis, tetapi mempunyai bakat dan nilai rapor bagus, kepala sekolah dapat mengajukan pembebasan biaya uang sekolah ke Departement O &amp; E. Biasanya, bila pengajuan pembebasan biaya diajukan oleh Direktur MULO atau AMS, Departemen O &amp;amp; E akan mengabulkan, bahkan amat mungkin siswa bersangkutan juga diberi beasiswa untuk hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Dari pengalaman pribadi, orangtua saya berhenghasilan 100 gulden sebulan. Dengan penghasilan itu, hampir mustahil orangtua saya bisa mengirimkan keempat anaknya menikmati pendidikan tinggi. Meski demikian, dengan kerja keras, saya dan semua adik saya dapat menikmati pendidikan tinggi. Bahkan, saya dan beberapa ratus teman pada tahun awal kemerdekaan, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih miskin, dapat menikmati beasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;PADA tahun 1950, NKRI baru saja menyelesaikan perang kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Toh Pemerintah NKRI yang masih miskin mampu memprogramkan pendidikan bagi kader bangsanya. Ratusan pemuda Indonesia dibiayai Pemerintah NKRI untuk meneruskan pendidikannya di perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dewasa ini NKRI sudah begitu kaya, mengapa beasiswa bagi para kader bangsa tidak lancar? Padahal NKRI ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, sedangkan penghasilan rakyatnya amat rendah. Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Seyogianya industri atau instansi pemerintah menyerahkan tugas penelitiannya kepada universitas sehingga biaya penelitian yang harus dipikul perguruan tinggi dapat dibantu atau bahkan dipikul industri dan instansi pemerintah. Dengan demikian, biaya bagi mahasiswa dapat dikurangi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Juga cara perguruan tinggi melakukan pembibitan, jangan langsung diambil dari yang fresh graduate. Lebih-lebih kalau dosen muda itu lulusan perguruan tinggi itu karena akan timbul inbreeding bila mereka tidak disekolahkan ke tingkat lanjutan atau dimagangkan di profesi tertentu. Dosen di perguruan tinggi membutuhkan pengalaman kerja di luar perguruan tinggi, di mana mereka dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan yang dikuasai. Maka, di luar negeri banyak profesor yang diambil dari industri atau instansi. Mereka sudah pernah menguji kemampuannya untuk berkompetisi dengan alumni dari perguruan tinggi lain. Setelah diketahui kemampuannya, mereka dipanggil untuk menjadi profesor di perguruan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Profesor yang mengajar di universitas seyogianya mampu mengembangkan ilmunya melalui riset yang dilakukan para kandidat doktor yang dibimbingnya. Bila ada profesor yang tidak membimbing doktor, maka risetnya sudah berhenti atau ilmunya tidak berkembang. Mereka yang tidak mampu mempromotori doktor jangan diangkat sebagai profesor, cukup lektor kepala saja. Apakah tugas seorang profesor hanya mengajar dari buku yang ditulis rekannya saja?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Seorang profesor harus mau mengembangkan ilmunya dengan cara mempromotori kandidat doktor bidang ilmunya. Bila tidak demikian, perkembangan perguruan tinggi akan menjadi seperti sekolah menengah atas plus. Pada umumnya, perguruan tinggi mengembangkan ilmu yang dikuasai profesornya, maka biaya untuk belajar di perguruan tinggi selalu mahal. Dari perguruan tinggi inilah timbul inovasi dan kreasi yang selanjutnya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempertahankan hidupnya aman dan nyaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Perguruan tinggi yang satu akan bersaing dengan perguruan tinggi lainnya, terutama dalam kemajuan ilmu dari hasil risetnya. Mengingat biaya penelitian tidak murah, untuk dapat mengikuti kuliah di perguruan tinggi dibutuhkan biaya tidak sedikit. Bila hasil riset dapat langsung diaplikasikan dan dapat dijual ke industri atau instansi terkait, hasil ini secara kumulatif dapat digunakan membiayai riset berikutnya. Jadi, hasil riset dapat menumbuhkan multiplier effect.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;BIAYA mengikuti pendidikan di perguruan tinggi yang mahal bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara mana pun tetap tinggi dan penghasilan para profesornya pun amat memadai. Dengan demikian, tidak ada profesor yang bekerja di tempat lain (nyambi), kecuali di bidang pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Di luar negeri, bila ada seorang direktur industri atau instansi dipanggil untuk menjabat profesor di salah satu perguruan tinggi, jabatannya akan ditinggalkan. Karena, jabatan profesor di perguruan tinggi lebih terhormat dan penghasilannya meningkat. Keadaan ini berbeda dengan situasi perguruan tinggi di Indonesia. Bila seorang profesor diminta menjadi direktur salah satu industri atau instansi, jabatan di perguruan tingginya akan ditinggalkan. Karena, penghasilan profesor di perguruan tinggi Indonesia rendah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Dengan biaya kuliah yang tinggi, perguruan tinggi diharapkan akan menghasilkan riset dan ilmu yang sepadan. Menurut saya, tidak semua pemuda harus kuliah di perguruan tinggi bila kemampuan berpikirnya tidak cukup baik. Lebih baik mereka masuk akademi yang mengajarkan ilmu terapan, profesi dan kompetensi yang amat dibutuhkan oleh masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sebetulnya, yang dibutuhkan masyarakat adalah ilmu dari seseorang yang dapat disumbangkan, bukan suatu gelar yang menempel pada namanya, tetapi tidak dapat dimanfaatkan masyarakat. Janganlah membanggakan diri dengan gelar yang dijualbelikan seperti pernah disinyalir Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Semoga masyarakat tidak silau melihat beberapa gelar yang dipajang di sekitar nama seseorang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Nakoela Soenarta&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Guru Besar Ilmu Teknik Mesin di FTUI, ISTN, dan FTUP&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-3045529006784310456?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/3045529006784310456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/biaya-pendidikan-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3045529006784310456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/3045529006784310456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/biaya-pendidikan-di-indonesia.html' title='Biaya Pendidikan di Indonesia'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-1080319717323244367</id><published>2007-07-31T08:27:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:31:23.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Murah? "Ah... Ndobos!"</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;ANTI hampir saja tidak bisa mengenyam pendidikan. Pasalnya, untuk masuk SD negeri di dekat rumahnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, orangtuanya harus merogoh kocek. Padahal, sebagai pekerja serabutan, uang sebesar itu bisa dipastikan tidak dimiliki Yanto, ayah Anti. Untung ada penilik sekolah yang berbaik hati mau "menolong". Meski demikian, Yanto tetap harus mengeluarkan uang Rp 500.000. Tak mengherankan bila pagi itu, Yanto kelabakan mencari uang, mengutang ke sana kemari. Buat apa? "Ya buat menyekolahkan Anti," sahut Yanto. Lho, katanya sekolah gratis. Logikanya, untuk masuk sekolah negeri, kalaupun harus membayar, tentu tidak mahal. Artinya, pendidikan sudah murah. "Siapa bilang pendidikan murah? Ah... ndobos!" sergah Yanto yang asal Yogyakarta ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;LAIN lagi pengalaman Warmin yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu. Karena tak ingin berpisah dengan keluarganya, ia memboyong anak dan istrinya dari Subang ke Jakarta. Dan sesuai dengan pemahamannya, ia menyekolahkan anaknya di sekolah dasar (SD) negeri di kawasan Klender, Jakarta Timur, dengan pikiran sekolah milik pemerintah itu tentu tidak menyedot biaya. "Ternyata banyak juga pengeluaran untuk anak negeri. Buku berganti-ganti. Belum iuran ini dan itu. Akhirnya, ya terasa mahal juga," ujar Warmin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ibu Suyati mempunyai pengalaman lain. Sebagai istri seorang pegawai negeri, ibu tiga anak ini benar-benar dibuat pusing dengan harga buku-buku pelajaran yang harus digunakan putri sulungnya. Kalau memesan melalui sekolah atau toko-toko buku terkenal, harganya dirasa agak tinggi. Tanpa berpikir panjang, Ny Suyati segera ke Kompleks Gedung Maya Indah, di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Dengan tekun dan tabah, Ny Suyati masuk-keluar toko-toko buku yang menjadi grosir buku-buku pelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Harga buku biologi terbitan Erlangga yang di toko buku ternama seharga Rp 65.000, di sini (Senen-Red) harganya sama, tetapi mendapat potongan 25 persen. Lumayan kan? Padahal, untuk keperluan buku pelajaran, semua bisa diperoleh di sini, berikut dengan potongannya. Ya, lebih dari lumayan," tutur Ny Suyati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Untuk keperluan seragam, banyak orangtua yang terpaksa harus mencari di luar sekolah. Keluarga Widiastuti, misalnya, untuk mencukupi kebutuhan seragam ketiga anaknya, diputuskan untuk belanja di pasar. Disadari benar, harga seragam di sekolah dengan di pasar mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Untuk seragam SD, misalnya, harga satu setel baju putih dan celana merah di sekolah sebesar Rp 70.000. Padahal, masing-masing anak paling tidak harus memiliki dua setel baju seragam. Itu berarti, untuk seragam satu anak harus dikeluarkan Rp 140.000. Sedangkan untuk tiga anak, paling tidak harus keluar Rp Rp 420.000. Belum lagi baju seragam pramuka yang lengkap seharga Rp 150.000. Ditambah lagi, kalau siswa masuk sekolah swasta, biasanya masih ada seragam sekolah, entah berupa baju batik atau lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Di pasar, harga baju putih hanya Rp 15.000, sedangkan celana antara Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Memang, kalau membeli seragam di pasar tidak ada badge sekolah. Beli aja badge-nya di sekolah, tinggal jahit sendiri. Ini baru seragam resmi, baju putih dan celana merah atau baju putih dan celana biru. Belum lagi harga buku. Buku- buku bekas kakak-kakak kelasnya tidak lagi bisa dipakai. Paling-paling dijual sebagai kertas kiloan. Meski buku itu dulu dibeli dengan harga Rp 50.000, setelah tahun ajaran baru berlalu, harganya tinggal Rp 750 per kilogram. "Iki sekolah opo?" gumam Ny Widiastuti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;PERGULATAN orangtua untuk menyediakan uang ekstra setiap awal tahun ajaran hampir sudah menjadi pemandangan umum. Maka, tidak mengherankan bila akhir tahun ajaran, kini bukannya ditanggapi dengan kegembiraan lagi, tetapi kebingungan, bahkan frustrasi. Berapa lagi uang yang harus dikeluarkan untuk membeli keperluan sekolah. Keluhan yang umum terjadi adalah selalu digunakannya buku baru. Padahal, harga buku ini setiap tahun bukannya turun, tetapi terus naik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Untuk pelajar SD, misalnya, paling tidak harus disediakan buku matematika (seharga Rp 25.000), bahasa Indonesia (Rp 15.000), IPA (Rp 15.000), IPS (Rp 15.000). Belum lagi buku-buku yang lain. Paling tidak, untuk keperluan buku-buku pelajaran anak SD diperlukan biaya antara Rp 125.000 hingga Rp 170.000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Yang lebih menyedihkan adalah masalah "perdagangan" buku ini telah menyeret sekolah menjadi pasar sekaligus pedagang. Sekolah sudah "ikut bermain" dalam memasarkan buku. Maklum, para penerbit yang bukunya digunakan di sekolah akan memberi iming-iming diskon 20 persen-30 persen untuk setiap buku. Bisa dibayangkan, berapa banyak uang diskon yang terkumpul nantinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Anak saya di SD swasta dan termasuk daerah Banten. Ada tujuh buku yang harus dibeli, yaitu Matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS, bahasa Sunda, bahasa Inggris, dan Agama. Harga seluruh buku itu Rp 125.000. Itu untuk anak yang duduk di kelas 1. Meski anak saya tidak naik kelas dan harus mengulang di kelas 1 SD, buku pelajaran pun tetap harus ganti. Anak kedua yang duduk di kelas IV harus membeli delapan buku pelajaran seharga Rp 202.000. Sedangkan untuk anak ketiga yang duduk di kelas VI SD, saya harus mengeluarkan Rp 169.000 untuk buku-buku pelajaran. Pusing Mas, benar-benar pusing kalau memikirkan sekolah sekarang ini," keluh Ny Widiastuti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Selain membiayai anak-anaknya, Ny Widiastuti juga tergerak untuk membiayai anak pembantunya yang duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama (SMP) negeri. Ternyata, biaya yang harus dikeluarkan juga cukup tinggi. Ia mengemukakan, untuk keperluan buku-buku pelajaran, pihaknya harus mengeluarkan Rp 160.000 per semester. Anehnya, meski sudah membayar, buku-buku itu tidak langsung bisa diterima murid. Maka, kalau nanti satu buku pelajaran terdiri dari "jilid" A dan B, siswa-siswi masih berkewajiban membeli "jilid" B.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Selain harus mengeluarkan uang untuk membeli buku seharga Rp 160.000, saya juga masih harus mengeluarkan uang Rp 270.000. Uang ini sudah mencakup uang SPP (sumbangan pembinaan pendidikan), seragam olahraga, satu set seragam sekolah, baju putih dan celana biru. Tetapi, yang lebih mengagetkan, ternyata untuk masuk SMP negeri itu, orangtua murid masih diminta uang pembangunan Rp 800.000," ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Itu semua baru menyangkut baju seragam dan buku pelajaran. Belum lagi keperluan sepatu dan tas. Untung, harga sepatu anak-anak yang sederhana Rp 50.000-Rp 70.000. Kaus kaki sekitar Rp 10.000. Sedangkan harga tas, juga yang sederhana dan umumnya berbentuk backpack, sekitar Rp 50.000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Maka, pada hari pertama sekolah, seorang siswa SD yang menggunakan seragam baru, sepatu baru, kaus kaki baru, tas baru yang berisi seluruh buku-buku pelajaran yang masih baru, sama dengan seorang anak "memikul" beban seharga Rp 270.000- Rp 360.000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Itulah biaya yang harus dikeluarkan ketika anak baru masuk sekolah. Belum lagi, kalau di swasta, uang sekolah bulanan. Maka, tidak mengherankan bila biaya sekolah sekarang terasa mahal," ungkap Ny Suyati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Pertanyaannya kini, bagaimana mungkin masyarakat yang berpenghasilan rendah, seperti buruh mencuci, pembantu rumah tangga, buruh kasar di pasar, bisa menyekolahkan anaknya? Padahal, Pasal 31 Amandemen UUD 1945 Ayat (1) menyatakan, Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan Ayat (2) menyatakan, Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Perintah UUD 45 ini diperkuat lagi melalui UU Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang disahkan 11 Juni 2003. Pasal 5 Ayat (1) UU SPN menyebutkan, Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (Pasal 6 Ayat 1), Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 Ayat 1), serta Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya anggaran guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun (Pasal 11 Ayat 2). (Lihat Menuntut Tanggung Jawab Negara atas Pendidikan, hal 39)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Meski ada Amandemen UUD 1945 dan UU SPN, kalau pemerintah tidak ada uang, tetap saja "perintah" kedua undang-undang itu tidak bisa dilaksanakan. Tetap saja pemerintah tidak bisa mengatasi masalah pendidikan yang sudah telanjur kronis. Namun, juga tidak adil bila masyarakat menuntut agar pemerintah berjuang sendirian untuk mengatasi masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Mengacu pada konsep pendidikan untuk semua (Education for All) yang dicetuskan di Jomtien, Bangkok, Thailand, tahun 1990, pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan orangtua. Pengertian masyarakat di sini perlu diperluas, yaitu melibatkan kalangan bisnis. Mereka yang kaya dan masyarakat bisnis yang potensial perlu dilibatkan untuk mengatasi sulitnya mendapatkan dana untuk membangun pendidikan. Salah satu gagasan yang pernah muncul, dulu, adalah adanya pajak pendidikan. Pemerintah pusat maupun daerah perlu mendorong para pengusaha dan orang-orang kaya untuk ikut mengembangkan masyarakat. Sekian persen keuntungan digunakan untuk membantu pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, yaitu pendidikan dan kesehatan. Bila pemerintah dapat "mengajak" peran swasta ikut membiayai pendidikan bisa dibayangkan bahwa sejumlah sekolah yang bagus akan tampak di sekeliling pabrik atau tempat produksi. Tentu saja ini semua harus ada timbal baliknya. Bagi perusahaan yang sudah memberikan sebagian keuntungannya untuk pendidikan dibebaskan dari pajak-pajak yang lain. (Lihat, Pajak Sosial Pendidikan, Mengapa Tidak? hal 40) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;BANYAK pihak melihat, mahalnya biaya pendidikan dan kian melangitnya harga buku pelajaran semakin ikut meminggirkan masyarakat kelas bawah. Akses anak-anak mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan, sebagaimana dialami anggota masyarakat yang lain, semakin sulit diwujudkan karena kendala uang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Ketiadaan biaya benar-benar membuat mereka tidak bisa memperoleh salah satu hak dasarnya, yaitu pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Berbagai diskusi dan pembicaraan mengenai hal ini sudah sering dimunculkan. Awal Mei 2004, di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta juga digelar seminar bertajuk "Menggugat Pendidikan".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Darmaningtyas, penasihat Centre for The Betterment of Education (CBE) yang tampil dalam seminar itu, menuding otonomi pendidikan sebagai biang keladi semakin terbatasnya akses pendidikan bagi masyarakat kelas bawah karena biaya pendidikan justru semakin mahal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Darmaningtyas menunjukkan kenyataan, sekolah negeri yang seharusnya menetapkan biaya pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat (termasuk masyarakat bawah) kini justru terbukti menaikkan biaya pendidikan. Akibatnya, akses dan kesempatan masyarakat kelas bawah untuk bisa memperoleh dan menikmati pendidikan semakin terbatas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Yang menyedihkan, anak-anak yang bodoh dan yang berasal dari keluarga tak mampu secara ekonomis justru yang paling banyak dirugikan akibat mahalnya biaya pendidikan. Akibat kemiskinannya, mereka terpaksa masuk sekolah yang juga minim fasilitas dan bermutu rendah. Akibatnya bisa diduga, hasil studi mereka pun tak bisa mencuat. Hasil studi yang rendah otomatis akan menjadi tembok penghalang bagi mereka bila ingin masuk ke sekolah favorit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Keadaan ini memaksa mereka hanya bisa masuk sekolah yang tidak bermutu dengan disiplin rendah. Pada akhirnya, mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan pengetahuan. Begitu seterusnya sehingga pendidikan yang akan dilalui masyarakat kelas bawah terus berputar pada lembaga-lembaga pendidikan yang tidak bermutu. Bisa diduga, hasil pendidikan yang tidak bermutu akan mengarahkan mereka pada pekerjaan rendahan," tutur Darmaningtyas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Melihat kenyataan ini, sudah selayaknya pemerintah turun tangan dan mencari upaya pemecahannya. Jangan sampai lingkaran kemiskinan pengetahuan terus berputar hanya pada masyarakat kelas bawah. Padahal, seluruh masyarakat selama ini meyakini bahwa sekolah merupakan sarana untuk menggapai kehidupan yang lebih layak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Jangan sampai, masyarakat telanjur tidak percaya pada pemerintah, yang mempunyai tugas utama menyelenggarakan pendidikan bermutu bagi seluruh warganya. Kalau tidak, jangan salahkan masyarakat bila mengomentari pendidikan kita ndobos alias bohong. (Kompas - tonny d widiastono)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-1080319717323244367?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/1080319717323244367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/pendidikan-murah-ah-ndobos.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/1080319717323244367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/1080319717323244367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/pendidikan-murah-ah-ndobos.html' title='Pendidikan Murah? &quot;Ah... Ndobos!&quot;'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-1504626159444642620</id><published>2007-07-25T07:24:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:31:52.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Jangan Takut Menjadi Guru</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jangan Takut Menjadi Guru&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kompas, (Senin 27 Maret 2006)&lt;/em&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Undang-Undang Guru dan Dosen mengajak kita percaya bahwa program kualifikasi,  sertifikasi, dan pemberian beberapa tunjangan untuk guru akan meningkatkan  kualitas guru dan secara otomatis mendongkrak mutu pendidikan. Tentu kita tidak  percaya sepenuhnya. Mengapa? Karena ada satu hal yang sering kali terluput dari  diskursus tentang rendahnya kualitas guru di Indonesia, yaitu soal birokratisasi  profesi guru.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Birokratisasi profesi guru di zaman Orde Baru telah menghasilkan mayoritas  guru bermental pegawai. Orientasi jabatan sangat kental melekat dalam diri para  guru. Jabatan guru utama—sebagaimana layaknya guru besar di perguruan  tinggi—tidak lagi dilihat sebagai tujuan puncak karier yang harus diraih seorang  guru, melainkan lebih pada jabatan kepala sekolah atau jabatan-jabatan birokrasi  lainnya di dinas-dinas pendidikan maupun di departemen pendidikan. Semangat  profesionalismenya luntur seiring terjadinya disorientasi jabatan ini.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Birokratisasi juga menciptakan hubungan kerja "atasan-bawahan", yang lambat  laun menghilangkan kesejatian profesi guru yang seharusnya merdeka untuk  menentukan berbagai aktivitas profesinya tanpa harus terbelenggu oleh juklak dan  juknis (petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis) yang selama ini menjadi bagian  dari budaya para birokrat. Guru menjadi tidak kreatif, kaku, hanya berfungsi  sebagai operator atau tukang dan takut melakukan berbagai pembaruan.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasa takut itu pada akhirnya semakin memperkokoh kekuasaan birokrasi dengan  menjadikan guru sebagai bagian dari pegawai-pegawai bawahan yang harus tunduk  patuh pada perintah "atasan". Guru yang berani mengkritik, apalagi memprotes  tindakan "atasan" yang tidak benar, dengan mudah diperlakukan sewenang-wenang  seperti diintimidasi, dimutasi, diturunkan pangkatnya atau bahkan dipecat dari  pekerjaannya. Kasus mutasi Waldonah di Temanggung, kasus mutasi 10 guru di Kota  Tangerang, kasus pemecatan Nurlela dan mutasi Isneti di Jakarta, serta beberapa  kasus penindasan terhadap guru di berbagai daerah menunjukkan begitu kuatnya  proses birokratisasi profesi guru sampai saat ini.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Proses yang sama terjadi pula sampai ke dalam kelas. Dalam proses  pembelajaran, guru lebih menempatkan diri sebagai agen- agen kekuasaan. Ia  memerankan dirinya sebagai pentransfer nilai-nilai ideologi kekuasaan yang tidak  mencerahkan kepada anak-anak didiknya daripada membangun suasana pembelajaran  yang demokratis dan terbuka. Anak didik dijadikan "bawahan-bawahan" baru yang  harus tunduk dan patuh kepada guru sesuai juklak dan juknis atau atas nama  kurikulum.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kondisi ini semakin diperparah ketika proses birokratisasi ikut memasuki  jejaring organisasi guru. Sebagian pengurusnya dikuasai oleh kalangan birokrasi.  Akibatnya, organisasi yang diharapkan mampu membangun komunitas guru yang  intelektual-transformatif dan melindungi gerakan pembaruan intelektual guru,  justru jadi bagian dari rezim birokrasi yang "mengebiri" kemerdekaan profesi  guru.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penunggalan organisasi guru menjadi bagian dari agenda penguatan kekuasaan  birokrasi yang tak terlepas dari kepentingan politik kekuasaan yang lebih besar  lagi. Bisa dibayangkan, guru menjadi tidak cerdas dan tumpul pemikirannya justru  oleh ulah organisasinya sendiri. Sungguh ironis!  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Debirokratisasi&lt;/strong&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Program kualifikasi, sertifikasi, dan pemberian tunjangan kesejahteraan  kepada guru jelas bukan jawaban satu-satunya untuk membangun kualitas guru.  Tanpa disertai gerakan debirokratisasi profesi guru, sulit rasanya kesejatian  kualitas guru akan terbangun.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, profesionalisme guru harus dibangun bersamaan dengan  dorongan untuk membangun keberanian guru melibatkan diri dalam setiap  pengambilan kebijakan pendidikan, bebas menyampaikan berbagai pandangan  profesinya, mengkritik, bebas berekspresi dan bebas berserikat sebagai wujud  kemandirian profesinya. Bagaimana semua itu dapat diwujudkan?  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa pasal dalam UU Guru dan Dosen ternyata menjadikan debirokratisasi  profesi guru sebagai bagian penting dari upaya peningkatan kualitas guru. Pasal  14 Ayat 1 Butir (i) menyebutkan: Dalam menjalankan tugas keprofesionalan, guru  berhak memperoleh kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan  pendidikan.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Klausul ini mempertegas hak guru untuk terlibat dalam setiap pengambilan  kebijakan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah sampai penentuan kebijakan  pendidikan di tingkat provinsi maupun pemerintahan pusat. Guru tidak boleh lagi  ditempatkan sebagai bawahan yang hanya menerima berbagai kebijakan birokrasi,  tetapi harus duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang partisipatif.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada pasal yang sama Butir (h) disebutkan: Guru berhak memiliki kebebasan  untuk berserikat dalam organisasi profesi guru. Pasal ini diperkuat oleh Pasal  41 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: Guru dapat membentuk organisasi profesi yang  bersifat independen, juga Pasal 1 Butir (13) yang menyebutkan: Organisasi  profesi guru adalah perkumpulan berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh  guru untuk mengembangkan profesionalitas guru.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga pasal ini mempertegas kemandirian guru untuk bebas berorganisasi dan  melepaskan diri dari kepentingan kekuasaan birokrasi. Pasal 1 Butir (13)  mempertegas bahwa siapa pun yang bukan guru tidak dibenarkan mendirikan dan  mengurus organisasi guru, seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh  birokrasi atau bahkan para petualang politik.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;UU Guru dan Dosen juga memberikan perlindungan hukum kepada guru dari  tindakan sewenang-wenang birokrasi, baik dalam bentuk ancaman maupun intimidasi  atas kebebasan guru untuk menyampaikan pandangan profesinya, kebebasan  berserikat/berorganisasi, keterlibatan dalam penentuan kebijakan pendidikan dan  pembelaan hak-hak guru.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 39 Ayat 3 menegaskan bahwa guru mendapat perlindungan hukum dari tindak  kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak  adil dari pihak birokrasi atau pihak lain. Ayat 4 pada pasal yang sama secara  tegas memberi perlindungan profesi kepada guru terhadap pembatasan dalam  menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi dan terhadap  pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;UU Guru dan Dosen cukup mendorong proses debirokratisasi profesi guru. Ruang  kebebasan guru tanpa harus dibayangi ketakutan pada kekuasaan birokrasi kini  mulai terbuka lebar. Birokrasi kekuasaan harus menerima perubahan paradigma yang  ditawarkan undang-undang ini. Guru harus berani menempati ruang tersebut. Karena  itu, jangan pernah takut lagi untuk menjadi guru yang kreatif!  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suparman &lt;em&gt;Guru SMA Negeri 17 Jakarta; Ketua Umum Federasi Guru Independen  Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-1504626159444642620?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/1504626159444642620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/jangan-takut-menjadi-guru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/1504626159444642620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/1504626159444642620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/jangan-takut-menjadi-guru.html' title='Jangan Takut Menjadi Guru'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-2986734725202485756</id><published>2007-07-25T07:23:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:32:34.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Haruskah Para Pendidik Itu Bersertifikat?</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Haruskah Para Pendidik Itu Bersertifikat?&lt;/span&gt; &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;(Kompas, Kamis 24 November 2005) &lt;/em&gt;Kompetensi Syariffudin (54) dalam  mengajar kesenian dan keterampilan tidak perlu diragukan. Ia tergolong mahir  dalam seni lukis, dekorasi, maupun musik. Kemampuannya mengajar di depan kelas  juga diakui oleh kawan-kawan seprofesinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia bahkan termasuk guru yang disegani di hadapan murid-muridnya. Tidak  mungkin ia bisa bertahan mengajar menjadi guru selama 25 tahun bila dianggap  tidak layak menjadi seorang guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, bila ukuran kompetensi semata-mata ijazah dan sertifikat  mengajar, ceritanya bisa jadi lain. Syariffudin memang tidak punya latar  belakang pendidikan sebagai guru kesenian. Ia lulusan STM jurusan bangunan.  Begitu lulus STM ia bekerja sebagai pramugara kereta api Jakarta-Surabaya  (1973-1978).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bakat alamnya sebagai ’seniman’-lah yang mengantarkan Syariffudin menjadi  guru. Ia ingat betul ketika kembali ke kampung halamannya di Balaraja,  Tangerang, pada 1979, daerah itu masih gelap gulita pada waktu malam. Listrik  belum masuk. Pada masa itu ia sering mengisi acara-acara kesenian dan  mendekorasi ruangan untuk hajatan dan acara 17 Agustusan. Berkat kemampuan itu  Syariffudin ditarik menjadi pembina pramuka di SMP Negeri 1 Balaraja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia sempat menjadi pembicaraan di sekolah-sekolah di Balaraja setelah  Syariffudin berinisiatif melakukan studi banding pembinaan pramuka di  daerah-daerah lain dengan bersepeda keliling Jawa-Bali selama 42 hari. Pada  1980, ia direkrut menjadi guru lepas, mengajar kesenian dan keterampilan di SMP  PGRI Balaraja. Setahun kemudian ia juga ditarik menjadi tenaga pengajar honorer  di SMP Negeri I Balaraja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat ini ia mengajar selama 40 jam mengajar (satu jam mengajar setara 45  menit) di SMP dan SMA PGRI Balaraja dengan penghasilan sekitar Rp 560.000  sebulan. Dan, sebagai wakil kepala sekolah di SMP PGRI Balaraja, ia juga  memperoleh tunjangan setara 40 jam mengajar. Dengan penghasilan itulah  Syariffudin harus membesarkan empat anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syariffudin hampir pasti tidak bisa mengejar kualifikasi sebagai seorang guru  seperti disyaratkan dalam RUU Guru dan Dosen yang akan disahkan DPR dalam waktu  dekat. Kualifikasi akademik seorang guru, menurut ketentuan dalam RUU itu,  minimal sarjana S1 atau D4 yang ditempuh rata-rata dalam waktu empat tahun. Di  samping itu, seorang guru juga wajib mengikuti pendidikan profesional sebanyak  36 satuan kredit semester, yang bisa ditempuh dalam waktu satu tahun, sebagai  syarat untuk memperoleh sertifikat pendidik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan pertimbangan beberapa tahun lagi ia akan mundur sebagai pengajar,  Syariffudin belum terpikir akan kembali kuliah untuk mengejar kualifikasi yang  disyaratkan. Ia juga tidak berharap mendapatkan iming-iming satu gaji pegawai  negeri tiap bulan bila mengantongi sertifikasi sebagai pendidik. Ia pun khawatir  jangan-jangan untuk memperoleh sertifikasi itu ujung-ujungnya juga harus  mengeluarkan uang pelicin. Sudah jadi rahasia umum di Tangerang, untuk diangkat  menjadi guru negeri seseorang harus mengeluarkan uang pelicin sampai puluhan  juga rupiah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Bila syaratnya seperti itu, sulit bagi seorang seniman bisa menjadi seorang  guru. Padahal banyak seniman yang tidak pernah kuliah di perguruan tinggi,  bahkan hanya lulusan SD, bisa menjadi dosen di perguruan tinggi,” kata  Syariffudin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berlaku untuk guru lama?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila Syariffudin tidak risau mengejar kualifikasi formal sebagai pendidik  sebagaimana disyaratkan dalam RUU, ia justru menyatakan keprihatinannya terhadap  guru-guru honor yang telah mengajar selama belasan tahun yang belum sarjana.  ”Apakah mutlak seseorang harus mendapatkan sertifikat untuk menjadi guru?” kata  Syariffudin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atrianil (42), guru akuntansi di sejumlah sekolah swasta di Jakarta  Barat—yang telah menjadi guru selama 20 tahun—pernah gagal menjadi guru negeri  karena gagal memenuhi kualifikasi akademik yang disyaratkan. Ia mengikuti  program D3 pendidikan akuntansi yang semula disyaratkan sebagai kualifikasi  akademik guru akuntansi di SLTA. Akan tetapi, saat ia menyelesaikan studinya,  program itu dihapuskan dan untuk mengajar SLTA ditingkatkan kualifikasinya  menjadi S1. Akibatnya, sampai hari ini ia tetap sebagai guru honor dengan  penghasilan yang tidak memadai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Keinginan untuk melanjutkan kuliah memang ada tetapi kapan ada waktu?” kata  Atrianil yang mengajar dari pagi hingga menjelang maghrib untuk menghidupi dua  anaknya yang masih sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia mempertanyakan apakah untuk guru yang sudah puluhan tahun mengajar masih  harus disyaratkan memenuhi kualifikasi akademik S1. Padahal, dari segi  pengetahuan dan pengalaman, ia yakin tidak berbeda dengan seorang sarjana S1. Ia  juga mempertanyakan apakah untuk menjadi guru ia harus mengikuti pendidikan  profesi selama satu tahun. ”Ijazah dan sertifikat, kan, hanya soal formalitas.  Untuk guru seperti saya yang telah mengajar selama 20 tahun apakah masih perlu?”  kata Atrianil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila RUU Guru dan Dosen disahkan, seorang guru diharuskan memiliki  kualifikasi akademik S1 atau D4 dan pendidikan profesi sebanyak 36 SKS untuk  memperoleh sertifikat sebagai pendidik. Guru diwajibkan memenuhi kualifikasi itu  paling lambat 10 tahun setelah RUU ini disahkan. Ketentuan ini sangat diragukan  bisa dilaksanakan karena, menurut data Depdiknas 2005, jumlah guru mencapai  2.152.618 orang. Itu berarti tiap tahun sekurang-kurangnya 200.000 guru harus  mengikuti pendidikan profesional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itu baru soal pendidikan profesi yang dilakukan untuk jangka waktu setahun.  Dari kualifikasi akademik, jumlah guru SD sampai SLTA yang berpendidikan minimal  S1 baru mencapai sekitar 31 persen. Bahkan masih terdapat sekitar 524.395 guru  yang kualifikasi pendidikannya baru setingkat SLTP atau SLTA. Masih ada sekitar  1,5 juta guru yang perlu dikuliahkan untuk memenuhi kualifikasi akademik yang  disyaratkan. Proyek sertifikasi dan peningkatan akademik ini jangan-jangan  menjadi program masalisasi pendidikan dan sertifikasi guru yang patut diragukan  akan meningkatkan mutu pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Karnadi  mengemukakan, semangat dalam RUU Guru dan Dosen untuk meningkatkan mutu guru  memang baik. Untuk wilayah DKI Jakarta yang sumber dayanya mencukupi secara  kuantitas tak jadi masalah. Akan tetapi, untuk daerah lain, Karnadi meragukan  kemampuan universitas menampung guru yang akan kuliah untuk meningkatkan  kualifikasi akademik dan mengikuti pendidikan profesi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Kecuali bila itu dilakukan secara ombyokan,” kata Karnadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karnadi juga melihat ketentuan untuk menjadi guru dengan syarat pendidikan S1  atau D4 plus pendidikan profesi 36 SKS terlalu kering. Ketentuan ini, menurut  Karnadi, belum memperhitungkan mereka yang kuliah di program studi kependidikan  atau fakultas ilmu pendidikan yang sejak awal diperkenalkan dengan pengetahuan  dan keterampilan untuk menjadi seorang guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan dimutlakkan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Achmad Darojat (26) secara formal tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi  seorang guru. Ia hanya mengantongi ijazah SMA. Akan tetapi, karena ia pernah  tergolong pintar matematika, ia direkrut menjadi guru di SMP Qaryah Thayibbah.  Ia pernah membuktikan kemampuannya mengajar matematika yang ditunjukkan dalam  nilai-nilai murid-muridnya yang dites sekolah induk. Nilai matematika  murid-muridnya saat kenaikan kelas kemarin merosot. Akan tetapi, menurut  Darojat, itu tidak jadi masalah karena sekarang justru murid-muridnya lebih  bersemangat dalam belajar matematika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ditanya tentang ketentuan yang mengharuskan seorang guru memiliki kualifikasi  pendidikan S1 plus pendidikan profesi selama satu tahun, Darojat justru  mempertanyakan apakah orang-orang seperti dirinya tidak boleh berpartisipasi  dalam dunia pendidikan. Ia sendiri mengaku belum tertarik untuk mengejar  kualifikasi akademik atau sertifikasi pendidikan yang akan segera  diberlakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Saya mau kuliah nanti bersama murid-murid saya,” kata Achmad Darojat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;MH Aripin Ali, Manajer Program KerLip—lembaga yang memayungi keberadaan  sekolah laboratorium SD Hikmah Teladan di Cimhai, Bandung—mengakui bahwa  kesarjanaan memang perlu untuk menjadi guru. Ia mengakui jarang ditemukan  seorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi yang mampu mengajar  dengan baik. Akan tetapi, menurut Aripin, gelar akademik dan sertifikasi saja  tidak menjamin akan lahir guru-guru yang bagus. Menurut dia, hal yang paling  penting adalah bagaimana lingkungan sekolah mendorong guru untuk bisa belajar  secara terus-menerus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aripin berpendapat, sertifikasi dan kualifikasi akademik sebaiknya tidak  dimutlakkan sebagai syarat menjadi guru. Seperti juga home schooling, seseorang  yang memiliki kemampuan mengajar secara otodidak diberi kesempatan untuk  memperoleh sertifikat sebagai pendidik.&lt;/p&gt; &lt;script language="javascript 1.2" src="/update/showPicture.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Disusun oleh P BAMBANG WISUDO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-2986734725202485756?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/2986734725202485756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/haruskah-para-pendidik-itu.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2986734725202485756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2986734725202485756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/haruskah-para-pendidik-itu.html' title='Haruskah Para Pendidik Itu Bersertifikat?'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-4282996100054979026</id><published>2007-07-25T07:22:00.001+07:00</published><updated>2007-08-15T17:32:59.749+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Menimbang Sekolah Gratis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Korantempo, Kamis 24 Juni 2005&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="left"&gt;Awal tahun ajaran 2005/2006, pemerintah akan mulai menjalankan  program pendidikan dasar gratis untuk sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah  pertama (SMP) atau sederajat. Total dana yang disediakan Rp 6,27 triliun, yang  akan disalurkan dalam bentuk biaya operasional sekolah, masing-masing untuk  pendaftaran siswa baru, buku pelajaran pokok dan penunjang, pemeliharaan  sekolah, ujian sekolah, ulangan umum bersama, ulangan umum harian, honor guru,  dan transportasi siswa kurang mampu. Siswa SD atau sederajat akan memperoleh  senilai Rp 235 ribu dan siswa SMP atau sederajat Rp 324.500 setiap  tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model biaya operasional yang akan digulirkan pemerintah memang  lebih baik dibandingkan dengan model beasiswa seperti yang direncanakan  sebelumnya. Selain jumlah dananya lebih besar, penerima dan jenis-jenis biaya  yang disubsidi pun cukup jelas. Sehingga pemerintah tidak akan lagi sibuk  mengidentifikasi dan menentukan 9,6 juta murid yang dianggap  miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, pemerintah pun tidak cukup jujur untuk berterus  terang bahwa model ini belum menjamin sekolah bisa gratis. Pertama, jumlah dana  yang disediakan sebesar Rp 6,27 triliun jelas tidak mencukupi. Dengan memakai  data terakhir jumlah siswa yang ada di situs Departemen Pendidikan Nasional,  pada tahun ajaran 2002/2003 terdapat 25,9 juta siswa SD dan 7,4 juta siswa  SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan kebutuhan, pada tingkat SD, 25,9 juta  dikalikan biaya operasional sekolah Rp 235 ribu, pemerintah perlu menyediakan Rp  6,0865 triliun. Untuk tingkat SMP, 7,4 juta siswa dikalikan Rp 324.500, maka  dana yang diperlukan Rp 2,4013 triliun. Total biaya operasional SD dan SMP atau  sederajat minimal Rp 8,4878 triliun. Itu dengan memakai data lama. Besar  kemungkinannya pada tahun ajaran 2005/2006 jumlah siswa akan bertambah, yang  berarti kebutuhan biaya bertambah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, banyak komponen penting  dalam penyelenggaraan sekolah yang tidak tercakup dalam biaya operasional  sekolah, seperti pembayaran listrik, air, telepon, alat tulis, dan kegiatan  ekstrakurikuler. Apalagi jika dibandingkan dengan hasil riset Indonesia  Corruption Watch (ICW) dalam penyelenggaraan SD di Jakarta, Garut, dan Solo. ICW  menemukan setidaknya 38 jenis pungutan. Artinya, biaya operasional sekolah yang  disediakan pemerintah sebenarnya tidak bisa menutupi kebutuhan riil  sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua cara yang mungkin akan digunakan sekolah untuk  menyiasati kekurangan: mengambil dari alokasi biaya operasional sekolah melalui  penghematan pengeluaran atau memungut dari orang tua murid. Sepertinya yang  paling memungkinkan diambil oleh sekolah adalah pilihan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  pemerintah sendiri tidak mengeluarkan larangan yang tegas atau sanksi bagi  sekolah supaya tidak melakukan pungutan. Tentu saja ini akan dijadikan celah  oleh sekolah untuk tetap menarik dana dari masyarakat. Caranya dengan  memunculkan jenis-jenis biaya di luar biaya operasional sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  contoh, beberapa tahun lalu, dalam rangka menyukseskan program wajib belajar,  dikeluarkan larangan terhadap sekolah untuk memungut sumbangan penyelenggaraan  pendidikan (SPP). Sekolah memang mematuhi dengan tidak mencantumkan biaya SPP,  tapi bermunculan biaya lain yang jumlah dan jenisnya justru lebih banyak,  misalnya biaya komite sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi-asumsi di atas masih belum  memperhitungkan faktor korupsi dan mismanajemen di sekolah. Padahal, belajar  dari banyak kasus, dana-dana yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan sekolah  sering menguap tidak jelas. Contoh yang paling baru adalah dugaan penyelewengan  dana hibah (block grant) di SMP 232, Pulogadung (Koran Tempo, 5/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model  biaya operasional sekolah yang akan digulirkan tidak jauh berbeda mekanismenya  dengan model hibah yang digulirkan pemerintah DKI Jakarta. Dalam hibah, selain  beasiswa, diberikan biaya operasional sekolah untuk biaya telepon, air, dan  listrik, alat tulis kantor, kegiatan belajar-mengajar, jasa kebersihan, jasa  penjaga sekolah nonpegawai negeri sipil, serta buku perpustakaan. Tapi, dalam  prakteknya, sekolah tetap memungut dana dari orang tua siswa, bahkan untuk biaya  yang tercantum dalam biaya operasional sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang  menjadi penyebab. Pertama, sosialisasi yang buruk. Selama ini, yang menjadi  penerima informasi adalah pejabat dinas pendidikan atau kepala sekolah,  sedangkan stakeholder sekolah yang lain, seperti guru atau orang tua murid,  sering diabaikan. Mereka akhirnya tidak memiliki informasi sehingga tidak bisa  mengawasi penggunaan dana-dana yang masuk ke sekolah. Akibatnya, kepala sekolah  bisa leluasa mengalihkan dan menggelapkan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak semua  sekolah memiliki anggaran pendapatan dan belanja sekolah (APBS). Kalaupun ada,  pembuatan dan pengelolaannya ada di tangan kepala sekolah. Padahal APBS bukan  hanya memberikan gambaran keuangan, tapi juga panduan kegiatan penyelenggaraan  sekolah. Tanpa adanya program yang jelas, biaya operasional sekolah digunakan  tidak pada peruntukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya pemerintah belum menyiapkan  antisipasinya, sehingga kemungkinan terjadinya pungutan di sekolah sangat  terbuka. Apabila orang tua murid pada tingkat SD dan SMP atau sederajat masih  mengeluarkan biaya untuk penyelenggaraan sekolah, dengan sendirinya program  pendidikan dasar gratis telah gagal. &lt;/p&gt; &lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;Ade Irawan&lt;/strong&gt; &lt;em&gt; (Program Manager Divisi  Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-4282996100054979026?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/4282996100054979026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/menimbang-sekolah-gratis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4282996100054979026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/4282996100054979026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/menimbang-sekolah-gratis.html' title='Menimbang Sekolah Gratis'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-375092940335156481</id><published>2007-07-25T07:19:00.001+07:00</published><updated>2007-08-15T17:33:28.142+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Kemungkinan Pendidikan Gratis</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kemungkinan Pendidikan Gratis&lt;/span&gt; &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;(Kompas, Rabu 23 Juni 2005)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;MELALUI Departemen Pendidikan Nasional, pemerintah sedang merancang  pendidikan gratis bagi semua warga. Namun, bagaimana bentuk teknis konsep  pendidikan gratis itu, hingga kini masih dicari, sehingga yang ada sebenarnya  baru kemungkinan gratis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendidikan gratis merupakan konsep yang amat populis. Bila benar-benar  dijalankan, pasti akan membawa popularitas tersendiri bagi pemimpin yang berani  menjalankannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SALAH satu tujuan pelaksanaan pendidikan gratis adalah untuk memenuhi janji  kepada konstituen yang selama kampanye (legislatif maupun eksekutif) dijanjikan  akan mendapat pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis. Sekaligus memenuhi  amanat UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalahnya, bagaimana mengimplementasikan konsep pendidikan gratis itu di  negeri yang luas dan beragam kondisi geografis, ekonomi, sosial, dan budaya?  Keragaman itu berdampak pada tingkat kesadaran warga untuk menyekolahkan anaknya  maupun terhadap mutu pendidikan. Mereka yang tinggal di daerah perkotaan,  berasal dari keluarga terdidik, dan ditunjang kemampuan ekonomi yang cukup (kita  sebut kelompok pertama), tentu memiliki kesadaran tinggi untuk menyekolahkan  anaknya, termasuk berani membayar mahal. Tetapi mereka yang miskin, meski  tinggal di kota (kita sebut kelompok kedua), belum tentu memiliki kesadaran  sama. Atau mereka memiliki kesadaran tinggi untuk menyekolahkan anaknya, tetapi  tidak memiliki biaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalah yang lebih kompleks adalah mereka yang tinggal di daerah terisolasi  dan miskin (kita sebut kelompok ketiga). Pertama, mereka mungkin memiliki  kesadaran, tetapi sekolahnya tidak ada. Kedua, memiliki kesadaran dan gedung  sekolah tersedia, tetapi proses belajar-mengajarnya amat minim karena  keterbatasan guru dan fasilitas pendidikan sehingga malas sekolah. Ketiga, tidak  ada gedung sekolah dan tidak memiliki minat bersekolah sama sekali. Atau belum  mengenal sekolah sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kelompok pertama, konsep pendidikan gratis mungkin tidak menarik karena  langsung diasosiasikan/dipersepsi sebagai sekolah tidak bermutu. Mereka khawatir  pendidikan gratis akan memerosotkan mutu pendidikan, sehingga mereka memilih  tetap membayar mahal asal kualitasnya terjamin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pandangan itu dikemukakan sejumlah kepala sekolah (elite) di Jakarta yang  hadir dalam diskusi itu. Mereka khawatir pendidikan gratis akan membuat sekolah  mundur (down grade) karena dana dari pemerintah tidak cukup. Karena itu, mereka  berharap agar tetap diberi kebebasan menerima dana dari masyarakat. Masalahnya,  konsep "menerima" itu tidak jelas. Hukumnya wajib atau sukarela, sehingga  dikhawatirkan membuka peluang penyimpangan seperti selama ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, bagi kelompok kedua dan ketiga, konsep pendidikan gratis jelas amat  menarik karena memberi akses lebih besar kepada mereka untuk bersekolah.  Anak-anak miskin di kota dan desa, yang selama ini tidak bersekolah atau  drop-out (DO) karena hambatan biaya, akan bisa bersekolah tanpa harus bayar  karena semua biaya ditanggung negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Negara akan memberi biaya operasional sekolah (BOS) sebesar Rp 248.000 per  anak/tahun untuk SD, Rp 371.000 per anak/tahun untuk SMP. Tetapi menurut laporan  Kompas (18/6) mengutip pernyataan Mendiknas Bambang Sudibyo, besarnya BOS Rp  235.000 untuk SD/MI/ SDLB dan Rp 324.500 untuk SMP/MTs/ SMPLB per tahun. Dana  yang akan dialokasikan itu berasal dari dana kompensasi BBM sebesar Rp.6,7  triliun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi sekolah-sekolah di desa, BOS sebesar itu amat berarti dan dapat  menggantikan seluruh pungutan, sehingga murid betul-betul tidak perlu membayar,  baik untuk pendaftaran sebagai murid baru, pembelian buku wajib dan penunjang,  uang ujian, ulangan umum, pemeliharaan sekolah, dan honor guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;BILA kita melihat stratifikasi sosial di masyarakat, kelompok kedua dan  ketiga sekitar 70 persen dari total penduduk di Indonesia. Kelompok pertama yang  merasa tidak happy dengan pendidikan gratis hanya 30 persen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan kata lain, kebijakan pendidikan gratis akan disambut gembira oleh 70  persen penduduk Indonesia. Pada kelompok kedua dan ketiga, pemerintah dapat  menjalankan pendidikan gratis secara ketat. Tetapi pada kelompok pertama  kebijakan itu dapat bersifat opsional. Mereka diberi hak yang sama, tetapi bila  merasa kurang dapat memungut dari masyarakat sejauh sifatnya sukarela. Yang  menjadi masalah, di sekolah-sekolah yang mayoritas dimasuki kelompok pertama,  ada pula orang miskin. Bagaimana bisa dijamin bahwa anak orang miskin tidak  dikenai pungutan?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dibutuhkan database murid yang akurat agar jumlah murid miskin di  sekolah-sekolah favorit terdeteksi sehingga bisa dibebaskan dari segala  pungutan. Sedangkan database sekolah di tingkat kabupaten/kota diperlukan agar  terpetakan secara jelas sekolah-sekolah yang amat kaya, kaya, sedang, miskin,  dan amat miskin. Prioritas dana BOS diberikan kepada sekolah dengan standar  sedang, miskin, dan amat miskin, tetapi secara prinsip semua sekolah memperoleh  hak yang sama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila dana BOS diberikan untuk semua sekolah-kecuali untuk sekolah-sekolah  swasta mahal yang uang masuknya di atas Rp 5 juta dan SPP-nya di atas Rp 500.000  per bulan-maka database sekolah berfungsi untuk mempermudah monitoring. Dengan  database yang akurat, akan ketahuan tipe sekolah bersangkutan (menampung  kelompok pertama/kedua/ketiga), serta melakukan penyimpangan atau tidak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;APAKAH adil bila orang yang mampu pun digratiskan? Tentu saja adil bila ada  perimbangan kewajiban membayar pajak sesuai kemampuan. Mereka yang kaya membayar  pajak tinggi, sedangkan yang miskin membayar pajak rendah atau bahkan tidak  bayar sama sekali. Dengan pengenaan pajak progresif, aspek keadilan dapat  dicapai. Betul yang kaya gratis bersekolah dan berobat, tetapi mereka juga  membayar pajak cukup tinggi, seperti terjadi di negara-negara kesejahteraan.  Kalau mereka bisa menjalankan selama berpuluh tahun, mengapa kita masih berdebat  soal teori?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalahnya, apakah sistem perpajakan kita sudah kondusif untuk pelaksanaan  pajak progresif?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan kata lain, pelaksanaan pendidikan gratis sebetulnya bukan merupakan  kerja tunggal Departemen Pendidikan Nasional, tetapi kerja keroyokan  antarinstansi pemerintah yang terkait. Tanpa dukungan dari Direktorat Pajak,  Departemen Keuangan, dan departemen lain, kebijakan ini akan gagal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dukungan Departemen Keuangan mutlak diperlukan. Mekanisme pencairan anggaran  yang enam bulan di belakang akan membuat operasional sekolah kacau balau.  Pengalaman beberapa daerah yang sudah menjalankan pendidikan gratis lebih dulu  menunjukkan, kepala sekolah dibuat bingung untuk mencari dana talangan  operasional karena dana dari pemda/pemerintah pusat datang belakangan. Seorang  kepala dinas di Kalimantan Barat menuturkan, sampai Juni 2005 utang pemda untuk  menomboki dana pusat yang belum turun mencapai Rp 6 miliar. Dana itu dipinjam  dari APBD. Tetapi pada daerah miskin, jelas tidak mungkin bisa menomboki BOS  dari pusat sehingga operasional sekolah bisa kacau.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dana turun di belakang itu berdampak buruk dalam banyak hal. Pertama,  merepotkan orang lapangan yang harus mencari dana talangan lebih dulu. Kedua,  membuat biaya operasional kian mahal karena harus ditutup dengan dana pinjaman  yang berbunga. Ketiga, menimbulkan celah korupsi karena semua dana harus  dihabiskan hanya dalam waktu enam bulan terakhir (Juli-Desember).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, pelaksanaan pendidikan gratis tanpa dukungan pembenahan mekanisme  pencairan anggaran oleh Departemen Keuangan bisa gagal dan yang disalahkan  adalah konsep gratisnya sendiri. Padahal, letak persoalannya ada pada bidang  lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain dukungan Departemen Keuangan, program ini juga akan gagal bila tidak  konsisten. Agar konsisten maka tidak boleh dibuka celah sedikit pun untuk  terjadinya penyimpangan. Kata-kata "gratis, tetapi boleh menerima dana dari  masyarakat" merupakan kata bersayap yang akan menyebabkan program ini gagal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu, harus ada pedoman jelas, sekolah mana yang boleh memungut biaya  tambahan dan mana yang tidak. Seperti terjadi di Bogota, Kolombia,  sekolah-sekolah miskin sungguh gratis, tetapi untuk orang kaya harus membayar  mahal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Darmaningtyas &lt;em&gt;Anggota Dewan Penasihat CBE di Jakarta&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-375092940335156481?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/375092940335156481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/kemungkinan-pendidikan-gratis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/375092940335156481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/375092940335156481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/kemungkinan-pendidikan-gratis.html' title='Kemungkinan Pendidikan Gratis'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-5669040080744901873</id><published>2007-07-25T07:16:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:33:58.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas'/><title type='text'>Orang Miskin Dilarang Sekolah?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Orang Miskin Dilarang Sekolah?&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;(Kompas, Senin 13 Juni 2005)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;MENARIK mendengar cerita Anton, seorang teman yang bekerja di salah satu  tempat pegadaian di Jakarta Barat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;DENGAN setengah bercanda, ia menceritakan kepada penulis tentang data yang  diperolehnya, di mana jumlah orang yang pergi ke kantor pegadaian melonjak  bersamaan dengan masa penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cuplikan percakapan Anton dengan penulis ini dikatakan menarik dan signifikan  untuk disimak lantaran mengandung dua alasan utama. Pertama, cerita itu sangat  "mengharukan" karena hanya memberi satu kesimpulan bahwa betapa di negeri ini  sebuah bangku sekolah itu harus "dibeli" dengan harga yang mahal, yang begitu  berat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimanapun, mendaftar masuk sekolah pada saat ini tidak semudah dan semurah  5-15 tahun lalu. Untuk masuk SD swasta di Jakarta, misalnya, orangtua diharuskan  terlebih dahulu membayar uang pangkal Rp 4 jutaan. Bahkan lebih. Itu baru masuk  SD. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, uang pangkalnya juga akan semakin  tinggi. Dan lagi-lagi, itu baru perkara uang pangkal. Tagihan lainnya yang  mencekik leher orangtua adalah SPP yang berkisar antara Rp 150.000-Rp 700.000  per bulan (tergantung status dan favorit tidaknya sebuah sekolah), uang pakaian  seragam, uang buku, uang kegiatan, dan tagihan lainnya dari sekolah. Begitu  mahalnya biaya yang dibutuhkan, maka sekolah akhirnya hanya bisa dimasuki mereka  yang berduit semata, sedangkan mereka yang berekonomi lemah terpaksa harus gigit  jari dan mata melotot melihat mereka yang menikmati ceriahnya bangku  sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, cerita yang sama, juga memberi kita "rasa takjub" sebab ada kegigihan  yang luar biasa dari para orangtua untuk menyelamatkan masa depan anak mereka di  sebuah tempat bernama sekolah. Bagi orangtua, sekolah tampaknya masih dijadikan  tempat yang bisa mengubah nasib anak-anak mereka. Rasa takjub yang sama akan  kita saksikan jika kita berlibur di desa-desa pada saat liburan sekolah.  Ternyata di sana juga tidak sedikit orangtua yang disibukkan dengan menjual  sawah dan berbagai ternak untuk biaya sekolah anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitulah kenyataan ini hampir menjadi kalender tetap yang tersembunyi di  balik kalender pendidikan nasional kita. Cuplikan cerita itu menghadirkan satu  pertanyaan menggelitik; masih adakah sekolah bagi mereka yang miskin di negeri  ini?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KISAH "mengharukan" dan "menakjubkan" di atas sepertinya memperjelas  terminologi bahwa "orang miskin di negeri ini dilarang sekolah". Dari hari ke  hari kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh  pembangunan yang tunduk pada pasar. Kian hari jumlah orang miskin kian  bertambah, sedangkan kekuasaan makin menjauh dari mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semenjak neoliberalisme menjadi program utama yang dianut bangsa ini, sejak  itu juga orang miskin semakin sulit untuk menikmati pendidikan, pelayanan  kesehatan, tempat tinggal yang memadai, dan pekerjaan yang layak. Neoliberalisme  sebagai ideologi dunia seolah telah sukses meluluhlantakkan pertahanan hidup  orang miskin untuk berpendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa pendidikan model pasar telah menjadi mesin  produksi yang harus bekerja terus-menerus dengan logika "efektivitas dan  efisiensi" untuk menciptakan "generasi intelektual instan" yang serba seragam,  termasuk seragam dalam cara pemikirannya. Model pendidikan seperti ini kemudian  mengenyampingkan sebuah proses pendidikan yang di dalamnya terdapat titik-titik  pencerahan dan pembebasan manusia dari keterkungkungan. Hasil dari proses  pendidikan dengan logika efektivitas dan efisiensi itu adalah hadirnya para  koruptor dan munculnya manusia yang berwatak kasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlu dipertanyakan kemudian adalah komitmen pemerintah mengenai kebijakan di  bidang pendidikan. Selama ini, sangat terasa janggal di mana subsidi pendidikan  lebih kecil daripada subsidi militer. Hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah  lebih bangga dan senang dengan kekerasan daripada kecerdasan warga negaranya  yang bisa muncul melalui pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekadar perbandingan saja, kalau kita menengok kebijakan Pemerintah Republik  Rakyat China (RRC), misalnya, di sana pemerintahnya mampu membiayai 5.000-10.000  mahasiswa untuk belajar ke Eropa. Hal yang sama dilakukan oleh Perdana Menteri  Malaysia yang tiap tahun mengirim 50.000 calon doktor, antara lain, ke Inggris  dan Amerika. Jumlah seperti itu dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah karena  pemerintah di dua negeri ini "melek pengetahuan".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di negara ini kondisinya malah kebalikannya. Hingga saat ini, hanya mereka  yang berkantong tebal yang bisa menikmati pendidikan bermutu di luar negeri.  Karena mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk biaya pendidikannya di  negeri orang, maka sepulangnya ke Tanah Air para ilmuwan itu berusaha untuk  "mengembalikan modal" dengan berbagai cara. Korupsi kemudian menjadi sesuatu hal  yang tidak luput dari perilaku mereka. Dan, kasus korupsi miliaran di negeri ini  justru banyak dilakukan oleh para intelektual dan akademisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain pemerintah tidak memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan,  pemerintah bahkan ikut merusak lembaga pendidikan dengan "menciptakan suasana  tidak aman" di dalam negeri. Konflik yang berlarut-larut di banyak daerah dan  "tambal sulamnya" kebijakan dalam dunia pendidikan, membuat dunia pendidikan di  negeri ini jauh tertinggal dari negara-negara tetangga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ekses dari minimnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan maka kini  bertebaranlah mental-mental "rapuh" yang muncul dalam perilaku korupsi pada  pribadi-pribadi pejabat bangsa ini. Korupsi yang merambah ke semua sektor,  termasuk sektor pendidikan sendiri, kini seolah menjadi "benang basah yang sulit  ditegakkan". Bahkan, hingga hari ini penyelenggaraan pendidikan sering kali  tanpa tahu malu dan basa basi terutama dalam mempraktikkan tindakan tercela  dalam berbagai kegiatan sekolah dan proyek-proyek lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini sudah saatnya kebohongan besar seperti ini harus dihentikan dan proses  penyadaran bagi masyarakat harus diteriakkan. Bukan pendidikan yang menipu kita  selama ini, melainkan pihak-pihak (oknum-oknum) yang memanfaatkan pendidikan  untuk meraup laba yang telah menipu masyarakat bangsa ini. Pendidikan telah  dipoles cantik dengan gedung-gedung megah dan janji-janji menggiurkan, yang  membuat terbatasnya akses masyarakat ke dunia pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya dengan pendidikan murah, negeri ini akan diselamatkan. Dengan  pendidikan murah, masyarakat akan bergembira menduduki bangku sekolah. Dengan  perasaan senang, masyarakat bebas mengungkapkan berbagai kreativitas yang ada  dalam dirinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan, dengan penyelenggaraan pendidikan murah juga akan mudah mengontrol  perilaku korupsi yang marak terjadi pada berbagai sektor kehidupan, termasuk  dalam sektor pendidikan itu sendiri; karena dana yang sedikit akan mudah  diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dan, dengan pendidikan murah diskriminasi  terhadap orang miskin untuk tidak boleh sekolah bisa dihindarkan. Singkat kata,  dengan penyelenggaraan pendidikan murah, orang miskin tidak lagi dilarang untuk  sekolah.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sixtus Tanje&lt;em&gt;, Jakarta Barat&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;script language="javascript 1.2" src="/update/showPicture.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-5669040080744901873?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/5669040080744901873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/orang-miskin-dilarang-sekolah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5669040080744901873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/5669040080744901873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/orang-miskin-dilarang-sekolah.html' title='Orang Miskin Dilarang Sekolah?'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-6402628501117157813</id><published>2007-07-13T07:31:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T17:36:45.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metode Analysis'/><title type='text'>MEMAHAMI TEORI NORMALISASI DATA MELALUI STUDI KASUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;oleh : Dicky  Rahardiantoro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STUDI  KASUS TOKO&lt;span&gt; &lt;/span&gt;ABC&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;No.  Faktur&lt;span&gt; &lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Tanggal&lt;span&gt; &lt;/span&gt;:&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Kepada  :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;table class="MsoNormalTable" style="margin-left: -0.5pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr style="height: 29.55pt;"&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.25pt; height: 29.55pt;" width="44"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;No.&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 127.9pt; height: 29.55pt;" width="171"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Nama&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 60.45pt; height: 29.55pt;" width="81"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 91.85pt; height: 29.55pt;" width="122"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Harga&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm 5.4pt; width: 95.25pt; height: 29.55pt;" width="127"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Total&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 33.25pt;" valign="top" width="44"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 127.9pt;" valign="top" width="171"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 60.45pt;" valign="top" width="81"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 91.85pt;" valign="top" width="122"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 95.25pt;" valign="top" width="127"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm; width: 221.6pt;" colspan="3" valign="top" width="295"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm; width: 91.85pt;" valign="top" width="122"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Total  Bayar&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm; width: 95.25pt;" valign="top" width="127"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm; width: 221.6pt;" colspan="3" valign="top" width="295"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm; width: 91.85pt;" valign="top" width="122"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Diskon&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm; width: 95.25pt;" valign="top" width="127"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm; width: 221.6pt;" colspan="3" valign="top" width="295"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm; width: 91.85pt;" valign="top" width="122"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Jumlah  Bayar&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm; width: 95.25pt;" valign="top" width="127"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Petugas&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;: …………………………..&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;TAHAP-TAHAP NORMALISASI  DATA&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="background: black none repeat scroll 0% 50%; line-height: normal; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Basis Data Belum  Ternormaliasasi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Mendasar pada faktur yang  tertera di atas, maka gambaran database yang belum ternormalisasi adalah sebagai  berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;1. Tabel yang memiliki field dengan  banyak data / tidak tunggal&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 24.05pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 56.95pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="76"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;a name="OLE_LINK1"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;No_Faktur&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 48.75pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="65"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Tanggal&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 84.75pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Nama_pelanggan&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 168.75pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="225"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Daftar_Belanja&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 56.95pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;05070101&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 48.75pt;" valign="top" width="65"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;29/05/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 84.75pt;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Pitoyo&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 168.75pt;" valign="top" width="225"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Bedak,  Beras, Minyak Tanah,  Buku&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 56.95pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;05070102&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 48.75pt;" valign="top" width="65"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;29/05/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 84.75pt;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Bowo&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 168.75pt;" valign="top" width="225"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Baby Oil, Garam,  Gula,  Pensil&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 56.95pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;05070103&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 48.75pt;" valign="top" width="65"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;30/05/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 84.75pt;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Erlina&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 168.75pt;" valign="top" width="225"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Sikat gigi, Sabun,  Odol,  Sampo&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 56.95pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;06070001&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 48.75pt;" valign="top" width="65"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;01/06/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 84.75pt;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Dayat&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 168.75pt;" valign="top" width="225"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Beras&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tabel dengan field yang mengalami  repeating groups&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 24.05pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 43.8pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="58"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;No_Faktur&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 37.8pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="50"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Tanggal&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 70.7pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="TableContents"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Nama_pelanggan&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 40.5pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="54"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Belanja1&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 32.9pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="44"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Harga1&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 38.45pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="51"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Belanja2&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 35pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Harga2&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 39.9pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="53"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Belanja3&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 34.3pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="46"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Harga3&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 39.2pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="52"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Belanja4&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 2.75pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 35pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Harga4&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 43.8pt;" valign="top" width="58"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;05070101&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 37.8pt;" valign="top" width="50"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;29/05/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 70.7pt;" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Pitoyo&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Bedak&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 32.9pt;" valign="top" width="44"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;1500&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 38.45pt;" valign="top" width="51"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Beras&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;10000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.9pt;" valign="top" width="53"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Minyak  Tanah&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 34.3pt;" valign="top" width="46"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;3500&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.2pt;" valign="top" width="52"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Buku&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;2000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 43.8pt;" valign="top" width="58"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;05070102&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 37.8pt;" valign="top" width="50"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;29/05/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 70.7pt;" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Bowo&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Baby  Oil&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 32.9pt;" valign="top" width="44"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;5600&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 38.45pt;" valign="top" width="51"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Garam&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;2500&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.9pt;" valign="top" width="53"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Gula&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 34.3pt;" valign="top" width="46"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;4000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.2pt;" valign="top" width="52"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Pensil&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;1500&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 43.8pt;" valign="top" width="58"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;05070103&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 37.8pt;" valign="top" width="50"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;30/05/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 70.7pt;" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Erlina&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Sikat  gigi&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 32.9pt;" valign="top" width="44"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;12000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 38.45pt;" valign="top" width="51"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Sabun&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;2500&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.9pt;" valign="top" width="53"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Odol&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 34.3pt;" valign="top" width="46"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;13000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.2pt;" valign="top" width="52"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Sampo&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;16000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 43.8pt;" valign="top" width="58"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;06070001&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 37.8pt;" valign="top" width="50"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;01/06/07&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 70.7pt;" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Dayat&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 40.5pt;" valign="top" width="54"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;Beras&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 32.9pt;" valign="top" width="44"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;25000&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 38.45pt;" valign="top" width="51"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.9pt;" valign="top" width="53"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 34.3pt;" valign="top" width="46"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium medium 1pt; padding: 2.75pt; width: 39.2pt;" valign="top" width="52"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 2.75pt; width: 35pt;" valign="top" width="47"&gt; &lt;p class="TableContents" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Walaupun susunan tabel  data di atas belum menampilkan keseluruhan atribut dari bentuk faktur yang  tertera pada soal ini, tetapi ia telah dapat menggambarkan bentuk basis data  yang belum ternormalisasi, karena suatu relasi memenuhi 1-NF jika dan hanya jika  setiap atribut hanya memiliki nilai tunggal dalam satu baris / record dan tidak  mengalami repeating groups.&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="background: black none repeat scroll 0% 50%; line-height: normal; text-align: justify; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;First &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="color: rgb(255, 255, 255);" st="on"&gt;Normal&lt;/ST1:PLACE&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Form (1-NF)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Implementasi 1-NF dari  table data yang belum ternormalisasi di atas adalah dengan cara mengeliminasi  keberadaan repeating groups dan dekomposisi relasi menjadi dua atau lebih dengan  syarat “tidak boleh ada informasi yang hilang karena proses  dekomposisi”&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Adapun caranya adalah  :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;1. Membuat 3 tabel yang memiliki  fungsi sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;TBFaktur&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, berfungsi untuk  menyediakan atribut-atribut yang bersifat atomic dari tiap nomor faktur  (ID_Faktur), seperti : Tanggal, Nama_Pelanggan, Total_Bayar, Diskon dan  Nama_Petugas&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;TBProduk&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, berfungsi untuk  menyediakan atribut-atribut yang berulang atau tidak bernilai tunggal pada tiap  nomor faktur (ID_Faktur), seperti : Nama_Barang dan harga&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;TBTransaksiDetail&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, berfungsi sebagai  penghubung antara nomor faktur (ID_Faktur) dengan kode barang (ID_Barang) agar  proses dekomposisi tidak menyebabkan kerusakan  informasi.&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;2. &lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Menentukan type data dari tiap  atribut dan membuat digram relasional sebagai berikut  &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9KumUZI/AAAAAAAAAJA/RHRdywFxfuM/s1600-h/01.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086478180385444242" style="margin: 0px auto 10px; display: block; cursor: pointer; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9KumUZI/AAAAAAAAAJA/RHRdywFxfuM/s400/01.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;3. Pada table  TBTransaksiDetail terdapat atribut &lt;b&gt;“Harga”&lt;/b&gt; yang berfungsi untuk menyimpan  harga per transaksi, sedangkan atribut &lt;b&gt;“Harga_Default”&lt;/b&gt; yang terdapat pada  table TBProduk adalah atribut yang berfungsi untuk menyimpan harga barang  terbaru dari tiap jenis barang. &lt;b&gt;Hal ini berguna untuk mengantisipasi adanya  perubahan harga barang dari waktu ke waktu.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Primary key yang digunakan pada  TBTransaksiDetail adalah &lt;b&gt;“ID_Transaksi”&lt;/b&gt;. Atribut kunci tersebut merupakan  candidate key yang dibentuk dari superkey hasil penggabungan 2 atribut yaitu :  ID_Faktur dan ID_Barang&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="background: black none repeat scroll 0% 50%; line-height: normal; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Second &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="color: rgb(255, 255, 255);" st="on"&gt;Normal&lt;/ST1:PLACE&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Form (2-NF)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Suatu relasi  berada dalam 2&lt;sup&gt;nd&lt;/sup&gt; normal form jika dan hanya jika  :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Berada dalam bentuk first normal  form (1-NF)&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Semua atribut bukan kunci memiliki  dependensi sepenuhnya dengan kunci primer (Primary Key)&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Jika ditelaah kembali  relasi bentuk&lt;span&gt; &lt;/span&gt;1-NF yang telah dibuat sebelumnya, maka atribut bukan  kunci pada table TBFaktur yang tidak memiliki dependensi sepenuhnya dengan  primary key (ID_Faktur), yaitu : “Nama_Petugas”. &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Oleh sebab itu dekomposisi relasi  perlu dilakukan kembali dengan cara :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Mengeliminasi atribut “Nama_Petugas”  dari table TBFaktur&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Membuat tabel &lt;b&gt;TBPetugas&lt;/b&gt;,  menyediakan atribut-atribut yang terkait dengan identitas dan data  pelanggan&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9aumUaI/AAAAAAAAAJI/a1an1Vo2nEk/s1600-h/02.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086478184680411554" style="margin: 0px auto 10px; display: block; cursor: pointer; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9aumUaI/AAAAAAAAAJI/a1an1Vo2nEk/s400/02.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="background: black none repeat scroll 0% 50%; line-height: normal; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Third &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="color: rgb(255, 255, 255);" st="on"&gt;Normal&lt;/ST1:PLACE&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Form (3-NF)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Pada Second Normal Form  (2-NF) atribut yang terkait dengan “Nama_Pelanggan” tidak didekomposisi dari  table TBFaktur karena atribut tersebut masih memiliki dependensi fungsional  dengan primary key (ID_Faktur) karena tiap nomor faktur akan berbeda untuk tiap  pembeli/pelanggan.&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Tetapi pada tahap 3-NF  (Third Normal Form), atribut “Nama_Pelanggan” harus didekomposisi relasi karena  pada tahap ini atribut bukan kunci tidak boleh ada yang berdependensi transitif  dengan kunci primer.&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Atribut  “Nama_Pelanggan” dikatakan berdependensi transitif terhadap primary key  (ID_Faktur) karena :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;ID_Pelanggan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Nama_Pelanggan (Nama_Pelanggan  berdependensi fungsional terhadap ID_Pelanggan)&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;ID_Faktur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; ID_Pelanggan (ID_Pelanggan  berdependensi fungsional terhadap ID_Faktur, karena tiap nomor faktur akan  dikeluarkan untuk suatu ID_Pelanggan tertentu)&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sehingga dikatakan bahwa  ID_Faktur memiliki dependensi transitif terhadap atribut  Nama_Pelanggan&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Berdasarkan  analisa di atas maka diagram relational hasil penerapan Third Normal Form adalah  sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9aumUbI/AAAAAAAAAJQ/9wRdkiD4maI/s1600-h/03.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086478184680411570" style="margin: 0px auto 10px; display: block; cursor: pointer; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9aumUbI/AAAAAAAAAJQ/9wRdkiD4maI/s400/03.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;PENERAPAN BAHASA SQL PADA  REPORT&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="background: black none repeat scroll 0% 50%; line-height: normal; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;SQL yang Digunakan Untuk Membuat Report “Faktur  Pembelian Barang”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;SELECT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;  TBTransaksiDetail.ID_Faktur, TBFaktur.Tanggal, TBPelanggan.Nama_Pelanggan,  TBProduk.Nama_Barang, TBTransaksiDetail.Jumlah, TBTransaksiDetail.Harga,  ([Jumlah]*[Harga]) &lt;b&gt;AS&lt;/b&gt; Total_perUnit, TBFaktur.Diskon,  ([Diskon]*[Jumlah]*[Harga]) &lt;b&gt;AS&lt;/b&gt; UangDisc, TBFaktur.Diskon,  TBPetugas.Nama_Petugas&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;FROM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; TBProduk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;INNER  JOIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; (TBPetugas  &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;INNER JOIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; (TBPelanggan  &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;INNER JOIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; (TBFaktur  &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;INNER JOIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; TBTransaksiDetail  &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;ON&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; TBFaktur.ID_Faktur =  TBTransaksiDetail.ID_Faktur) &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;ON&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; TBPelanggan.ID_Pelanggan =  TBFaktur.ID_Pelanggan) &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;ON&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; TBPetugas.ID_Petugas =  TBFaktur.ID_Petugas) &lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt;ON&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Courier New';" lang="SV"&gt; TBProduk.ID_Barang =  TBTransaksiDetail.ID_Barang;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;keterangan  :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;Pada SQL diatas terdapat  beberapa atribut baru yang dibuat yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Total_perUnit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;, digunakan untuk menghitung total  dari sejumlah jenis barang yang dibeli (Rumus Total_perUnit : Jumlah *  Harga)&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;UangDisc&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;, digunakan untuk menghitung  besarnya potongan harga dari tiap barang yang dibeli (Rumus UangDisc : Diskon *  Jumlah * Harga)&lt;o:p&gt;&lt;/O:P&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Semoga ilustrasi di atas dapat memudahkan dalam  memahami proses normalisasi data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial;"&gt;(c)  dickyrahardi.com, 2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-6402628501117157813?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/6402628501117157813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/memahami-teori-normalisasi-data-melalui.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/6402628501117157813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/6402628501117157813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/07/memahami-teori-normalisasi-data-melalui.html' title='MEMAHAMI TEORI NORMALISASI DATA MELALUI STUDI KASUS'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RpbM9KumUZI/AAAAAAAAAJA/RHRdywFxfuM/s72-c/01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-6597707137649920369</id><published>2007-03-20T21:44:00.000+07:00</published><updated>2007-09-09T14:03:44.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>My Family</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DickyRahardi.Com on Friendster&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;left&gt;&lt;iframe marginwidth="0" marginheight="0" src="http://www.friendster.com/photos/39098379" frameborder="1" height="1000" scrolling="no" width="100%"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/left&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-6597707137649920369?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/feeds/6597707137649920369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/03/my-family.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/6597707137649920369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/6597707137649920369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/03/my-family.html' title='My Family'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-2729296781761075399</id><published>2007-03-20T21:25:00.004+07:00</published><updated>2008-07-16T11:19:09.987+07:00</updated><title type='text'>Post a comment</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DickyRahardi.Com, Forum Diskusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;left&gt;&lt;iframe marginwidth="0" marginheight="0" src="http://dickyrahardi.wordpress.com/2007/03/20/komentar/#nav" frameborder="1" height="550" scrolling="yes" width="100%"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/left&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21974051-2729296781761075399?l=dickyrahardi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2729296781761075399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21974051/posts/default/2729296781761075399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dickyrahardi.blogspot.com/2007/03/komentar-anda.html' title='Post a comment'/><author><name>Dicky Rahardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08031327437262590867</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='9' src='http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/STj5hplBj7I/AAAAAAAAA0U/ppBoTpodm98/s1600-R/173230678m.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21974051.post-1713792090584403394</id><published>2007-03-15T08:52:00.001+07:00</published><updated>2008-12-04T16:10:38.907+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Mendidik Anak Dengan Sistem Barter</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh : Dicky Rahardiantoro&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsJgfSZwo4I/AAAAAAAAALw/ZmH7WEFYe7E/s1600-h/kasihsayang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098743818768917378" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_efqbd91uv14/RsJgfSZwo4I/AAAAAAAAALw/ZmH7WEFYe7E/s400/kasihsayang.jpg" border="0" width="148" height="145" /&gt;&lt;/a&gt;Pendidikan anak merupakan hal yang tidak boleh terlewati dalam agenda keluarga. Di dunia komputer, pendidikan dapat diibaratkan seperti software di dalam hardware. Tanpa dilengkapi software yang handal, sebuah komputer keluaran paling baru dengan perangkat yang canggih hanya akan menjadi hiasan tanpa fungsi. Ketika Anda membeli seperangkat Laptop baru, apakah yang akan Anda kerjakan jika Laptop tersebut tidak dilengkapi dengan software ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah hal yang sangat vital, karena keberadaan faktor pendidikan merupakan bagian dari sikap untuk memanusiakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan anak tidak cukup hanya disekolah saja. Sebagai orangtua kita wajib berusaha memberikan pendidikan mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adalah sekolah pertama bagi anak sebelum ia mendapatkan pendidikan formal di sekolah dan pendidikan sosial di lingkungan masyarakat. Anak merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu  orang tua dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang tua ada yang selalu memenuhi setiap keinginan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Bahkan sebagian anak ada yang protes berguling-guling di lantai ketika keinginannya tidak terpenuhi, jika hal tersebut dilakukan di tempat umum maka akan membuat malu orang tuanya. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi orang tuanya, khususnya posisi ayah. Seringkali kita dapati profil ayah yang sukses dalam karir telah merasa cukup memperhatikan pendidikan anak dengan memenuhi semua permintaan anaknya, menyekolahkan anaknya di sekolahan termahal serta merasa tenang ketika keluarganya dapat tinggal di rumah mewah dengan berkendaraan mobil berkelas. Budaya gengsi menjadi salah satu indikator utama untuk menentukan sekolah pilihan bagi anak2 mereka. Fenomena orang tua seperti ini justru banyak membuat anak menjadi tergelincir, terjebak kepada ketergantungan terhadap harta orang tuanya, prestasi sekolahnya rendah karena merasa selalu aman, salah pergaulan dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru merasa kurang kasih sayang dan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa masalah di atas mungkin pernah kita temui di lingkungan masyarakat, keluarga, sanak famili ataupun terjadi pada keluarga teman dan kerabat kita. Terlalu kasih terhadap anak untuk memenuhi tuntutannya atau terlalu kikir terhadap anak merupakan masalah umum yang terjadi pada kehidupan keluarga. Jalan terbaik adalah jalan pertengahan, tidak kikir tapi juga tidak terlalu bersangatan dalam mengungkapkan kasih sayang berupa harta dan pemenuhan kebutuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi permasalahan di atas, saya memiliki pemikiran untuk menerapkan sistem barter kepada anak. Artinya, sesuatu yang ingin diraih oleh anak haruslah setara dengan jerih payah atau prestasi yang mampu ia capai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya lebih cenderung memilih istilah barter daripada upah ?&lt;br /&gt;Karena istilah “upah” telah banyak digunakan dikalangan umum yang lebih mencerminkan motivasi seseorang untuk mencari uang. Motivasi mencari uang memang bukanlah hal yang jelek, tetapi sangat tidak tepat jika seorang anak meraih prestasi karena uang. Kita harus menanamkan bahwa prestasi adalah bekal terbaik baginya untuk kehidupannya mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “barter” atau “bertukar produk” saat ini jarang digunakan, ini adalah kesempatan kita untuk menjelaskan istilah barter kepada anak. Kita arahkan bahwa sistem barter adalah saling bertukar produk terbaik. Kita tanamkan bahwa seorang anak produk terbaiknya adalah ke-Imanan, ke-Taqwa’an dan prestasi belajar yang baik. Bila ia mampu menunjukkan produk terbaiknya maka orang tua akan berusaha membelikan produk terbaik pula sesuai dengan rizki yang ia peroleh dari Allah. Bila istilah barter terasa kaku maka kita bisa menggantikannya dengan istilah “hadiah” atau dapat juga menyampaikannya secara tersirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika seorang anak minta dibelikan sepeda baru oleh ayahnya maka sebaiknya orang tua memanfaatkan momen tersebut dengan mengajak anak untuk berinstropeksi terhadap prestasi yang sementara ini diraih anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah dapat melontarkan beberapa pertanyaan / pernyataan, misalnya :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ardi ingin sepeda seperti apa ?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kenapa sih kok tiba-tiba ingin beli sepeda ?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan si-anak menjelaskan kebutuhannya tersebut, kemudian kita beri ia penjelasan dan pengertian. Adapun beberapa hal yang perlu kita tanamkan pada diri anak adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Perlunya bekerja dan berusaha untuk mendapatkan uang; &lt;/span&gt;dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak, seorang anak perlu diberi pengertian bahwa tiap lembar uang yang digunakan untuk membeli barang adalah hasil dari proses bekerja dan berusaha. Hal ini perlu ditanamkan sejak dini kepada anak agar anak memiliki gambaran yang jelas tentang perlunya suatu pengorbanan dan usaha untuk memperoleh uang, sehingga anak dapat menghargai nilai uang dan terdidik sejak dini untuk mau bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Pentingnya seorang anak meraih prestasi. &lt;/span&gt;Prestasi belajar anak dan kemampuan / penguasaan terhadap sesuatu hal positif, perlu menjadi agenda penting tiap orang tua dalam memotivasi anak-anaknya. Tanamkan kepada anak kita bahwa tanpa bekerja / berusaha maka tidak mungkin kebutuhan kita dapat terpenuhi, tanpa prestasi maka tidak mungkin kita dapat bekerja dengan baik. Ketika anak sudah mulai memahami apa yang kita maksudkan, maka langkah selanjutnya adalah memberikan penawaran kepada anak, misalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Baiklah, jika memang benar-benar ingin punya sepeda, insya Allah akan ayah belikan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tapi ayah ingin kamu berusaha untuk mendapatkan sepeda itu”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saat ini kegiatan mainmu sudah terlalu banyak dan bahkan sampai-sampai jarang tidur siang, apa jadinya kalo sekarang ini dibelikan sepeda baru?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mungkin saja kamu akan semakin asyik bermain, gak sempat lagi belajar karena sudah kecapekan main”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Alangkah baiknya jika Ardi punya sepeda baru, setelah mampu untuk mengatur jadwal belajar dan bermain”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Seorang anak yang belajarnya teratur dan menyukai pelajarannya, insya Allah ia akan berprestasi dan mendapat rangking”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jadi sebaiknya sepeda barunya setelah Ardi mampu belajar yang baik dan mendapat rangking saja ya...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat penanaman prestasi ini, maka orang tua telah mengajak anaknya untuk melaksanakan sistem barter walaupun secara tersirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Pentingnya menanamkan motivasi yang baik kepada anak.&lt;/span&gt; Motivasi adalah sangat penting, karena baik buruknya motivasi akan berpengaruh pada semangat gerak dan tindakan anak. Ketika anak merasa pesimis terhadap kemampuannya, ketika anak protes terhadap birokrasi orang tuanya, atau ketika anak mulai tidak sabar dengan prosedur yang diberlakukan orang tuanya, maka kepandaian orang tua dalam memberikan penjelasan dan motivasi kepada anak akan sangat penting. Misalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-anak berkata :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mana mungkin aku bisa mengalahkan prestasinya teman-temanku?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mereka sekarang sudah mencapai Iqra’ 3 untuk bacaan Al-Qur’an, sedangkan aku baru Iqra’ 1; mereka sudah lancar membaca huruf latin sedangkan aku masih sering salah”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi psikis yang cenderung pesimis seperti ini, maka dorongan orang tua untuk memotivasi dan membesarkan hati anaknya perlu untuk dilakukan, misalnya :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dulu waktu Ardi lahir, Ardi gak bisa apa-apa, bisanya hanya menangis”&lt;/span&gt;&lt;br /&
